JAKARTA — Penyakit jantung yang diderita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat dokter harus memasang ring di jantungnya. Menurut informasi yang diperoleh SH, jumlah ring yang dipasang sebanyak dua buah.
Pemilik Rumah Sakit Jantung Binawaluya Dr dr Muhamad Munawar Spj(p) K yang dikonfirmasi SH, Kamis (13/10), mengakui bahwa Presiden memang menjalani pemeriksaan jantung di rumah sakit tersebut.
Ia mengatakan, Presiden menjalani tes pemeriksaan lanjutan. “Itu tes lanjutan,” ujarnya. Meski demikian, ia lupa waktu dilaksanakannya pemeriksaan terhadap Presiden.
Ketika ditanya apakah jantung Presiden dipasangi dua ring, ia hanya menjawab, “ehmm...enggak juga sih.” Tapi, ia hanya meminta SH mengecek ke dokter lain yang menangani Presiden. Begitu juga mengenai kepastian waktu pemeriksaan terhadap Presiden. “Tolong dicek ke dokter yang menangani saja,” katanya.
Informasi yang didapat SH, dokter yang menangani Presiden bernama Triatmo. Ia ditemani seorang dokter lainnya.
Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha dan Staf Khusus Heru Lelono membantah bahwa Presiden menjalani pemeriksaan jantung.
“Berita tentang Presiden melakukan operasi jantung seperti yang dimuat Sinar Harapan tanggal 12/10 sebenarnya telah beredar sejak Sabtu pagi lalu. Berita itu sama sekali tidak benar,” kata Heru Lelono.
Heru mengatakan, Jumat (7/10), Presiden melakukan kegiatan rutin di Cikeas dan Istana. Presiden juga melakukan kegiatan pada Sabtu (8/10) dengan para staf khusus Presiden. ”Berita seperti ini seharusnya dikonfirmasi ke pihak yang tepat dahulu oleh media yang akan merilis. Berita seperti ini sungguh tidak boleh gampangan dimuat,” katanya.
Sementara itu, Direktur RS Jantung Binawaluya dr Dewi S hingga berita ini diturunkan tidak dapat dihubungi. Sebelumnya, salah seorang resepsionis mengatakan, pemimpinnya biasanya datang ke rumah sakit sekitar pukul 08.30 WIB.
“Saya tidak bisa pastikan, Pak, pukul berapa pimpinan saya tiba di kantor dan apakah dapat menerima Bapak,” ujar salah seorang resepsionis singkat. Hal yang sama disampaikan pejabat Bagian Umum/HRD RS Jantung Binawaluya, Hendri Pati. Menurutnya, hingga Kamis pagi ini, dia belum berhasil menghubungi dr Dewi S.
“Maaf Pak, saya sudah coba mulai Rabu sore menghubungi Direktur RS Jantung Binawaluya, namun belum juga berhasil,” ujarnya.
Sumbatan
Ahli jantung muda, Dr Andreas Arie Setiawan mengatakan, pemasangan ring (cincin) biasanya dilakukan karena ada penyumbatan atau kerak dalam aliran darah yang membawa oksigen dan makanan pada jantung.
"Otot jantung kalau tidak mendapat pasokan makanan dan oksigen dapat terancam berhenti. Oleh karena itu perlu dipasang cincin (pertutaning intervention) seperti memasukkan selang infus dari pergelangan tangan atau paha menuju jantung," ujarnya.
Pemasangan cincin menurutnya dilakukan apabila sumbatan telah menurunkan kemampuan peredaran darah ke jantung sebanyak 70 persen dan hanya menyisakan 30 persen. Kalau masih tersisa lebih dari 40 persen cukup dengan minum obat saja. "Kalau ada dua tempat yang tersumbat maka akan dipasang dua ring di kedua tempat yang tersumbat," ujarnya.
Seorang ahli jantung yang lain menjelaskan bahwa kalau penyumbatan atau penyempitan terjadi di bagian kiri depan maka akan mengganggu 60 persen aliran darah. Kalau terjadi di bagian kanan maka akan mengganggu 20 persen. Kalau bagian belakang akan mengganggu 20 persen.
"Kalau ada lubang pada arteri maka akan melemahkan. Oleh karena itu harus diketahui berapa sisa kemampuan darah beredar ke jantung. Kalau berlubang 40 persen maka tersumbat 60 persen sehingga harus pasang ring dan untuk meningkatkan menjadi 80 persen. Kalau kurang 20 persen maka harus operasi by pass," jelasnya secara terpisah.
Ia juga menjelaskan bahwa emboli lemak sumbatan bisa jalan-jalan ke bagian lain membentuk emboli yang bisa menyumbat bagian otak yang mengakibatkan stroke. Stroke yang terjadi bisa menyebabkan lumpuh permanen.
"Kemampuan berpikir akan tergantung pada area yang tersumbat di bagian otaknya. Kalau bagian 1, 2 dan 3 akan lumpuh tidak bisa bergerak. Kalau bagian belakang maka tidak bisa melihat. Kalau bagian depan menyebabkan tidak bisa berpikir. Kalau bagian kiri maka tidak bisa mendengar dan bergerak," katanya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam mengatakan, kalau memang benar SBY telah melakukan pemasangan ring pada pembuluh koroner (Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasti) di Indonesia dan berhasil tentu sebaiknya diumumkan saja.
“Ini akan menambah kepercayaan terutama bagi kalangan atas kepada dokter Indonesia, untuk tidak cepat-cepat ke luar negeri,” ungkapnya. [Tutut Herlina/Robino Hutapea/Web Warouw/Heru Guntoro]\