Yogyakarta — Penyebaran HIV/AIDS saat ini besar ditularkan oleh para laki-laki berisiko tinggi kepada para istrinya (hubungan heteroseksual). Dengan demikian saat melahirkan, bayinyapun rentan terinfeksi HIV. Karena itu Komisi Penanggulangan AIDS Nasional memfokuskan pencegahan AIDS pada laki-laki berisiko tinggi.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Juni 2006, jumlah kasus AIDS di Indonesia ada 6.322 kasus. Persentase kasus AIDS pada perempuan 16,9 persen dan pada bayi 2,16 persen. Juni 2011, kasus AIDS di Indonesia menjadi 26.483 kasus. Persentase pada perempuan menjadi 35,1 persen dan pada bayi 4,7 persen.
”Peningkatan itu tidak terlepas dari penularan AIDS melalui hubungan heteroseksual, yaitu 38,5 persen pada Juni 2006 menjadi 76,3 persen pada Juni 2011,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Nafsiah Mboi, di sela-sela Pertemuan Nasional AIDS IV di Yogyakarta, Minggu (2/10).
Menurut Nafsiah, hal tersebut terjadi karena banyak laki-laki berisiko tinggi (LBT), yaitu yang berhubungan dengan pekerja seks tidak menggunakan kondom. Mereka merupakan laki-laki berusia produktif yang bekerja secara terpisah dari keluarga dan berpindah-pindah tempat dalam jangka waktu tertentu.
”LBT sering kali menolak berhubungan seksual menggunakan kondom, padahal para pekerja seks yang paham penyakit menular telah meminta mereka menggunakan kondom,” kata Nafsiah.
KPA Nasional kini menggulirkan program pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual dengan intervensi struktural. (Yul-Kompas)