Jakarta - Sekitar 55% angka kematian ibu disebabkan pendarahan dan pre-eclampsia yang terkait erat dengan malnutrisi atau gizi buruk semasa hamil.
"Kondisi anemia dan kekurangan energi kronis pada ibu hamil berdampak pada kesehatan ibu dan anak dalam kandungan," kata Anggota Divisi Fetomaternal RSCM/FKUI dr Damar Prasmusinto SpOG (K) di Jakarta, Selasa (17/1).
Dampak buruk tersebut, ujarnya, dapat berupa meningkatnya risiko bayi dengan asfiksia (gangguan pernapasan), berat badan lahir rendah, keguguran, kelahiran prematur, hingga kematian ibu dan bayi.
Menurut Damar, faktor anemia dan kekurangan energi kronis itu juga menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan, partus lama, aborsi, dan infeksi. "Ibu hamil malnutrisi berisiko melahirkan bayi berat lahir rendah yang berisiko memiliki IQ rendah dan tumbuh kembang dengan tidak optimal. Hal tersebut akan berisiko terhadap kelanjutan kualitas generasi berikutnya," katanya.
Ia menambahkan, gizi buruk pada saat persiapan kehamilan dan masa kehamilan dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin dan berakibat buruk pada kesehatan janin di masa depan. "Beberapa masalah kesehatan pada ibu hamil meliputi anemia saat hamil, anemia setelah melahirkan, pertambahan berat badan rendah, serta kekurangan energi kronis," ujarnya.
Ketidakseimbangan pola nutrisi pada ibu hamil, kata damar, salah satunya disebabkan oleh kurangnya edukasi nutrisi yang memadai bagi ibu hamil. Selain itu, tingkat perekonomian yang relatif rendah sehingga mempengaruhi kemampuan untuk mendapatkan bahan makanan yang mencukupi dan memiliki kualitas gizi baik.
Sementara itu, Santi Juwita mewakili gerakan @selamatkanibu di media sosial twitter mengatakan saatnya masyarakat tanggap terhadap masalah tingginya kematian ibu melahirkan dan ikut menyuarakan pengetahuan serta berpartisipasi aktif menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia.
Di sisi lain, Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs (Millenium Development Goals) Diah Saminarsih mengatakan kesehatan ibu (hamil dan menyusui) akan menjadi salah satu fokus perhatian pihaknya dalam empat tahun ke depan bersama masalah kemiskinan, gizi, serta akses pada air bersih. []
(mediaindonesia.com)