Banda Aceh — Sedikit saja hujan di Gunung Tangse, maka kawasan hilir di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie pasti mengalami Banjir. Kondisi ini sudah sering terjadi tapi belum ada perhatian dari pemerintah untuk mengantisipasi bencana rutin ini.
Hal tersebut dikatakan oleh Camat Sakti, Kabupaten Pidie, M. Rizal ketika dihubungi The Globe Journal, Sabtu (07/1) siang tadi. Menurutnya masyarakat sudah tidak panik dengan kondisi ini karena musibah ini sudah sering terjadi di gampong.
“Saya tidak bisa memberi harapan apa-apa terkait kondisi ini. Karena bencana ini sudah menjadi langganan bagi masyarakat,” kata Rizal.
Kalau sedikit saja hujan di Tangse didaerah pergunungan maka sungai di Krueng Reukoh yang menjadi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Keumala itu meluap dan sudah sering mengenangi pemukiman masyarakat. Seperti kejadian banjir yang terjadi pada Jum’at (06/1) pukul 19.30 WIB malam sampai pukul 00.00 WIB dinihari tadi.
Kondisi terakhir, Sabtu (07/1) hari ini, banjir sudah mulai surut. Aktifitas masyarakat sudah mulai normal kembali. “Tapi kalau malam hari hujan, pasti malamnya banjir lagi,” katanya.
Ia mengatakan untuk mengantispasi bencana rutin ini, maka sebaiknya dilakukan pembangunan parit-parit atau selokan di gampong. Kegiatan ini sedang dilakukan di Desa Cumbok oleh bantuan PNPM.
Sementara itu Anggota DPRK Pidie, Suadi Sulaiman menyebutkan banjir yan terjadi di Kecamatan Sakti itu akibat keserakahan manusia yang tidak menjaga kelestarian lingkungan di kawasan hutan.
Hujan sedikit saja, kawasan hilir di Pidie sudah tergenang air. Masyarakat harus menerima banjir kiriman dari Krueng Keumala.
Adapun kawasan yang tergenang akibat meluap sungai Krueng Reukoh itu meliputi Gampong Cumbok Niwa (976 jiwa), Dayah Gampong Pisang (425 jiwa), Gampong Riweuek (509 jiwa), Gampong Langga (825 jiwa) dan Kampusan Perlak Asan (642 jiwa). Data tersebut disampaikan M. Rizal, Camat Sakti.
[001]