Takengen - Beberapa saat setelah detik-detik proklamasi di Lapangan Setdakab Aceh Tengah, puluhan atlit Aceh Tengah peraih medali pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XI Aceh di Bireuen pertengahan Juli 2010 lalu, sontak kecewa berat dari yang seharusnya bergembira. Pasalnya bonus yang dijanjikan Pemkab setempat batal dibagikan sesuai yang dijanjikan, Selasa (17/8).
Menurut salah seorang official cabor yang banyak mendulang medali, Angkat Berat, M Nasir ST, para atlitnya sengaja hadir dari pelosok Aceh Tengah untuk menerima bonus yang sebelumnya diumumkan di papan pengumuman Sekretariat KONI Aceh Tengah bahwa pembagian bonus akan diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 di lapangan Setdakab Aceh Tengah.
“Tapi ternyata yang diberikan hanya simbolik saja kepada tiga atlit dari tiga cabor, sementara yang lainnya tidak diberikan hingga menjelang siang,” ujar Nasir kecewa.
Tidak terima diperlakukan seperti itu, sejumlah atlit dan pelatih langsung menemui Sekretaris Daerah (Sekda), Khairul Asmara diruang kerjanya.
Khairul Asmara didampingi sejumlah pengurus KONI Aceh Tengah menjelaskan bahwa penundaan tersebut bukan berarti pembatalan. Akan tetapi karena ada proses yang tidak selesai terkait prosedur keuangan. Karenanya, Sekda berharap agar atlit dan pelatih bersabar.
Selanjutnya keterangan Sekretaris KONI Aceh Tengah, Hardi Selisih Mara, keterlambatan tersebut karena ada Pengcab yang belum menyerahkan daftar nama atlit dan pelatih yang memperoleh medali. Hardi tidak menyebut cabor-cabor mana saja yang belum menyerahkan data tersebut.
Alasan lainnya kata Hardi adalah karena menunggu Surat Keputusan KONI Aceh tentang atlit yang memperoleh medali.
Awalnya juga sempat berkembang, pembagian bonus akan dilakukan setelah Pengcab mengembalikan Barang/ Peralatan Eks Porprov XI 2010 sebagaimana surat Sekda Aceh Tengah Nomor 426.1/1159/Kesra.
Mendengar penjelasan Sekda, dan Sekretaris KONI tersebut, Zulkifli MD dari Cabor Kempo menanggapi bahwa alasan-alasan tersebut sangat tidak masuk akal. “KONI Aceh Tengah tidak pernah melakukan sosialisasi yang jelas dan konkrit kepada Pengcab terkait urusan-urusan Porprov XI baik sebelum maupun sesudah Porprov,” kata Zulkifli.
Zulkifli mencontohkan surat tentang pengembalian Barang dan peralatan. Sudah ditandatangani Sekda pada tanggal 6 Agustus 2010 lalu, tapi baru diberikan tanggal 17 Agustus 2010. “Parahnya, tanggal 14 Agustus 2010 adalah limit terakhir. Ini kan kerja amatiran namanya,” vonis Zulkifli.
Selanjutnya mengenai hasil pertandingan, harusnya itulah pekerjaan Pengurus Kontingen Aceh Tengah di Bireuen, kata Zulkifli. “Disana ada Panitia Besar Porprov XI yang kerjanya mengupdate data perolehan medali. Siapa saja berhak meminta hasil pertandingan yang ditandatangani technical delegate masing-masing pertandingan dan itu diakui keabsahannya,” tukas Zulkifli.
Sementara menurut Khalisuddin dari cabor Balap Sepeda yang merupakan peraih juara umum dan mendulang medali terbanyak untuk Aceh Tengah, pihaknya selaku pengurus dan pelatih tidak kecewa walau kapanpun bonus tersebut diberikan. “Yang sangat butuh uang adalah atlit yang berasal dari berbagai status sosial dan tingkat pendidikan,” aku Khalisuddin.
Lebih lanjut Khalisuddin meminta agar jangan ada konspirasi adu domba disini. “Dengan kejadian seperti ini yang terjadi adalah suasana yang tidak nyaman antara Pengcab dan Pemda Aceh Tengah, dan antara Pengcab dan para atlitnya,” kata Khalisuddin.
Khalisuddin beralasan, dengan melambat-lambatkan rangkaian urusan yang tidak terlalu rumit dan sudah ada jalurnya tersebut, Pengcab cenderung menyalahkan Pemda Aceh Tengah dan atlit menyalahkan Pengcab yang seakan-akan tidak becus dalam berurusan.
“Ini berakibat tidak baik untuk kemajuan olahraga. Pengurus Kontingen Aceh Tengah jangan kerjanya amatiranlah. Mereka menerima insentif atas pekerjaannya sebagai pengurus Kontingen,” tegas Khalisuddin.
Jika mereka merasa tak mampu, lanjutnya, silahkan mundur saja. “Kami dan kawan-kawan lainnya siap melakukan tugas mengurus olahraga di Dataran Tinggi Gayo bersama Pemda Aceh Tengah sekian kali lipat lebih baik dari yang sekarang,” kata Khalis seraya menambahkan dirinya punya bukti kuat bahwa kepengurusan KONI Aceh Tengah illegal dan melanggar perundang-undangan yang berlaku.
Sementara informasi yang berkembang, jika sampai dengan hari Kamis (19/8) bonus tersebut tidak diberikan maka sejumlah Pengcab, atlit, pelatih dan orang tua atlit akan berdelegasi langsung ke Bupati dan DPRK Aceh Tengah untuk meminta bonus mereka.
[001]