Penembakan kembali terjadi Kamis sore (5/1), kali ini menimpa sekumpulan pekerja bangunan asal Semarang yang sedang beristirahat dalam sebuah rumah di Aneuk Galong Aceh Besar, setengah jam perjalanan dari Banda Aceh. Sampai tulisan ini dibuat berita yang beredar masih simpang siur, ada mengatakan tiga korban penembakan dalam keadaan kritis tetapi juga ada yang menyebutkan satu tewas dan dua lainnya kritis. Ini bukan perdebatan soal jumlah berapa yang tewas melainkan penulis hendak menyebutkan ini bukan penembakan biasa. Sepertinya ini adalah pembantaian yang telah dirancang secara sistematis.
Lihat saja beberapa bulan belakangan ini di Aceh. Entah kebetulan atau memang terkait, penembakan brutal yang menewaskan sejumlah orang etnis non Aceh terjadi pada masa-masa menjelang Pemilahan Umum Kepala Daerah (Pemilukada). Sehingga ada beberapa orang yang berani menyimpulkan bahwa pembunuhan merupakan aksi untuk memperkeruh suasana menjelang pergantian tampuk kekuasaan di Aceh. Tetapi pejabat pemerintahan baik propinsi maupun pusat dengan serentak menyatakan timah-timah panas tersebut melayang karena motif ekonomi. Bisa jadi ini juga benar mengingat dalam beberapa kasus ada pelaku yang menyampaikan tuntutan berbau fulus.
Entah dari mana awalnya penembakan terjadi, saking seringnya, kemudian melebar ke Aceh Utara, Bireuen, Banda Aceh-ini yang paling mengherankan karena bukan daerah rawan konflik, kemudian sore tadi merambat ke daerah bekas benteng perlawanan pejuang Aceh melawan Belanda yaitu Aneuk Galong Aceh Besar. Parahnya lagi penembakan terjadi dalam selang waktu yang relatif berdekatan. Seolah-olah pelaku harus segera menuntaskan order penembakan dalam waktu yang singkat. Menyedihkan, kejahatan HAM berat seperti ini bisa terjadi berulang-ulang dalam negeri yang telah menabalkan diri pelaksana Syariat Islam.
Ini adalah pembantaian karena memiliki pola dan dilakukan secara sistematis. Pelakunya bukan satu orang yang berada pada satu lokasi saja. Tampaknya mereka diorganisir dengan baik, bisa berpindah tempat dengan cepat dan berada pada lokasi yang berbeda-beda.
Hati penulis merasa sedih, kecut, takut dan marah. Tak tahu apa yang akan penulis nasehatkan kepada teman yang kebetulan beretnis non Aceh. Apakah menyuruh mereka tetap tenang saja atau menyuruh mereka angkat kaki dari Aceh. Selama kasus ini tidak selesai rasa-rasanya sulit memberikan nasehat yang tepat. Penulis hanya berharap semoga penembakan berhenti segera dan para pelakunya tertangkap dan dimeja hijaukan.
Dulu, sebelum penembak misterius merajalela, penulis menganggap aksi koboy, menembak orang lalu melenggang dengan tenang, hanya ada dalam film-film Hongkong atau Hollywood semata. Dalam film-film eksyen tersebut sang penjahat dengan mudahnya mendatangi target kemudian menembak sesukanya dan lalu balik badan pergi ntah kemana. Saat itu penulis tidak yakin apa yang nampak di layar lebar bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan itu berubah sekarang.
Masyarakat ramai-ramai mengutuk pelaku penembakan dan mendesak polisi untuk menuntaskan kasus ini. Mengutuk, mengecam, dan sejenisnya sudah terlalu sering belakangan ini kita lakukan. Apakah kutukan dan kecaman ini sampai kepada pelaku? Apakah pelaku masih bisa makan dengan enak, tidur dengan nyaman, berkumpul dengan anak-istrinya dengan tenang setelah tahu korbannya meninggal dan dianya dikecam dari berbagai penjuru. Saya yakin penembaknya adalah manusia juga tetapi yang saya herankan kemana hati nurani mereka. Setan berhasil menutup mata hati mereka dan bersorak gembira saat timah-timah panas menembus tubuh orang-orang kecil yang mencari sesuap nasi di tanah rencong.
Apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah berdoa agar kasus ini bisa diselesaikan segera dengan harapan tidak ada lagi penembakan di Aceh. Semua orang berhak hidup di Aceh dengan tenang dan damai. Jika ada permasalahan tentu saja bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Seperti kata teman saya, jangan sudah jatuh banya korban baru pihak-pihak yang bertikai berunding. Sungguh mahal ongkosnya.[]