
Ibu mendengar suara orang berbicara dari ruang tengah, ruang tamu. Suaranya terdengar pelan saja, seperti suara orang yang sedang berbicara dengan rekannya. Tapi yang terdengar cuma satu suara saja. Mamak jadi bertanya-tanya, sama siapa orang tersebut berbicara di tengah malam itu? Apa itu orang stress yang suka bicara sendiri? Keesokan harinya baru diketahui secara persis apa yang dilakukan orang tersebut tadi malam. Rupanya ia sedang berbicara dengan temannya di Jakarta melalui telepon seluler, sedangkan dia sendiri berada di Banda Aceh. Ibu baru mengetahuinya ketika menanyakan hal tersebut melalui seorang anaknya yang lain.
Kisah di atas terjadi lebih kurang hampir 7 tahun yang lalu. Saat itu penggunaan telepon seluler atau biasa disebut ponsel belum begitu populer. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membeli ponsel dan berlangganan operator seluler. Biasanya mereka yang menggunakan ponsel adalah pengusaha, pejabat ataupun kelompok kaum “The Have”. Bagi mereka yang telah memiliki ponsel pun sangat membatasi sekali pemakaiannya. Hanya untuk hal-hal yang penting saja pemilik ponsel berkomunikasi melalui “kotak” canggih tersebut. Kalaupun ingin berbicara lebih lama, biasanya pada waktu-waktu tertentu, pada jam tidak sibuk misalnya tengah malam, barulah pemilik ponsel sedikit lega berbicara lama dengan orang-orang tercinta. Belum lagi dengan adanya roaming, dimana orang yang menerima telepon pun dikenakan bayaran. Sehingga sering ada ungkapan dahulu, “tolong jangan telepon aku ya, sedang di luar kota nih”. Kalau tidak dikontrol ketat penggunaannya, bisa bobol dompet saat membayar tagihan. Tapi itu cerita dulu.
Kini penggunaan ponsel telah merambah semua masyarakat dari semua golongan dan semua daerah di Indonesia. Nyaris tidak ada masyarakat di perkotaan yang tidak memakai ponsel. Mulai dari tukang becak sampai saudagar, kepala dinas sampai office boy, semua menenteng ponsel mulai dari yang model sederhana sampai model yang tercanggih. Memiliki ponsel seperti sudah menjadi keharusan. Seorang teman mengatakan mau tidak mau ia menggunakan ponsel karena semua temannya memakai ponsel dan mendesaknya untuk memakai ponsel juga. Biar mudah dihubungi alasannya, walaupun ia sendiri sebenarnya keberatan memakai ponsel, maklum penghasilan masih sangat kecil.
Tarif Seluler Semakin Murah
Fenomena seperti sekarang ini benar-benar tidak terbayangkan di tahun-tahun awal berkembangnya teknologi seluler, tahun 1990-an. Banyak orang beranggapan bahwa teknologi ini tidak akan banyak berkembang mengingat harga handset-nya mahal dan tagihan operatornya juga tidak kalah mahalnya. Harga ponsel termurah masih berkisar satu jutaan dan biaya berlangganan operator seluler mencapai ratusan ribu rupiah dan susah pula mendapatkannya. Bagi sebagian orang saat itu memiliki ponsel adalah mimpi dan untuk mewujudkan mimpi tersebut perlu kerja keras bertahun-tahun. Memiliki ponsel menjadikan gengsi pemiliknya meningkat. Mereka dengan percaya diri meletakkan ponsel di atas meja saat sedang bersantai di kafe-kafe. Sebagian lain akan melirik dengan penuh kagum terhadap pemilik ponsel dan menduga-duga si pemilik pastilah orang yang hebat.
Namun kini berkat kerja keras orang-orang yang ahli dibidang teknologi, maka mimpi tersebut sudah semakin mudah untuk direalisasikan. Para teknologi dan informatika telah merancang berbagai program untuk seluler sehingga harga teknologi tersebut menjadi jauh lebih murah dibanding saat awalnya. Tak perlu menabung bertahun-tahun menyisihkan gaji ataupun harus jadi jutawan terlebih dahulu untuk memiliki sebuah ponsel standar yang sederhana. Sederhana disini maksudnya cukup baik digunakan untuk menelepon dan menggunakan short message service (SMS). Bahkan kini dengan uang lebih kurang Rp.150 ribu, orang sudah bisa membawa pulang satu unit handset plus kartu operator seluler. Hebatnya lagi tidak perlu khawatir untuk menelepon berlama-lama. Tak usah menunggu tengah malam tiba atau hari libur tiba untuk menghubungi orang-orang terkasih.
Menelepon kapan saja dan dimana saja menjadi sebuah pekerjaan yang murah meriah. Apalagi sekarang berbagai operator berlomba-lomba menyediakan paket bicara murah dengan berbagai skema. Atau bosan dengan satu kartu operator, tinggal beli saja kartu perdana operator lain. Malah sekarang operator seluler Telkomsel dengan produk kartu As-nya, membandrol harga 2 ribu perak untuk kartu perdananya.
Mengapa tarif penggunaan teknologi seluler semakin murah? Banyak hal yang menyebabkan teknologi ini semakin murah dan terjangkau. Mulai dari distribusinya semakin meluas, produk yang semakin membanjiri pasar dan kompetisi antar operator yang semakin ketat, menyebabkan murahnya teknologi seluler. Ada hukum ekonomi dasar yang berbunyi “semakin banyak suplai maka semakin murah harga barang”. Ini berlaku di Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar pengguna ponsel di dunia. Teknologi yang diusung oleh berbagai operator melayani pemakai ponsel beraneka ragam sejak awal diterapkan hingga kini. Teknologi tersebut telah mengalami berbagai kemajuan dan penambahan fungsi yang lebih beragam.
Berbagai Teknologi Seluler
Telekomunikasi seluler mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1984, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang paling awal mengadopsi teknologi seluler versi komersial. Teknologi seluler yang digunakan saat itu adalah NMT (Nordic Mobile Telephone) dari Eropa, disusul oleh AMPS (Advance Mobile Phone Sistem), keduanya dengan sistem analog. Teknologi seluler yang masih bersistem analog itu seringkali disebut sebagai teknologi seluler generasi pertama (1G). Pada tahun 1995 diluncurkan teknologi generasi pertama CDMA (Code Division Multiple Access) yang disebut ETDMA (Extended Time Division Multiple Access).
Sementara itu di dekade yang sama, diperkenalkan teknologi GSM (Global System for Mobile) yang membawa teknologi telekomunikasi seluler di Indonesia ke era generasi kedua (2G). Pada masa ini, layanan pesan singkat SMS menjadi fenomena di kalangan pengguna ponsel berkat sifatnya yang hemat dan praktis. Teknologi GPRS (General Packet Radio Service) juga mulai diperkenalkan, dengan kemampuannya melakukan transaksi paket data. Teknologi ini kerap disebut dengan generasi dua setengah (2,5G), kemudian disempurnakan oleh EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Environment), yang biasa disebut dengan generasi dua koma tujuh lima (2,75G).
Pada 2004 mulai muncul operator 3G pertama, PT Cyber Access Communication (CAC), yang memperoleh lisensi pada 2003. Saat ini, teknologi layanan telekomunikasi seluler di Indonesia telah mencapai generasi ketiga-setengah (3,5G), ditandai dengan berkembangnya teknologi HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) yang mampu memungkinkan transfer data secepat 3,6 Mbps. Periode ini ditandai dengan tren melonjaknya jumlah pelanggan GSM di Indonesia. Beberapa faktor penyebab lonjakan tersebut antara lain, karena GSM menggunakan SIM card yang memungkinkan pelanggan untuk berganti handphone tanpa perlu mengganti nomor. Selain itu, ukuran handset juga sudah semakin mengecil, tidak lagi sebesar “kaleng roti”.
Pada 26 Mei 1995 didirikan sebuah perusahaan telekomunikasi bernama Telkomsel, sebagai operator GSM nasional kedua di Indonesia, dengan kepemilikan bersama Satelindo. Sejak saat itu Telkomsel mulai merajai dunia ponsel di Indonesia dengan memperkenalkan produk prabayar pertama yang diberi nama Simpati, sebagai alternatif Kartu Halo pada tahun 1997. Walaupun pada periode 1997-1999 ini Indonesia masih mengalami guncangan hebat akibat krisis ekonomi dan krisis moneter, minat masyarakat tidak berubah untuk menikmati layanan seluler. Hingga akhir 1999, jumlah pelanggan seluler di Indonesia telah mencapai 2,5 juta pelanggan, yang sebagian besar merupakan pelanggan layanan prabayar.
Indonesia & Pemakai Ponsel
Indonesia masuk dalam enam besar daftar negara dengan jumlah pelanggan seluler terbanyak. Mengutip data Wireless Intelligent, hingga semester I tahun 2008, jumlah pelanggan seluler di Indonesia mencapai 116.144.392 nomor. Jumlah riilnya mungkin berkisar 100 juta nomor karena sebagian orang di Indonesia memiliki beberapa nomor. Apalagi peraturan kepemilikan nomor di Indonesia sangat longgar, siapapun bisa membeli kartu perdana tanpa perlu menunjukkan identitas. Pelanggan cukup mendaftarkan dirinya sebagai pelanggan melalui sistem registrasi SMS yang dibenamkan dalam kartu, tidak ada jaminan orang akan memberikan identitas aslinya.
Dunia telekomunikasi dengan cepat berubah pesat. Jika dulu warung telekomunikasi (wartel) menjadi “raja” dalam hal komunikasi sekarang peran wartel sudah hilang digantikan oleh ponsel. Apalagi tarif menelopon sudah semakin murah, dengan hanya seribu perak orang sudah dapat bicara selama 6000 detik atau 100 menit, seperti yang ditawarkan oleh program As-nya Telkomsel. Banyak wartel yang gulung tikar atau merubah usahanya jika tidak ingin tutup. Masa-masa romantisme saat antri di wartel berjam-jam di malam minggu tinggal kenangan. Perubahan cepat ini tidak hanya terjadi dalam hal bagaimana berbicara melalui ponsel namun juga berbagai kemampuan lain pun sudah diintegrasikan dalam ponsel.
Dulu, bermain internet di komputer, mengambil foto dengan kamera, mendengar lagu dengan walkman, merekam pembicaraan memakai tape recorder. Sekarang semua alat-alat tersebut sudah dapat diperoleh dalam satu unit ponsel alias semua sudah terintegrasi di dalam satu kotak kecil saja. Tidak perlu repot membawa semua peralatan tersebut jika membutuhkannya dalam suatu waktu. Sampai-sampai seorang teman berseloroh, sekarang sangat susah mendefinisikan apakah benda tersebut ponsel berkamera atau kamera ber-ponsel. Apakah benda tersebut ponsel dilengkapi walkman atau malah walkman yang dilengkapi ponsel. Menggunakan internet via handphone sekarang sudah jauh lebih mudah dan murah. Ada tarif khusus yang sangat murah dibebankan untuk mengakses internet melalui ponsel. Sambil menunggu lampu hijau menyala di perempatan, kita bisa mengecek email masuk melalui ponsel kecil sederhana yang harganya tidak sampai satu juta. Apalagi menyambut heboh situs pertemanan seperti facebook di internet dimana semua produsen ponsel melengkapi produknya dengan kemampuan akses ke situs pertemanan cukup dengan satu sentuhan pada tombol ponsel.
Sulit mencari orang yang tidak memiliki ponsel hari-hari ini, sama sulitnya dengan mencari orang yang memiliki ponsel ditahun 90-an. Teknologi seluler membuat komunikasi bukan lagi sebuah hambatan dalam kegiatan sehari-hari. Terlebih jangkauan operator seluler sudah mencapai seluruh Indonesia, sebagaimana operator Telkomsel yang menyatakan diri telah masuk ke seluruh kecamatan di Indonesia. Semua orang bisa menghubungi siapapun, dimanapun, kapanpun dengan tarif yang murah. Jika begini adanya, maka kini tak ada lagi jarak dan waktu yang memisahkan kita. (MNA)