NTT — Gunung Anak Ranak di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur berada dalam kondisi siaga. Jika status ini menjadi berbahaya, pemerintah setempat akan mengungsikan 10.000 jiwa masyarakat dalam radius kawasan ancaman.
"Kami sudah beberapa kali melakukan sosialisasi di perkampungan sekitar kaki Anak Ranaka. Juga sudah menetukan stadion di Ruteng sebagai lokasi pengungsian begitu status Anak Ranaka naik ke level IV," tutur Bupati Manggarai Chris Rotok didampingi Wakil Bupati Manggarai Kamelus Deno dan sejumlah pejabat lainnya.
Anak Ranaka hingga Selasa malam masih berstatus Siaga. Namun, getaran gempa selama hari itu khusus gempa dalam mengalami lonjakan hingga 47 kali, tertinggi sejak ditetapkan berstatus waspada atau level II pada Agustus kemarin. Sementara itu, getaran gempa luar hanya sebanyak tujuh kali.
Chris Rotok menjelaskan, jika evakuasi warga harus dilakukan, prioritas utamanya adalah warga Kampung Robo yang kini berpenduduk sekitar 1.200 jiwa di Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i. Kampung itu berlokasi paling dekat di sekitar kaki sebelah utara Anak Ranaka, atau 13 kilometer sebelah timur Ruteng.
Menurut catatan, setidaknya ada enam desa dalam radius terancam dari gejolak Anak Ranaka. Keenam desa itu masing masing Desa Ranaka dan Waeri,i di Kecamatan Waeri'i, Kabupaten Manggarai. Empat lainnya adalah Desa Golo Lobos, Compang Wesang, Bangka Pau, dan Kelurahan Mandosawu di Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur. Keseluruhan wilayahnya terbentang di kaki sebelah utara Anak Ranaka yang letusan perdananya terjadi pada 11 Januari 1988. (Yul-Kompas)