BERANDA » Seni dan Budaya » Seniman Aceh Kupas Budaya dengan Pangdam IM
Seniman Aceh Kupas Budaya dengan Pangdam IM
Zal | The Globe Journal | Senin, 01 Februari 2010
Banda Aceh -Pangdam Iskandar Muda (IM), Mayjen Hambali Hanafiah mengadakan pertemuan kebudayaan dengan Lembaga Budaya Saman di ruang kerjanya, markas besar Kodam IM, Banda Aceh, Senin (1/2). Dalam pertemuan lebih satu jam tersebut, Pangdam menegaskan bahwa TNI di Aceh akan mendukung gerakan budaya dan peradaban di Aceh secara langsung. “Sejarah tentara Indonesia berbeda dengan tentara Negara luar yang hanya menfokuskan pada kemiliteran, TNI punya sisi kemasyarakatan secara luas, jadi kita amat mendukung gerakan kebudayaan yang merakyat, karena TNI juga berasal dari rakyat,” kata Hambali.
Pangdam mengatakan, TNI di Aceh telah punya program tentang festifal seni dan budaya yang berbaur dengan masyarakat dan TNI terlibat langsung sebagai peserta. Kata Hambali, kehadiran TNI di Aceh di masa pimpinannya untuk memperkuat perdamaian yang berbasis kebudayaan.
Inisiator sekaligus Wakil Direktur Lembaga Budaya Saman, Teuku Kemal Fasya, mengatakan, seharusnya dialog kebudayaan lintas kekuasaan di Aceh lebih sering lagi dilakukan agar muncul pemikiran alternatif yang lebih jernih dan berperspektif kebudayaan. "Pimpinan tertinggi legislatif, eksekutif dan militer di Aceh sepantasnya bertemu langsung dan mendiskusikan Aceh masa depan secara elegan, sederhana, dan berkomitmen pada kebenaran,” kata Teuku Kemal Fasya.
Inisiator sekaligus Sekretaris Lembaga Budaya Saman, Musmarwan Abdullah, mengatakan, secara undang-undang, TNI dan masyarakat bersatu, jadi TNI dan masyarakat tidak ada gap. Tapi, kata Musmarwan, karena gap tersebut telah terlanjur ada saat konflik, maka kini image masyarakat terhadap TNI harus dinetralisir sebagaimana penyatuan angkatan tentara dengan masyarakat pasca 1945. “Satu di antara metode penyatuan kembali TNI dan masyarakat adalah melalui pendekatan kebudayaan. Penyatuan yang telah dirancang pangdam kini amat berpengaruh besar terhadap hubungan baik antara TNI dan masyarakat, sehingga perdamaian terus terpelihara di Aceh,” kata Musmarwan.
Manager Musik dan Film Lembaga Budaya Saman, Jauhari Samalanga mengatakan, pendekatan yang diingin masyarakat adalah keseragaman antara sesama penduduk dalam negara, baik itu militer maupun sipil. Kata Jauhari, komunikasi dalam masyarakat harus berdasarkan penguatan budaya.
Pertemuan di ruang kerja Pangdam tersebut terdihadiri para inisiator sekaligus pengelola Lembaga Budaya Saman yakni: Teuku Kemal Fasya, Jauhari Samalanga, Musmarwan Abdullah, Zulfadli Kawom, Suryadi Abdi Darma dan Thayeb Loh Angen.
Sementara inisiator dan pengurus Lembaga Saman yang lain, seperti Arafat Nur, Ayi Jufridar dan Salman Yoga absen karena berada di Lhokseumawe dan Takengon. Demikian siaran pers yang dikirim oleh Lembaga Budaya Saman kepada The Globe Journal, Senin (1/2).[rel/003]
Baca Juga :
Budayawan Indonesia Jadi Juri Lomba Puisi di Banda Aceh
PKS : Best Western Dibangun, Kemegahan Baiturrahman Hilang
Darni Daud : Ini Cuma Peusijuk, Bukan Deklarasi Atau Kampanye
Ketika Jurnalisme Dibungkam Maka Sastra Bicara
Tarian Aceh Meriahkan Malam Tahun Baru di Kalimantan
Komentar Anda