TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Seni dan Budaya » Imlek, Tahun Baru Simbol Kebebasan

Imlek, Tahun Baru Simbol Kebebasan
Reza Fahlevi | The Globe Journal | Minggu, 14 Februari 2010

Banda Aceh - Tahun baru Imlek 2561 telah tiba. Tahun baru Imlek kali ini bertepatan dengan bergantinya tahun shio macan logam. Nuansa merah simbol-simbol Imlek sudah menjadi pemandangan umum di sejumlah pusat keramaian seminggu terakhir, seperti di Pasar Aceh, Banda Aceh.

Bagi Ketua Yayasan Wihara Dharma Banda Aceh, Yuswar, kebanggaan merayakan Imlek selama sepuluh tahun terakhir begitu berbeda dengan Imlek pada Orde Baru. Tentu saja, karena sepuluh tahun terakhir (sejak kepemimpinan Abdurrahman Wahid pada 2000) Imlek dirayakan dalam udara kebebasan.

Imlek kini menjadi perayaan yang eksistensinya sejajar dengan tahun baru lainnya di mata negara. Seperti tahun baru nasional dan tahun baru Islam, Imlek tidak lagi menjadi perayaan sembunyi-sembunyi di balik rumah masing-masing Tionghoa. Imlek 2561 adalah simbol sepuluh tahun pengakuan Indonesia atas identitas etnis Tionghoa.

"Sekarang kebanggaan itu lebih kepada bangga karena kebudayaan Iata juga dimiliki oleh bangsa ini. Kami pun lebih bisa mengeksplorasi kebudayaan Tionghoa yang semula begitu ditekan bahkan berusaha dihilangkan," kata Yuswar di sela-sela perayaan imlek di Wihara Dharma, Minggu dini hari.

Sedikit kilas balik, ucap Yuswar,pada masa pemerintahan Soeharto, simbol-simbol Tionghoa hukumnya haram. Bahkan, pencabutan identitas etnis Tionghoa, pada masa itu gencar dilakukan dengan penggantian nama-nama Tionghoa dengan nama pribu-mi."Yang berani menampakkan kebudayaan Tionghoa akan ditangkap saat itu," ujarnya.

Namun, seiring waktu dan kebijakan penguasa, kebudayaan etnis Tionghoa kini begitu akrab dengan warga pribumi. Bahkan, bahasa Mandarin yang semula dilarang keras, justru menjadi salah satu bahasa yang banyak dipelajari oleh kaum pribumi.

Antropolog dari Universitas Syiah Kuala, Anwar Yusuf, beberapa waktu lalu menuturkan, meskipun ditekan kebudayaan etnis Tionghoa tetap akan bertahan. Hal itu karena kultur mereka berorientasi kepada budaya leluhur yang dipegang kuat.

Bahkan, dalam interaksi budaya, kultur Cina cenderung akan "menguasai" secara perlahan tetapi pasti di tempat haknya. Meskipun ada inovasi budaya, nilai-nilai khas etnis Tionghoa tidak mudah dihilangkan. "Ini berbeda dengan kebudayaan Sunda misalnya. Ketika mereka merantau, identitas mereka akan melebur bahkan hilang," sebut dosen tersebut.

Simbol-simbol budaya etnis Tionghoa dalam Imlek pun sekarang begitu dikenal termasuk oleh kaum pribumi. Lampion merah, buah-buahan, hingga kue keranjang sudah begitu identik dengan Imlek. Berbeda dengan tahun baru lainnya, Imlek memang sarat akan simbol bermakna.
Kue keranjang misalnya, rasa manisnya menyimbolkan kebaikan. Sifat kue liat menggambarkan persaudaraan yang kuat.

Buah-buahan yang sering disajikan pun seperti delima, jeruk, dan pisang menyimbolkan makna-makna tertentu. Delima, si buah banyak biji menyimbolkan pengharapan etnis ini untuk memiliki banyak keturunan. Buah jeruk atau srikaya adalah simbol kekayaan. Pisang dan apel adalah lambang kemakmuran.

"Tak hanya jenisnya, jumlah buah yang disajikan pun harus selalu ganjil, tiga atau lima. Akiun mengatakan, jumlah yang genap berarti pas (pas-pasan), tetapi ketika jumlah itu ganjil akan berarti lebih.

Di sini berarti, diharapkan pada tahun baru yang akan dijalani akan banyak kelebihan dalam kebaikan yang didapat. Kesemua simbol tersebut, pada intinya sejalan dengan makna perayaan Imlek itu sendiri. Tahun baru artinya memperbaiki diri dengan lembaran harapan dan tindakan yang baru," jelas Anwar.

[001]



Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close