
Lhokseumawe — Kejadian atau tragedi lingkungan hidup hingga kini masih terjadi di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Dalam kurun waktu 2010 hingga 2011 saja ada beberapa kejadian yang tergolong serius untuk keberlangsungan manusia dan lingkungannya. Dan, kejadian tersebut terus saja terjadi dari tahun ke tahun.
Hal itu disampaikan, Dahlan M Isa, salah satu pemateri dalam sebuah acara seminar tentang lingkungan hidup di Lhokseumawe, Sabtu (31/12). Menurutnya, beberapa tragedi tersebut seperti kebocoran amoniak PT Pupuk Iskandar Muda, pencemaran merkuri oleh perusahaan Exxon Mobil Indonesia dan kebocoran H2S PT Arun NGL.
Sekedar diketahui, Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas. Amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan.
Sementara itu, merkuri atau raksa merupakan satu-satunya logam berat berwarna putih keperakan dalam bentuk cecair dalam suhu bilik yang cukup berbahaya dan beracun. Merkuri dalam simbol kimianya dikenali dengan Hg.
Selanjutnya, Hidrogen Sulfida (H2S) adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Hidrogen Sulfida juga dikenal dengan istilah Gas Asam (Sour Gas).
“Selanjutnya, bencana banjir, kebisingan industri, kekeringan dan musim ekstrim,” kata Dahlan. “Musim ekstrim diakibatkan karena adanya perubahan iklim. Cuaca dan iklim sekarang kita sulit memprediksinya,” kata Direktur Yayasan Suara Hati Rakyat (Sahara) tersebut.
Menurut Dahlan, ada dua hal yang menyebabkan adanya kejadian tersebut. “Pertama, karena faktor manusia dan yang kedua faktor alam. Faktor alam pun karena ada campur tangan manusia, contohnya, bencana banjir,” sebutnya.
Faktor manusia, lanjut Dahlan, karena sengaja melakukan dengan memikirkan sisi bisnis dan belum adanya suatu pedoman atau aturan daerah yang kuat. Selain itu, tidak ada tindakan tegas sesuai dengan Undang-Undang Lingkungan. “Cara pandang terhadap lingkungan masih sebagai lahan bisnis bukan sebagai titipan,” tandas pegiat lingkungan hidup tersebut.
Sementara itu, katanya lagi, faktor alam pun terdapat korelasi besar anatara kerusakan lingkungan karena tingkah laku manusia. “Lingkungan atau alam sudah labil dan pergantian musim,” ujarnya.
Dahlan menambahkan, masih banyak yang bisa dilakukan dengan cara memulai dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan tersebut. Jika prilaku kita positif untuk kelestarian lingkungan maka orang lain akan mencontoh diri kita.
Cara lainnya, menurut Dahlan lagi, mempengaruhi kebijakan dan advokasi terhadap lingkungan. “Upaya mendorong audit pengelolaan dampak lingkungan terhadap industri serta mendorong tegaknya hukum yang adil untuk pelanggar lingkungan hidup,” demikian Dahlan M Isa.[003]
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas