Banda Aceh — Mantan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh periode 2004/2009, Adnan NS mengatakan pemimpin Aceh harus paham dengan kondisi lingkungan hidup di Aceh. “Jangan pilih pemimpin yang tidak paham lingkungan,” kata dia saat menghadiri peluncuran catatan akhir tahun 2011 Walhi Aceh, di Setui Kupie Atjeh, Sabtu (31/12).
Masih menurutnya, pemimpin Aceh banyak yang tidak paham lingkungan. Izin tambang dan konsesi lahan terus diberikan sehingga berakibat rusaknya lingkungan. “Saya tidak katakan siapa pemimpinnya, tapi ada pemimpin di Aceh yang salah mengartikan perdagangan karbon dalam artian bahwa perdagangan karbon itu berupa barang yang bisa dibawa ke Medan untuk diekspor,” kata Putra Aceh Jaya ini memberikan contoh.
Pemahaman pemimpin Aceh itu sudah sangat memalukan dihadapan publik lanjutnya. Apalagi saat itu ada pemaparan tentang perdagangan karbon di salah satu hotel berbintang di luar Aceh. “Saya sebagai putra daerah sangat malu melihat wawasan pemimpin yang tidak paham lingkungan,” kata dia lagi.
Untuk menjaring pemimpin yang paham akan lingkungan, dia menyarankan adanya debat kandidat dalam perspektif wawasan lingkungan para calon kepala daerah yang akan mengikuti pesta demokrasi Pemilukada pada 16 Februari 2012 nanti. "Jangan pilih pemimpin yang merusak lingkungan," tegas Adnan.
Selama ini bupati atau gubernur sangat mudah memberikan izin HGU. Apalagi kalau di Jakarta prosesnya hanya diatas meja. Kalau HPH di Aceh sudah tidak berjalan lagi, dan patut diberikan apresiasi. Tapi masalah HGU ini yang banyak menjadi persoalan terhadap rusaknya lingkungan di Aceh. Tidak saja kekurangan stok air, mata pencaharian masyarakatpun juga sudah terganggu akibat HGU tersebut.
Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh ini juga menegaskan sangat perlu dilakukan uji pemahaman pemimpin Aceh terhadap lingkungan. “Harus dilakukan uji pemahaman ini, kalau tidak silahkan mundur dari calon pemimpin daripada lingkungan di Aceh hancur,” kata dia lagi. [Yul]