Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []
Ied Mubarak - Tema Palestina

Breaking
News

Serambi»Opini»Cintai Aceh Dengan Damai


Cintai Aceh Dengan Damai
Muhajir Juli | Peminat Masalah Sosial dan Politik
Sabtu, 27 April 2013 12:43 WIB

Pertikaian politik pada 2012 berupa lahirnya kembali calon independen DALAM Pilkada Aceh, kemudian dilanjutkan dengan pecahnya kekuatan politik dominan di Aceh kedalam dua faksi yaitu Partai Aceh (PA) selaku faksi lama dan Partai Nasional Aceh (PNA) yang maujud sebagai faksi baru. Kemudian dilanjutkan dengan Pengesahan Qanun Kelembagaan Wali Nanggroe dan dilanjutkan dengan isu pemekaran Aceh menjadi tiga propinsi.

Sengkarut politik kemudian berlanjut dengan lahirnya Qanun Bendera dan Lambang serta banyaknya hibah APBA 2013 yang dinilai tidak tepat sasaran dan cenderung menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan politik kelompok tertentu.

Damai yang telah disepakati pada 15 Agustus 2005 di Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) kembali diwarnai oleh ketidakamanan itu sendiri. Bahkan potensi konflik horizontal semakin laten saja ditengah-tengah masyarakat. Toleransi seketika menghilang. Berubah menjadi rasis, bau amis dendam dan hasut serta penuh kental dengan bau busuk ideologi yang dibiarkan mengalir liar dikalangan grassroot, yang notabenenya juga banyak yang pendek akal dan taklik buta.

Nyawa, hubungan keluarga, persaudaraan sesama Islam menjadi tidak berharga sama sekali. Hubungan persahabatan, tali darah dan ikatan iman seketika putus, bila sudah berseberangan paham politik. Kekuatan mayoritas menindas minoritas dengan begitu kejam. Walau belum maujud dalam kancah bentrok terbuka. Namun kezaliman itu sudah sangat terasa sekali. Bahkan menurut beberapa kalangan, kondisi Aceh hari ini sudah menyerupai masa Orde Baru yang dikenal dengan kata pepatah “Diam itu emas”.

Simaklah pertikaian dua saudara kandung antara PA dan PNA. Walau secara historis kedua lembaga politik ini lahir dari rahim yang sama yaitu GAM yang ikut teken MoU Helsinki. namun kenyataanya permusuhan yang begitu kental diantara keduanya, telah memberikan gambar utuh kepada kita semua, betapa perbedaan kepentingan telah mengabaikan penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan.

Mungkin ditataran elit kedua partai politik ini tidaklah nampak perseteruan yang nyata. Hal ini bisa dilihat dari tidak ada satupun diantara mereka yang saling serang dan saling memaki satu sama lainnya secara terbuka. Bahkan bila berjumpa mereka masih bisa tersenyum dan saling salam.

Namun lihatlah dikalangan pendukung kedua partai lokal ini. Mereka saling memaki. Saling mengancam. Bahkan di dunia maya, dimana ada akun antara kedua pendukung partai itu, maka sumpah serapah, saling mengancam-dengan bahasa sampah tentunya- merupakan pemandangan sehari-hari.

Pemandangan lainnya, hujatan terhadap etnis non Aceh pesisir juga semakin banyak dan semakin kental saja unsur rasisnya pasca adanya kelompok yang menolak bendera Bulan Bintang dan lambang Singa Buraq dijadikan sebagai bendera dan lambang Aceh.

Bahkan ancam bunuh, ajakan melakukan sweeping etnis menjadi isu sehari-hari di dunia maya. Lalu selesaikah sampai disitu? Ternyata tidak, bahkan timbul reaksi baru. Kelompok etnis yang diancam sudah mulai menjawabnya dengan seruan perlawanan. ah, bila saja itu benar-benar terjadi, akan bagaimanakah Aceh ini? Silahkan jawab sendiri.

Kita semua sepakat, bila yang memaki, mengancam dan bahkan pelaku pembunuhan dilapangan bukanlah berasal dari orang-orang “cerdas” di partai. Mereka berasal dari kelompok fanatik yang telah dibutakan oleh ideologi. Bahkan rata-rata tidak pernah mengecap pendidikan tinggi. Kelompok ini juga ditambah oleh anak-anak kemarin sore –yang besar pasca damai” yang tidak mengerti sejarah.

Namun apakah kelompok “liar” ini boleh dibiarkan begitu saja menebar kebencian di atas bumi Aceh ini atas alasan rasa cinta yang terlalu berlebihan? Bagi orang yang masih waras tentu akan menjawab: “Tidak. Mereka tidak bisa dibiarkan. Sebab bila orang bodoh dibiarkan tanpa pemberi arah yang benar, maka mereka akan lebih beringas daripada Singa Afrika,”.

Lagipula sejarah telah membuktikan, bahwa orang-orang bodoh itu hanya akan mengakibatkan kehancuran dimuka bumi. Bukankah sejarah seharusnya menjadi pengalaman dan guru yang paling baik untuk setiap manusia?

Kekosongan Figur Teladan

Mengapa semua pertikaian diatas tidak kunjung reda di Aceh? Mengapa sesama muslim saling tikam menikam di bumi Iskandar Muda ini. Mengapa saudara satu ikatan darah mau saling memaki di tanah yang diklaim “peninggalan auliya” ini?

Semua jawaban bermuara pada satu. Yaitu kekosongan pemimpin yang baik. sepakat atau tidak, muara dari segala pertanyaan adalah  krisis kepemimpinan.

Amatan penulis, kekerasan demi kekerasan di Aceh yang terjadi pasca perdamaian, semuanya dibiarkan mengalir dan tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas. Bahkan bila terjadi kekacauan, maka tidak ada satu pemimpin kelompok pun di Aceh yang mau menjadikan dirinya sebagai fasilitator damai yang benar-benar mendamaikan.

Bahkan sering sekali pula para pemimpin kelompok cenderung membenarkan apapun yang dilakukan oleh simpatisannya dengan dalih: “Itu reaksi dari simpatisan. Mereka tidak ada didalam struktur. Jadi kami tidak bisa menindak mereka.”

Penulis melihat pernyataan demikian, sebagai salah satu upaya provokasi yang secara tersirat membenarkan apa yang dilakukan demi terwujudnya cita-cita organisasi.

Sadar atau tidak, kekosongan pemimpin yang bisa dijadikan contoh teladan menandakan bahwa Aceh sedang berada di era kemunduran. Bahkan bisa dikatakan, inilah zaman dimana ketamaddunan sudah tidak lagi dipunyai oleh bangsa ini. Yang ada adalah praktik politik bar-bar yang menghalalkan segala cara untuk meraih suksesnya misi.

Jalan Keluar

Sengkarut politik di Aceh tidak akan pernah selesai bila terus-menerus menjadikan ideologi kelompok sebagai jalan keluar. Sebab yang namanya ideologi itu sifatnya menumbuhkan fanaitems yang berlebihan. Hanya ada satu hukum didalamnya, yaitu” bahwa hanya idieologi yang dia anutlah yang paling benar. Diluar daripada itu, maka lainnya adalah kesalahan,”.

Nah inilah yang menjadi tantangan. Berharap pada kemlompok akar rumput tentu saja bukanlah solusi yang baik. sebab ideologi kelompok tetap akan digunakan oleh raja-raja kecil, guna untuk tetap menjaga kepentingan. Sebab dengan mempertahankan keyakinan menurut versi masing-masing, maka segala kepentingan akan dapat diraih, walau dengan menghalalkan segala cara.

Cinta. Inilah yang harus ditumbuhkan kepada setiap hati anak bangsa ini. Siapa yang bisa menyemai benih itu? Tentunya para pemimpinlah yang bisa melakukan itu. Bila selama ini, pola yang dimainkan adalah provokasi, maka ke depan mulailah dengan model saling mencintai.

Bukankah sebagai daerah yang mengklaim dirinya lebih Islam dari daerah lain, maka etika Islam haruslah dijadikan patokan.

Allah Swt, dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 telah dengan nyata mengatakan bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Maknanya apa? yang paling mulia dimata sang Pencipta itu adalah mereka yang beriman kepada-Nya. Yang lain? Tentu saja tidak akan berguna sama sekali.

Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkan oleh para pemimpin “kabilah” kepada para pengikutnya.

Akhir dari tulisan ini, penulis ingin mengatakan bahwa “ ideologi kelompok tidak akan pernah memberikan tiket surga kepada kita. Maka nikmatilah segala perbedaan ini dengan nada indah. Yakinlah bahwa kita bersaudara. Gayo, Aceh, PA, PNA, Nasional. Semua itu hanya simbul saja. Bila diibaratkan, semua identitas itu hanyalah sekedar baju dalam saja.

Sejatinya kita adalah manusia yang diciptakan dari unsur yang sama. Dari nenek moyang yang sama serta dari pencipta yang sama. Sikapilah perbedaan dengan cara-cara orang beriman. Sebab imanlah yang akan membawa kita ke taman surga.

Kita harus meyakinkan diri bahwa semua kita disini mencintai Aceh dengan segenap jiwa. Kita ingin melihat negeri ini maju. Makmur, damai dan bahagia. Untuk itu cintai Aceh dengan damai. Jangan brutal. Sebab brutal hanya akan membawa pada kehancuran.

Stop segala permusuhan. Hentikan caci maki. Dan kepada para pemimpin, jadilah pemimpin seperti layaknya Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Jangan jadikan diri seperti pemimpin zalim seperti Firaun, Hitler, dll. Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua. Amin.

Penulis adalah peminat masalah sosial dan politik. Bekerja di Koalisi NGO HAM Aceh.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close