TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Sosial » Belajar Tulis Biografi Lokal di ICAIOS

Belajar Tulis Biografi Lokal di ICAIOS
Sabtu, 21 Agustus 2010

Banda Aceh - Biografi tidak harus selalu tentang orang-orang yang menang dan terkenal. Biografi seharusnya juga memunculkan rekonstruksi sejarah secara utuh dengan menampilkan orang-orang lokal yang ikut mewarnai sejarah, bahkan mereka yang dianggap "kalah".

Demikian salah satu pemikiran yang muncul dalam diskusi di hari pertama Kursus Singkat Rangkang Manyang  (masterclass) yang diadakan International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) seperti yang disampaikan kepada The Globe Journal, Sabtu (21/8) oleh Teuku Murdani, Program Officer ICAIOS.

Kursus  "Penulisan Sejarah Lewat Biografi Lokal" yang merupakan kursus pertama dalam Seri Kursus Rangkang Manyang berlangsung 21-23 Agustus di kantor ICAIOS pada komplek Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB), Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.

Tak kurang dari 20 peserta dari berbagai kalangan: akademisi  dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, jurnalis, aktivis LSM, penerbit, mahasiswa pasca sarjana dan mahasiswa tingkat akhir mengikuti kursus yang baru pertama sekali diadakan di Aceh ini. 

Bertindak sebagai instruktur adalah Gerry van Klinken, seorang peneliti senior dari KILTV di Leiden, Belanda. Gerry yang sedang menulis biografi lokal tingkat propinsi di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, datang ke Aceh sebagai relawan tenaga bantuan teknis untuk program penulisan sejarah ICAIOS.

"Saya senang bisa datang ke Aceh untuk menjadi instruktur dalam kursus singkat ini karena Aceh mempunyai sejarah yang sangat kaya. Semoga kursus ini bisa membantu membangkitkan minat dan melahirkan kembali sejarawan Aceh sekaliber almarhum Prof. Dr. M Isa Sulaiman dan almarhum Dr. M. Gade Ismail, yang pernah menjadi teman dekat saya," kata Gerry di awal kursus tersebut. 

Di hari pertama, peserta mendapat pengenalan tentang penulisan biografi lokal. Selanjutnya peserta diajak membuat sketsa biografi dengan mempraktekkannya secara berpasangan di antara peserta. Bagian ketiga adalah latihan membaca biografi dan mengenali sumber-sumbernya secara kritis.

"Pada latihan ini kita akan mendiskusikan episode hidup Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar di seputar pembelotan Teuku Umar kepada Belanda," kata Gerry yang berkewarganegaraan Australia itu. Bagian terakhir adalah tentang genre-genre biografi yang kini sedang populer.   

Direktur ICAIOS, Dr. Saiful Mahdi, M.Sc mengatakan bahwa ICAIOS adalah lembaga riset antar universitas internasional yang mempunyai tiga fokus bidang kajian, yaitu penelitian tentang sejarah dan peradaban Islam, pembangunan pasca konflik, serta perubahan sosio-ekonomi dan demografi di Aceh. 

"Kita ingin ikut memperkuat pembangunan knowledge sector untuk melengkapi pembangunan fisik dan infrastruktur pasca Tsunami dan konflik di Aceh", kata Saiful yang juga dosen FMIPA Unsyiah itu.

Menurut Dr. Saiful, dalam menjalankan berbagai program dan kegiatannya ICAIOS didukung oleh Kementerian Ristek Indonesia, Pemda Aceh, Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, Unimal Lhokseumawe dan sejumlah lembaga dan perguruan tinggi luar negeri seperti KILTV, British Library, ARI-NUS, dan Harvard University.

"Kali ini kita beruntung bisa menghadirkan seorang pakar terkemuka dari KILTV. Semoga kita dapat belajar dengan lebih kritis tentang sejarah Aceh, tentang diri kita sendiri," imbuhnya.(MNA-REL)



Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close