Di tengah — tengah tingkat kesejahteraan rakyat semakin rendah, daya beli masyarakat menurun dan harga emas semakin meningkat. Orang-orang yang mengaku sebagai pelaku gerakan perubahan hanya bisu tanpa berdaya.
Tidak ada lagi suara lantang berteriak menyuarakan hajat orang banyak. Di saat daerah sedang berkecamuk kekisruhan politik, mereka belum mampu memberikan solusi — solusi yang konstruktif untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Belum bisa menawarkan jalan keluar yang bersifat jangka panjang dan bisa ikut mewarnai perpolitikan.
Dulunya selalu bicara arah ekonomi politik masa depan Aceh yang lebih baik, tetapi kini lenyap ditelan oleh hiruk pikuknya kekisruhan politik.
Malah terkesan sekarang semua gerakan perubahan telah ditelan oleh waktu, sedang di kikis oleh keserakahan nafsu kekuasaan. Suara — suara kritis tidak pernah terdengar,, hanya diam seribu kata tanpa mampu berbuat banyak. Semua larut dalam perbedebatan bagaimana secepatnya bisa berkuasa. Mungkin sudah bosan hidup sederhana, bahkan miskin seperti rakyat rasakan kemiskinan itu.
Liberalisasi politik telah menggiring banyak kalangan terjebak dengan konflik elit dalam merebut kekuasaan. Rakyatpun dipaksa tergiring kedalam konflik elit itu demi keserahakan nafsu birahi kekuasaan.
Hal ini juga tidak ketinggalan bagi yang punya suara kritis sudah lenyap ditelan politik kekuasaan. Liberalisasi politik juga membuat orang terjebak dengan lingkaran syetan individualistik. Mereka lupa dengan sejarah yang telah membesarkannya. Sampai harus menggadaikan idealisme demi untuk menaikkan “kelas” ketingkat yang lebih tinggi. Amnesia saat kemewahan menghampirinya, tanpa di sadari berapa banyak yang telah ter-gadaikan ucapan — ucapan “revolusioner” dulu yang telah di kumandangkan.
Kita rindu mendengar kicauan merdu untuk memprotes kebijakan — kebijakan yang tidak pro rakyat. Suara — suara itu sekarang tidak diketahui entah berada dimana, entah sudah tersimpan rapi di dalam sudut lemari, atau telah lenyap ditelan oleh keserakahan dunia politik kekuasaan. Teori — teori kritis kini hanya menjadi penghias kaca lemari tempat penyimpanan buku, atau sebagai koleksi perpustakaan pribadi.
Akhirnya teori — teori tersebut usang dimakan usia, lusuh berdebu tanpa sempat memikirkan untuk membersihkannya karena sedang disibukkan dengan hal-hal pragmatisme.
Suara lantang menggetarkan kekuasaan tidak pernah terdengar lagi saat ini. Tulisan — tulisan tajam mengkritisi pemerintah di media cetak dan elektronik juga tak pernah muncul. Hanya yang muncul pernyataan — pernyataan politik kekuasaan, itupun sangat jarang bisa terdengar.
Apakah ini fenomena baru hancurnya kaum gerakan di Aceh? Pada siapa rakyat harus mengadu saat semua larut dengan kepentingan kekuasaan. Akankah rakyat selalu harus menjadi objek politik, padahal sejatinya suara rakyat adalah suara Tuhan.
Ada lagi yang mangaku sebagai pelaku gerakan hanya terjebak dengan kegiatan — kegiatan seremonial. Belum ada tindakan konkrit untuk melakukan perubahan. Merebut perubahan memang harus ada kekuatan politik, kekuatan politik kerakyatan bukan membangun kekuatan politik dinasti.
Rangkul semua,maka kamu akan besar dan lupakan semua maka kamu akan terterpa oleh angin dan lenyap di telan bumi. Harapan untuk besar sepertinya akan menjadi mimpi indah, kerana sikap politik individualistik telah menghancurkan kebersamaan, telah menghancurkan suatu yang besar.
Harapan bisa menghitung suatu yang besar, namun yang kecilpun belum tentu di dapat. Apakah kita selalu harus mendapatkan recehan, atau ingin suatu yang besar ingin menggapai cita —cita kerakyatan. Cita — cita Bangsa untuk mensejahterakan rakyat menuju aceh yang mandiri dan modern.