Chicago — Selera humor tentunya bukanlah miliki pelawak saja. Dalam dunia medis, sisipan candaan dan humor sering dijumpai. Dokter dan tenaga medis lainnya sesekali bercanda tentang masalah pasien mereka. Di satu sisi, lelucon tersebut jelas salah. Akan tetapi di lain hal, humor justru bermanfaat bagi pasien dalam kondisi tertentu.
Asisten profesor di Humaniora Kedokteran dan Program Bioetika di Feinberg School of Medicine di Northwestern University Katie Watson mendalami ha ini. Awalnya, keseriusan untuk meriset hal ini tak lebih dari pertanyaan sederhan seorang dokter.
"Apakah salah untuk membuat lelucon?" tanya seorang dokter.
Pertanyaan inilah yang membuat Watson tertarik dan memulai risetnya. "karena ini adalah tentang tekanan moral, ketidakseimbangan kekuasaan antara dokter dan pasien, dan orang-orang yang baik membuat pilihan mengejutkan,” pungkas Watson.
Sementara itu, ada banyak literatur tentang humor dalam pengobatan secara umum, khususnya tentang interaksi dokter-pasien dan manfaat kesehatan dari tawa. Analisis Watson mengacu pada literatur dari ilmu-ilmu humaniora dan sosial pada mengapa humor, termasuk humor "belakang panggung" yang berfungsi sebagai ikatan di antara dokter dan pasien.
Mana contohnya? Humor yang acap kali terjadi di belakang panggung medis salah satunya merupakan upaya mengutak-atik alat-alat tubuh mayat. Hal itu pernah terjadi di beberapa fakultas kedokteran. “Hal itu tak bisa ditoleransi karena menganggap mayat sebagai bahan candaan,” sebutnya.
Sekali lagi katanya, humor dalam dunia medis tetap harus mengikuti etika bercanda yang konstruktif. Sebuah lelucon yang berkaitan dengan kondisi pasien, apalagi jika disampaikan di depan kerabatnya sangat tidak tepat disampaikan. Humor seperti itu berpotensi menyakiti pasien. Akan tetapi humor dalam dunia medis sah-sah saja. (Yul- Medical Newstoday)