THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Lingkungan»Minyak, Gas & Batubara Penyebab Perubahan Iklim


Minyak, Gas & Batubara Penyebab Perubahan Iklim
Firman Hidayat | The Globe Journal
Selasa, 15 November 2011 00:00 WIB
Banda Aceh — Negara Indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca secara sukarela. Sedangkan negara maju seperti Amerika, Jerman dan Rusia adalah wajib menurunkan emisi 5 persen setiap tahunnya. Hal tersebut dikatakan senior advisor on Climate Finance dan Carbon Trade, Ismid Hadad di Hermes Palace Hotel, Selasa (15/11) pagi tadi.

Bahan bakar gas paling banyak dibuang dan menjadi panas bumi adalah CO2 atau Carbon Dioksida. Gas ini ditimbulkan dari pabrik-pabrik industri yang membutuhkan sumber energi dari minyak, gas dan batubara. “Ketiga sumber energi itu menjadi biang keladi yang membuat terjadinya panas bumi,” kata Ismid pada acara Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia.

Semua sektor pakai ketiga sumber energi itu. Pabrik industri pakai minyak bumi, gas dan batubara. Industri transportasi pakai bahan bakar minyak. Banyak lagi sektor industri yang sudah sangat ketergantungan dengan ketiga sumber energi itu. 

Bicara soal carbon, hutan dan lahan gambut menjadi tempat simpanan terbesar. Namun jika hutan digunduli, lahan gambut dirusak maka carbon yang tersimpan akan lepas dan mempolusi atmosfir bumi atau lebih dikenal dengan efek gas rumah kaca. 

Negara maju seperti Amerika, Jerman dan Rusia adalah penyumbang emisi terbesar hingga 74 persen. Kemudian emisi terbesar yang dihasilkan negera berkembang seperti Indonesia adalah berasal dari hutan daa lahan gambut. 

Ismid yang juga sebagai pengurus Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Indonesia menyebutkan hasil survey tahun 2005 lalu dimana emisi gas rumah kaca Negara Indonesia berasal dari lahan gambut 46 persen, hutan 38 persen, listrik 6 persen, transportasi 3 persen dan limbah industri hanya 1 persen. “Artinya kalau lahan gambut dirusak, hutan digunduli maka Indonesia akan cepat “kiamat,” lanjut Ismid Hadad.

Diperkirakan emisi gas rumah kaca ini diukur dalam ton CO2, kalau tahun sekarang hanya 2,1 ribu ton CO2 maka tahun 2030 mendatang meningkat menjadi 3,260 ton CO2. Prediksinya industri panas bumi energi seperti kebutuhan listrik akan meningkat, “ini akan menjadi bencana yang semakin banyak,” pungkas Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia era 80-an ini.

Ismid yang juga sebagai tim asistensi Menteri Keuangan sektor perubahan iklim menjelaskan bahwa Indonesia, China dan India serta negara berkembang yang lain akan menurunkan 26 persen emisi gas rumah kaca secara sukarela. “Kita bisa turunkan 41 persen jika negara-negara maju mau membantu Indonesia,” demikian Ismid Hadad. [003]







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close