
Banda Aceh - Perbandingan pemberitaan yang dilakukan oleh media lokal dengan media luar terhadap isu-isu yang berkaitan dengan bencana sangat berbeda. Media lokal memberitakan peristiwa bencana yang tengah terjadi dan tidak pernah meliput berita bencana yang belum terjadi. Hal tersebut disampaikan oleh Programme Officer UNDP DRR-A, Fahmi Yunus dalam Workshop Jurnalisme Hijau, Sabtu (19/11) di The Pade Hotel, Aceh Besar.
Fahmi membandingkan bagaimana media lokal, Aceh, dengan media di Jepang dalam memberitakan isu tentang kebencanaan saat terjadinya bencana. “Di media Jepang, tidak ada jeda sedikitpun tentang pemberitaan saat bencana terjadi. Beda dengan media Aceh yang terlambat hingga 12 jam sampai 1 hari untuk memberitakan saat bencana terjadi,” jelasnya.
Dia juga mengatakan bahwa saat bencana gempa dan tsunami Jepang terjadi, banyak media-media di Jepang berlomba-lomba memberikan semangat untuk bangkit bagi para korban. “Berbeda dengan media lokal yang lebih mengeksplorasi duka dan kesedihan dari korban-korban bencana tersebut,” kata Fahmi.
Begitu juga dengan infrastruktur yang digunakan oleh para media dalam melakukan peliputan. “Di Jepang kita bisa lihat televisi seperti NHK punya infrastuktur yang memadai, seperti helikopter. Jadi mereka bisa langsung pergi ke tempat terjadinya bencana. Berbeda dengan wartawan di tempat kita yang mengandalkan tebengan,” lanjutnya.
Lebih lanjut lagi, Chik Rini dari WWF Indonesia juga mengatakan bahwa para pekerja media di Jepang, serta media-media luar sudah mempersiapkan wartawan khusus dan siap terhadap hal-hal teknis. “Ada wartawan khusus untuk media lingkungan. Kesulitan yang ada di tempat kita ini adalah karena wartawan sering diroker/ditukar. Diluar wartawan itu sudah terspesifikasi dengan baik,”ujar Rini.
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas