Banda Aceh — Program Officer Jaringan KuALA, Marzuk menyatakan setidaknya ada tujuh kawasan ekosistem lahan basah potensial dan strategis di Aceh yang patut mendapatkan perhatian serius, terutama dari ancaman alih fungsi lahan dan kawasan.
Ketujuh kawasan ekosistem itu yakni koridor mangrove di Pesisir Timur Aceh di Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Kemudian koridor pantai bervegetasi pohon cemara di Pesisir Barat Aceh di Aceh Besar dan Aceh Jaya, gambut Rawa Tripa di Nagan Raya-Abdya, gambut Rawa Kluet di Aceh Selatan, gambut Rawa Singkil di Aceh Singkil, vegetasi dan pesisir Pulau Bangkaru di Aceh Singkil, dan Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh tengah.
“Ketujuh lahan basah ini harus diperhatikan,” kata Marzuki kepada The Globe Journal, Sabtu (4/1).
Sementara itu Jariangan KuALA Aceh juga akan menggelar beberapa kegiatan selama Februari 2012 sambut hari Lahan Basah Sedunia. Koordinator Media Kampanye Sahabat Laut dalam Jariangan KuALA Aceh, Ratno Sugito mengatakan, untuk mengkampanyekan Pelestarian Lahan Basah 2012 di Aceh akan diadakan beberapa kegiatan kampanye di bulan Februari 2012 antara lain Diskusi komunitas SALUT terkait konservasi spesies kunci lahan basah di Aceh (Penyu).
Kemudian Observasi Mangrove di Banda Aceh dan Aceh Besar, Talkshow Radio Rumoh PMI “Lahan Basah dan Pariwisata”, Pemutaran film documenter Lahan Basah, Malam seni akustik lingkungan “Lagu dan Puisi untuk Pelestarian Lahan Basah Aceh”.
Kampanye penyelamatan Hutan Rawa Gambut sebagai habitat Orang Hutan, Temu Akbar Sahabat Laut (SALUT), Kampanye Peugleh Pasie di Ulee Lheue, Saweu Lhok: mendiskusikan dan mendokumentasikan kearifan lokal panglima laot lhok se-Aceh Besar dalam penjagaan pelestarian ekosistem pesisir.
Kampanye Lahan Basah di Aceh kali ini coba diusung oleh Jaringan KuALA, FORA, WWF, WIIP, Komunitas Sahabat Laut (SALUT) bersama mitra strategis lainnya dengan tema “Bulan Kampanye Pelestarian Lahan Basah Aceh”.
Sebagaimana diketahui Hari Lahan Basah Sedunia pertama sekali dirayakan pada 1997. Sejak itu berbagai lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah dan masyarakat luas di segala level memanfaatkan kesempatan perayaan ini untuk melakukan aksi-aksi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya lahan basah secara umum dan Konvensi Ramsar khususnya. []