THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Opini»Ironi Hari Ibu


Ironi Hari Ibu
Triana Rohmawati | Ibu Rumah Tangga
Kamis, 22 Desember 2011 00:00 WIB
Berdasarkan pada  Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 Presiden Soekarno menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Penetapan ini dilatar belakangi oleh bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, bertempat di gedung Dalem Jayadipuran, untuk menyatukan pikiran dan semangat perjuangan  menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia.

Kini 52 tahun pasca dekrit presiden tentang penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional, apakah realitas perempuan Indonesia lebih baik atau malah sebaliknya? Secara umum kita melihat realitas kehidupan perempuan Indonesia hari ini masih diwarnai oleh realitas-realitas yang tidak begitu menyenangkan seperti, kekerasan dan diskriminasi  terhadap perempuan, kemiskinan perempuan, tingkat pendidikan yang rendah, eksploitasi kecantikan untuk mempromosikan berbagai produk, dan yang lebih memperhatinkan lagi adalah adanya anggapan bahwa kehidupan perempuan hanya berputar pada kisaran dapur, kasur dan sumur.

Inilah ironi hari ibu, meskipun setiap tahunnya diperingati dan dirayakan ternyata belum dapat mengangkat derajat wanita pada kondisi idealnya, meskipun pada kenyataannya kuantitas perempuan di DPR meningkat yakni 101 kursi dari 650 anggota DPR saat ini atau setara dengan 18,03 %.

Akar masalah
Perempuan dengan segudang masalah yang menimpanya tidak lain karena efek dari system kehidupan yang berlaku dilingkungannya. Misalnya pada zaman yunani kono, perempuan kalangan elit disekap dalam istana, perempuan kalangan bawah diperjual belikan, para istri berada dibawah kendali suami, tidak memiliki hak sipil dan hak waris. Begitu juga Arab pada zaman pra Islam dimana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, Istri menjadi harta waris suami dan perempuan menjadi budak yang diperlakukan semena-mena.

Sementara dalam peradaban China dikenal ungkapan “Anda boleh mendengar pembicaraan wanita, tapi jangan percaya kebenarannya”. Tidak hanya itu, ternyata pada zaman Romawi, perempuan berada dalam kuasa suami atau ayahnya untuk dijual, dianiaya dan dibunuh, segala hasil usaha perempuan menjadi milik saudaranya yang laki-laki, dan setiap transaksi yang dilakukan oleh perempuan harus mendapat persetujuan laki-laki. Begitu juga dengan peradaban Barat (Eropa) dimana perempuan dapat diklasifikasikan sebagai manusia namun ia diciptakan semata-mata untuk melayani kaum laki-laki.

Sistem Kehidupan biasanya terpancar dari “ide dasarnya” tentang kehidupan yang berkaitan dengan cara “mengurai” asal-muasal manusia, alam semesta, dan kehidupan, dan untuk apa manusia dalam kehidupan ini serta akan kemana setelah berakhirnya kehidupan dunia ini.

Bila kita melihat realitas kehidupan saat ini, dengan jelas kita menyaksikan bahwa ide dasar yang menjadi pondasi kehidupan manusia adalah “ketidak konsistenannya terhadap fitrahnya sebagai manusia”, maksud dari inkonsistensi ini adalah pengakuan terhadap sebagian dari naluri manusia dan pengingkaran terhadap sebagian yang lain, misalnya manusia mengakui bahwa dirinya dengan segala potensi kehidupannya adalah ciptaan dari zat yang Maha Pencipta, dan akan kembali kepada Pencipta-Nya, karenanya manusia sadar bahwa dirinya adalah lemah, terbatas dan membutuhkan yang lain.

Namun pengakuan ini  terbelokkan ketika manusia dalam tingkah lakunya berpedoman pada prinsip “manusia yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia”, hal ini didasarkan pada ide dasarnya yang memandang bahwa tatkala manusia diciptakan oleh zat yang Maha Pencipta, maka perannya sebagai pencipta berakhir pada sebatas pencipta saja dengan kata lain manusia ketika diciptakan tidak disertakan seperangkat aturan yang menjadi pedoman bagi manusia tatkala dirinya beraktifitas dalam rangka memenuhi dorongan-dorongan yang muncul dari naluri-nalurinya (naluri berkuasa, naluri seksual dan naluri beragama) maupun kebutuhan dasarnya (makan, minum, tidur, dll).

Inilah realitas kehidupan kita sekarang, dimana aturan mainnya diserahkan pada manusia. Dan inilah yang menjadi sumber segala persoalan hidup kita, dimana sebagian besar laki-laki dan perempuan menjadi mangsa bagi sebahagian kecil golongan laki-laki dan perempuan yang lain.
Solusi Ideal

Manusia yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan idealnya adalah konsisten terhadap fitrahnya sebagai manusia, maksudnya ketika manusia mengakui dengan sadar bahwa dirinya merupakan ciptaan dari Zat yang maha pencipta maka seharusnya segala tindak-tanduknya harus menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan yang telah disertakan oleh pencipta-Nya yang telah dijelaskan oleh-Nya melalui pengutusan yang dipilih dari golongan manusia dengan mukjizat yang dibawanya.

Ternyata ketika kita mengamati berbagai ide dasar tentang kehidupan yang dapat memancarkan sistem kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia hanyalah Aqidah Islam. Realitas dari aqidah islam menjelaskan kepada manusia bahwa asal-muasal dari manusia adalah diciftakan Allah Swt. dan dalam kehidupan dunia terikat dengan ketentuan-ketentuan-Nya karna manusia akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggung jawabkan semua tingkah laku manusia didunia. Aqidah islam pula yang menjelaskan kepada manusia bahwa Rasulullah Muhammad Saw. adalah utusan dari Allah Swt yang membawa “seperangkat aturan” sebagai rambu-rambu atas tingkah laku manusia yang termaktub dalam Al-Qur’anul karim, As-Sunnah, Ijma’ shohabat dan Qiyas.

Tatkala umat manusia pada setiap level (individu, masyarakat dan Negara) menjadikan Aqidah Islam dengan rambu-rambu yang dipancarkannya sebagai “asas” dan “aturan main” dalam kehidupan telah mampu mewujudkan ketentraman, keharmonisan dan keteraturan. Inilah komentar dari Will Durant dalam bukunya “Kisah peradaban, Juz 13, halaman 133 “Aqidah islam telah menguasai hati dan pikiran ratusan bangsa dinegeri-negeri yang terbentang mulai dari China, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol.

Aqidah Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, mempola kehidupannya dan membangkitkan harapan ditengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemulian bagi mereka dan telah menyetukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik diantara mereka

Akhirnya “Semangat hari ibu” hendaknyalah kita arahkan untuk merekonstruksi pemikiran manusia agar kembali pada fitrahnya yaitu sebagai manusia yang menghendaki keteraturan, ketentraman dan keharmonisan dengan cara menghadirkan kembali “Aqidah Islam” sebagai “Asas Kehidupan” dan aturan-aturan yang terpancar darinya sebagai “Rambu-rambu” bagi setiap tingkah laku manusia pada setiap level (individu, masyarakat  dan Negara).

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Ketapang.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close