THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Kesehatan»Umar Seminggu Dua Kali Cuci Darah di RSUZA


Umar Seminggu Dua Kali Cuci Darah di RSUZA
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Jum`at, 15 April 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Umar Jalil(46) tertunduk lemas diatas ranjang kasur berwarna putih di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin(RSUZA) Banda Aceh, kakinya lurus, kulitnya nampak sudah berkerut, ditangannya dililit dua selang darah yang sedang  keluar masuk darah dalam tubuhnya, Kamis(14/4). Badannya nampak pucat, bibirnya kering saat  menjalani proses pencucian darah akibat penyakit Gagal Ginjal yang dideritanya selama ini.

Laki-laki kelahiran Sigli ini menjalani kehidupannya itu. Pada awalnya berpikir kenapa harus dia yang mengalami penderitaan seperti itu, terkadang dia merasa kurang menerima saja. akhirnya pelan–pelan dia bisa menerima apa yang telah Tuhan kehendaki kepadanya.

 “Yang penting kita jangan berburuk sangka saja kepada Allah,” ujar Umar dengan sorot mata sayu yang agak masuk ke dalam.

Pencucian darah itu sudah bertahun–tahun dilakukannya sebelum tsunami 2004 memporak–porandakan Aceh. Sejak itu Umar sudah mulai berkenalan dengan mesin dealisis yaitu alat pencuci darah. Dimana setelah setengah dari darahnya keluar, kemudian dicuci, dan dimasukkan kembali.

Hal demikian harus dilakukan Umar berulang–ulang, dalam sekali pencucian bisa menghabiskan waktu 4-5 jam. Proses pencucian darah tersebut dilakukannya seminggu dua kali, hari Senin dengan hari Kamis, tidak boleh sekalipun untuk tidak melakukannya, ”Apabila sekali saja saya melewatinya untuk tidak mencuci darah, maka langsung merasakan efeknya, seluruh badan saya terasa sakit,”tutur laki–laki paruh baya itu.

Laki–laki yang bertempat tinggal di Gampong Lam Lom, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, terpaksa harus bolak–balik ke Banda Aceh untuk melakukan perawatan tersebut, karena semua keluarganya di Pidie, dan dia juga harus meninggal dua orang putrinya yang satu masih duduk dibangku sekolah dasar(SD) dan satu lagi sedang menempuh Sekolah Menengah Pertama(SMP), harus ditinggalkan saat berangkat ke Banda Aceh untuk menjalani perawatan mencuci darah.

 “Kadang–kadang mereka kami titipkan di rumah saudara, sesekali dijaga sama adik datang ke rumah,” tutur Umar.

Awalnya sebelum sampai ketahap harus cuci darah, ia menderita Kristal  di ginjalnya, badannya terasa tidak bertenaga, tidak bisa beraktifitas, dan Umar sering kencing darah pada malam hari, ahkirnya dia berkonsultasi dengan dokter, ternyata dokter  mengatakan tidak ada pilihan lain selain harus cangkok ginjal atau cuci darah.

Sementara untuk cangkok ginjal menghabiskan tidak sedikit uang. “awalnya saya saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter, meskipun yang dikatakan itu benar, saya berpikir tidak mungkin saya harus cangkok ginjal atau harus mencuci darah saya,”ujar Umar.

Disamping itu dia terus mencari cara atau berbagai alternatif lain untuk mencari jalan keluar supaya tidak harus cangkok ginjal atau mencuci darah, sampai Umar mencari pengobatan alternatif kampong-kampong, ternyata  tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginannya, meskipun setiap tempat yang ia berobat menjanjikan akan kesembuahanya.

Kemudian Umar bersama istrinya, Jamaliah(40) yang selalu setia menemaninya disaat ia berobat, berangkat ke Penang Malaysia, karena mereka beranggapan di Penang lebih bagus pengobatannya dari pada berobat di Aceh. Mereka sempat berobat beberapa kali kesana, ternyata tidak membuat penyakitnya berkurang, mereka mengatakan tidak ada bedanya disana dengan disini, sama saja seperti perawatan di Aceh.

Jamaliah shok mengetahui bahwa suaminya menderita penyakit tersebut, hampir dirinya putus asa, sehingga mereka tidak memperdulikan meskipun harus berobat ke Penang, ternyata sama dengan apa yang dokter disini bilang, salah satunya jalan harus cuci darah atau cangkok ginjal.

“Akhirnya kami kembali lagi ke Aceh berobat di sini, dari pada disana tidak sembuh juga, yang ada menghabiskan banyak uang,”kata perempuan disamping suaminya.

Selama mereka berobat mereka menggunakan kartu Asuransi Kesehatan (Askes), dengan adanya Askes tersebut, sangat membantunya dalam berobat, meskipun ada beberapa kali merasa kesulitan harus membeli obat diluar karena tidak tersedia di rumah sakit. Jika tanpa Askses, maka sekali cuci darah harus merogoh paling kurang Rp 500.000.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya Askes dari pemerintah, seandainya saja kami tidak ada kartu tersebut, mungkin kami hanya bisa pasrah saja, tidak sanggup untuk berobat sendiri,” ungkap Jamaliah guru MTsN dikampungnya.

Umar mengaku kepada The Globe Journal bahwa terkadang merasa sangat bosan sekali harus menjalani perawatan tersebut, apalagi berulang–ulang, dan harus berbaring ditempat tidur yang hanya ditemani selembar koran. “Kadang sangat bosan, tapi apa boleh buat sudah nasib saya seperti ini,”pungkas Umar nada lesuh.

Disamping itu, Umar juga berharap kepada siapa saja yang merasa iba kepadanya untuk memberi sumbangan ginjal atau membantu biaya operasi ginjalnya, karena untuk operasi ginjal itu menghabiskan uang yang sangat banyak, dan bagi yang berbaik hati boleh hubungi ke nomor HPnya, 085260233402.

Umar juga mengatakan bahwa di Rumah Sakit Umum(RSU) Sigli juga ada Instalasi Dealisia, tetapi tidak berlaku untuk pasien Askes khusus untuk Dealisis. “Oleh karena itu, saya berharap kepada pemerintah untuk memberlakukan Askes di Rumah Sakit Umum Sigli, supaya memudahkannya untuk cuci darah disana, karena tidak jauh dan tidah usah harus meninggalkan anak–anaknya untuk berobat ke Banda Aceh,” harap Jamaliah dan Umar.

Kepala Ruangan Insatalasi Dealisis, Ilyas Jalil S. Kep, selama ini pasien cuci darah yang telah terdaftar di ruang tersebut sebanyak 115 pasien, rata–rata perhari sebanyak 35-38 orang yang sempat kita tampung dalam sehari. Padahal yang datang lebih dari pada itu, karena keterbatasan peralatan dan kekurangan kamar terpaksa mereka harus antri besoknya lagi.

Ilyas mengatakan, penyebab setiap pasien harus mencuci darah itu diakibatkan oleh Darah Tinggi, Kencing Manis, dan Batu Ginjal. “ Oleh karena itu kita harapkan kepada masyarakat untuk cepat–cepat konsultasi ke dokter jika ada gejala–gejala yang demikian, dan tidak boleh makan obat sembarangan tanpa resep dokter karena itu juga akan berakibat buruk untuk kesehatan,”pesan Ilyas kepada masyarakat.

Dia juga berharap kepada Pemerintah Aceh untuk menambahkan ruangan dan peralatan, serta tenaga kerja secukupnya supaya penyakit ini bisa berkurang. [003]






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close