
Banda Aceh - Perdamaian Aceh yang telah dirajut selama lima tahun diharapkan menjaga suatu perdamaian yang menjadi harga mati bagi masyarakat Aceh. Pembangunan dinilai akan terhambat jika perdamaian tidak terwujud. Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, ketika berceramah di hadapan jamaah Isya dan Tarawih di Mesjid Raya Baiturrahman, Sabtu (21/8).
"Ketika masa konflik, apabila melewati pos-pos keamanan TNI dan Polri sering terpampang tulisan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Begitu juga jika masuk ke hutan di markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dijumpai kata-kata merdeka harga mati. Namun, setelah perdamaian terwujud, kini saatnya masyarakat Aceh menjadikan perdamaian sebagai harga mati," tukas Irwandi dalam ceramahnya.
Menurut Irwandi, menjaga perdamaian adalah kewajiban kolektif seluruh masyarakat Aceh. Hukumnya fardhu 'ain bagi warga Aceh dalam menjaga damainya Aceh. Akan tetapi, semua pihak jangan berpuas diri terhadap perdamaian yang telah ada, karena masih banyak tantangan yang akan dihadapi masa mendatang yakni mengenai pembangunan dan kesejahteraan.
Dia menyampaikan, dengan adanya perdamaian, pembangunan Aceh akan mudah dijalankan. Perdamaian lagee nyo na keuh nikmat dari Allah SWT yang patot tajaga. Hana damee, hana peumbangunan (Perdamaian seperti ini adalah nikmat dari Allah SWT yang patut dijaga. Tiada perdamaian, tiada pula pembangunan-red). Apabila nikmat perdamaian disyukuri dengan menjaganya, maka kenikmatan lainnya akan terus ditambah. Sebaliknya, bila nikmat perdamaian dilanggar, kerusakan lain akan terjadi.
"Seluruh masyarakat harus menjauhkan diri dari suatu sikap yang dapat mencederai perdamaian. Dengan momentum Ramadhan, diharapkan kesadaran menjaga kedamaian terus meningkat," himbau Irwandi kepada para jamaah.