Takengen - Forum LSM Aceh Tengah (FLAT) bersama Dewan Kesenian Aceh Tengah (Dekate), mewacanakan kegiatan budaya dengan nama Expo Budaya Leuser 2010 yang akan dilaksanakan pada tanggal 26-31 Maret 2010 di Lapangan Musara Alun dan Gedung Olah Seni Takengon. Rangkaian kegiatan budaya ini antara lain Pagelaran Seni, Pameran Potensi Daerah, Pameran benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Linge, Bazar dan Seminar Nasional. Demikian pernyataan Ketua Panitia kegiatan, Purnama K Ruslan kepada wartawan, Sabtu (6/3) di Takengon.
Dikatakan Purnama, kegiatan budaya ini akan diikuti oleh 6 Kabupaten/ Kota yang berada di kawasan Leuser yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya diantaranya : Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Singkil, Kabupaten Bener Meriah dan Kota Subulussalam.
Rencananya, kegiatan budaya ini akan dibuka secara resmi pada tanggal 28 Maret 2010 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Dirjen Kesbangpol Depdagri.
”Kita mengundang Gubernur Aceh Drh Irwandi Yusuf, MSc, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Hambali Hanafiah dan Kapolda Aceh Irjen Pol Drs Adityawarman,” jelas Purnama.
Untuk diskripsi kegiatan, lanjut Purnama, pagelaran / gebyar seni akan menampilkan kesenian ciri khas 6 kabupaten / kota, akan ditampilkan selama dua hari berturut-turut mulai tanggal 28 — 29 Maret 2010, dan untuk menambah semaraknya kegiatan, didalam rangkaian ini akan dilaksanakan pawai budaya keliling kota Takengon.
”Kita juga mengadakan seminar nasional dengan mengangkat tema Menelusuri Sejarah Emas Peradaban Kawasan Leuser yang menghadirkan nara sumber antara lain Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI sebagai Keynote Speaker, Dirjen Kesbangpol Depdagri Bapak Tanribali Lamo, Prof. DR. Mestika Zed (Guru Besar Unand Padang), Prof. DR. Aliyasa Abu Bakar (Guru Besar Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry), Prof. DR. Ridwan Lubis, MA (Guru Besar UIN Jakarta), DR. Muchlis Paeni (Ketua Sejarahwan Indonesia), Prof. DR. M. Dien, A Majid (Guru Besar UIN Jakarta), Ketut Wiradyana (Ketua Tim Penelitian Balai Arkeolog Medan) dan beberapa narasumber lain,” rinci Purnama yang juga ketua Dekate ini.
Untuk kehadiran Ibu Hj Linda Amalia Sari Gumelar, SIP (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI), Purnama berharap dapat menjadi pemacu peningkatan peran perempuan yang ada di kawasan Leuser agar mampu berkarya dan berdaya guna dalam bidang pembangunan ekonomi dan untuk menghapus trauma akibat dari dampak konflik yang pernah terjadi sebelumnya.
Kegiatan ini terinspirasi dari perlunya pengungkapan sejarah, papar Purnama. Kawasan Leuser tepatnya di Burni Bius Kabupaten Aceh Tengah pernah menjadi Ibu Kota (Pengendali Pemerintahan) Republik Indonesia pada saat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Syarifuddin Prawiranegara tahun 1948. Bukti Sejarah ini hampir terkuburkan karena masih minimnya pengungkapan peristiwa PDRI dan peran utama Radio Rimba Raya serta belum adanya upaya menjadikan”bunker” Burnibius menjadi salah satu situs sejarah nasional karena telah berperan menjadi “Penyelamat Republik Indonesia”.
Disamping itu masih rendahnya penggalian sejarah Kerajaan Linge yang merupakan kerajaan tertua di Aceh dan tertulis dalam catatan sejarah nusantara. Benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Linge tersebut saat ini kondisinya belum tersatukan akibat belum adanya Museum Kerajaan Linge dan dikhawatirkan apabila tidak ada kepedulian dari pemerintah maka bukti sejarah kerajaan Linge akan terkuburkan.
Menurut Purnama, situs sejarah Ceruk Mendale yang terletak di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, sebelumnya pernah heboh. Pasalnya, tim arkeologi dari Balai Arkeologi Medan (Balar) yang dipimpin Lucas dan Ketut, menemukan batu kapak persegi yang absolute berusia 3500 tahun silam. Bahkan Ketut Wiradnyana, pemimpin penggalian arkeologi beberapa waktu lalu pernah menyatakan, sejarah Indonesia harus direposisi dengan penemuan peradaban neolitik di Ceruk Mendale. Tetapi saat ini lokasi Ceruk Mendale tidak terawat, bahkan dirusak dengan bulldozer dan tanah dari lokasi Ceruk Mendale dikeruk untuk dijadikan tanah timbun. Sangat disayangkan, karena kurangnya kepedulian dari pemerintah, telah mengakibatkan rusaknya situs yang diharapkan bisa memperjelas catatan sejarah Indonesia masa lalu.
”Selanjutnya dalam catatan perjalanan sejarah nusantara, kawasan Leuser telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir Islam yang diakui dunia pada masanya dan pejuang kemerdekaan walaupun sampai saat ini belum mendapat gelar Pahlawan Nasional diantaranya Syech Abdurauf Al Singkili, Hamzah Fansuri, Kolonel Muhammadin, Aman Dimot, Inen Mayak Teri dan masih banyak tokoh lain yang sangat perlu kita angkat sosoknya sebagai suri tauladan bagi generasi muda saat ini” ungkap Purnama.
Terkait lingkungan hidup, dijelaskan Purnama, kawasan Leuser yang didalamnya terdapat Taman Nasional Gunung Leuser, telah menjadi asset internasional karena merupakan paru-paru dunia. ”Pembangunan di kawasan ini harus dilakukan lebih spesifik ke arah pelestarian lingkungan, sehingga perlu penataan kembali tata ruang pembangunan yang terjadi saat ini, dengan mengoptimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki kawasan Leuser ini,” pungkas Purnama. (MNA)