Makassar — Angka penderita gizi buruk di Provinsi Sulawesi Selatan kian meningkat. Tahun lalu, angka gizi buruknya hanya sekitar 80 kasus. Sementara itu hingga Oktober 2011, penderita gizi buruk Sulsel mencapai 286 kasus.
Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Sulsel, Astati Made Amien mengungkapkan tingginya kasus gizi buruk dipengaruhi sejumlah faktor. Selain pemahaman yang masih minim, penyebab lainnya yakni rendahnya pendapatan yang diperoleh.
Akibat dari rendahnya pendapatan berakibat pada tidak mampu memberikan pangan yang dapat mendukung peningkatan gizi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejumlah upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulsel bersama dengan pemerintah kabupaten/kota.
Diantaranya penyediaan buffer stok di tingkat provinsi dalam bentuk makanan tambahan padat gizi melalui APBN maupun APBD, peningkatan kapasitas sumber daya tenaga kesehatan, serta pemberian mineral mix atau sejumlah vitamin kepada penderita gizi buruk.
Dinas Kesehatan Sulsel mengaku, upaya tersebut memberikan dampak positif. Dari 286 penderita yang ada, sekitar 180 diantaranya dilaporkan telah sembuh.
"Memang ada peningkatan kasus gizi buruk di Sulsel dari tahun sebelumnya, tapi sudah ada sejumlah langkah yang kita lakukan untuk menekannya dan hasilnya cukup berefek," kata Astati saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (13/12)
Dinas Kesehatan Sulsel mengaku tingginya kasus gizi buruk di Sulsel diketahui sejak program kesehatan gratis berjalan. Menyusul terbukanya akses masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya, sehingga Pemprov Sulsel dapat memperoleh data dari puskesmas tentang jumlah penderita gizi buruk.
Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya, pendataan gizi buruk mengacu pada laporan dari kabupaten/kota. Selain itu banyak masyarakat yang memiliki anak terkena gizi buruk namun memilih tidak memeriksakannya karena tingginya biaya.
Nah, bagaimana dengan kondisi anak-anak Aceh? Apakah ancaman gizi buruk di Aceh juga masih tinggi? []
(Yul-Tribun News)