THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Opini»Ada Konspirasi Politik di Aceh


Ada Konspirasi Politik di Aceh
Afifuddin Acal*
Jum`at, 06 Januari 2012 00:00 WIB
Aksi kekerasan yang terjadi akhir — akhir ini di Aceh tergolong terorganisir, terencana dan sistematis. Hal ini terlihat dari setiap aksi kekerasan bersenjata sangat rapi modus operandinya. Penembakan akhir tahun 2011 di Ulee Kareng, Bireuen, dan Aceh Utara hanya berselang beberapa menit. Modelnya sama. Ini semakin membuktikan dan meyakinkan ada konspirasi di balik rangkaian aksi kekerasan bersenjata di Aceh. Tak bisa dipungkiri, kekerasan di aceh saat ini bukan lagi katagori kriminal biasa, tetapi sudah ada mafia konflik yang sedang mengobok—obok aceh.

Rakyat aceh dari dulu terkenal plural dan bisa menerima siapa saja tanpa membeda — bedakan suku, ras, warna kulit maupun Agama. Sekarang Aceh telah dinodai dengan aksi kekerasan/ pembantaian terhadap etnis lain. Ini ada pihak — pihak yang sedang mengadu domba untuk kepentingan tertentu. Karena sasaran penembakan akhir — akhir ini adalah suku jawa yang sedang mencari nafkah di bumi serambi makkah ini dan ini tidak bisa dibiarkan terus terjadi, harus segera dihentikan.

Motif kekerasan terjadi saat ini hampir sama ketika aceh masih dilanda konflik beberapa tahun silam. Sasaran penembakan juga yang menjadi korban adalah suku jawa, padahal belum tentu pelakunya adalah kelompok yang sedang bertikai. Sekarang motif yang sama kembali dipraktekkan di Aceh, seolah — olah aceh ingin dicitrakan bermusuhan dengan etnis lain, khususnya suku jawa. Ini benar — benar praktek politik fasisme yang di pertontonkan pada masyarakat. 

Hal senada juga terjadi saat ini, dimana aceh sedang dilanda konflik regulasi pilkada. Ada kubu yang sedang meminta aceh ditunda dan ada juga yang meminta tetap dilanjutkan. Seolah — olah sedang ada penggiringan opini bahwa yang melakukan ini adalah pihak yang meminta pilkada di tunda. Hemat saya ini tidak mungkin terjadi, karena bila strategi ini dilakukan tidak ada keuntungan secara politik., justru malah sangat dirugikan bagi mereka sendiri.

Oleh sebab itu saya mengatakan ada konspirasi dibalik seluruh tragedi berdarah di Aceh selama ini. Tragedi penembakan pekerja bangunan di Aneuk Galong pada tanggal 5 Februaru 2011 sekitar jam 19.30 semakin menambah bukti ada konspirasi politik. Lagi — lagi korbannya adalah pekerja bangunan yang berasal semarang Jawa Tengah. 

Kita harus sangat berhati — hati, jangan sampai kita diadu domba sesama kita sendiri. Sehingga akan melahirkan konflik antar suku yaitu Aceh dan jawa. Hal inilah yang patut kita waspadai atas tragedi bersenjata di Aceh. Jadi, diharapkan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk arif dan bijaksana menyikapi setiap kekerasan yang terjadi di Aceh. 

kepada seluruh masyarakat baik suku Aceh, Jawa dan lainnya di himbau supaya jangan terkecoh dengan politik adu domba saat ini. Kita jangan sampai tersulut emosi dan termakan provokasi murahan yang sedang dipertontonkan kepada kita. Kita harus bersatu untuk melawan teror yang sedang melanda Aceh . Jangan sampai Aceh kembali melanda bencana sosial. Harus segera dihentikan ladang latihan tembak di Aceh, saatnya aceh harus bangkit untuk melawan setiap kekerasan bersenjata. Bila kita terjebak di tengah — tengah konflik tersebut, nantinya yang mengambil keuntungan adalah kelompok tertentu yang tidak ingin aceh ini damai. 

Kekerasan bersenjata meningkat tajam pada awal masuk tahun 2012 ini harus dijadikan momentum untuk saling merapatkan barisan dan saling menerima setiap perbedaan. Saatnya kita harus bersatu untuk melawan aksi kekerasan tersebut yang telah meresahkan rakyat aceh.

Kepada pihak penegak hukum harus segera bertindak, jangan hanya mengatakan bahwa kekerasan bersenjata di Aceh tidak terkait dengan politik tetapi kecemburuan sosial. Tetapi tragedi demi tragedi tidak mencerminkan seperti diungkapkan oleh Menkopolhukam Joko Suyanto. Kalau kesimpulannya hanya sebatas kecemburuan sosial, kenapa kejadiannya sangat sistematis dan sasaran semua sama saat terjadi. Pelakunya kelihatan bukan satu orang, tetapi memiliki beberapa kelompok yang dengan mudah berpindah satu tempat ketempat yang lain. 

Bukankah ini membuktikan kekerasan di Aceh terskenario dan terencanakan? Bahkan saya sendiri sangat mencurigakan aksi ala koboy ini dilakukan oleh orang — orang yang sangat terlatih dan punya ketrampilan khusus. Oleh karenanya, saya ingin tegaskan bahwa kekerasan bersenjata sekarang bukan motif kecemburuan sosial, tetapi ini ada motif tertentu ingin menggiring aceh konflik sara. 

Makanya, pihak kepolisian sudah saatnya bertindak secara tegas. Jangan hanya melakukan razia senjata api setiap hari. Aksi penembakan terhadap warga sipil terus terjadi dan korban berjatuhan. Jangan hanya menghabiskan anggaran saja, namun tidak ada hasilnya. 

Kekerasan bersenjata terus terjadi dan bahkan sudah bisa dikatakan ini bentuk pembantaian yang dilakukan oleh orang tak dikenal. Apa salah mereka harus dikorbankan? Jangan manfaatkan konflik pilkada dijadikan pembenaran untuk melakukan pembunuhan warga sipil yang tidak berdosa. Jangan juga momentum konflik regulasi dijadikan tempat latihan tembak di Aceh. 

*Penulis Pegiat Sosial Politik Tinggal di Banda Aceh






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close