TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Pendidikan » ARTI Tutup, ICAIOS Akan Lanjutkan Misi Peneliti

ARTI Tutup, ICAIOS Akan Lanjutkan Misi Peneliti
Jum`at, 02 Juli 2010


Banda Aceh - Aceh Research Training Institute (ARTI), sebagai sebuah program peningkatan kapasitas riset di Aceh yang didanai pemerintah Australia lewat AusAid, telah menyelesaikan tugasnya untuk mendidik para peneliti muda di Aceh selama lebih dari tiga tahun. Lebih dari 500 orang sudah ikut program pelatihan penelitian ARTI. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti para dosen muda berbagai PTN dan PTS di Aceh, pegawai pemerintah, serta penggiat LSM.

Leena Avonius yang menjadi team leader ARTI selama ini mengucapkan terimasih kepada Pemda Aceh, Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan UNIMAL yang selama ini sangat komit membantu program-progam ARTI. 
“Program ARTI dengan resmi ditutup pada 30 Juni 2010, tapi semangat ARTI akan dilanjutkan oleh ICAIOS” sebut Dr. Leena dalam sambutan makan malam “Friends of ARTI and ICAIOS’ Dinner” di Hermes Palace Hotel, 29 Juni malam.

ICAIOS adalah Pusat Kajian Internasional tentang Aceh dan Lautan India atau International Center on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), yang didirikan oleh para peneliti senior nasional dan internasional. Unsyiah, IAIN dan UNIMAL adalah tiga stakeholder penting pusat kajian antar universitas bertaraf internasional ini 

Sedangkan direktur ICAIOS yang baru, Dr. Saiful Mahdi, M.Sc mengatakan bahwa ICAIOS ke depan akan melanjutkan semangat ARTI untuk terus meningkatkan kapasitas penelitian dan peneliti di Aceh. “Aceh punya sumber daya manusia yang makin baik dan laboratorium alam untuk penelitian tentang sejarah dan peradaban Islam, pembangunan pasca konflik, perubahan sosio-ekonomi dan demografi  yang sangat potensial untuk terus dikaji.“ kata Saiful Mahdi yang juga dosen Unsyiah itu. “Ketiga tema ini akan mewarnai kajian-kajian ICAIOS ke depan,” tambahnya dalam sambutan menjelang jamuan makan malam yang juga diikuti peneliti muda dalam dan luar negeri yang selama ini memanfaatkan fasilitas ARTI dan ICAIOS. 

Sementara itu, perwakilan dari tiga universitas dalam sambutannya masing-masing menyampaikan dukungan dan komitmennya untuk kelanjutan progam ICAIOS kedepan dalam rangka membantu universitas mencetak akademisi yang berkompeten dalam melakukan berbagai kajian.

ICAIOS akan terus bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala untuk memperkuat penelitian dalam bidang yang pernah menghasilkan pakar-pakar seperti Dr. Alfian, Dr. Isa Sulaiman, Dr. M. Gade Ismail yang pernah dimiliki Aceh. PPISB, sebelumnya dikenal dengan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PLPISB) Unsyiah  pernah harum namanya di era 70 hingga 80-an dan ikut mewarnai lahirnya pakar tentang Indonesia seperti Prof. Michael Leigh (Australia), Prof. William Liddle (AS), dan pakar pada level nasional dan internasional lainnya.

Prof. Yusni Sabi yang hadir sebagai salah seorang yang berperan aktif dalam menginisiasi pendirian ICAIOS mengatakan bahwa kini saatnya Aceh beralih dari pembangunan fisik kepada pembangunan intelektual.” ICAIOS yang akan mengambil alih tongkat estafet untuk mendidik para peneliti muda Aceh dimasa yang akan dating, sehingga Aceh dan Indonesia bisa berpikir beyond physical development atau tidak sekedar pembangunan fisik. Turut hadir dalam acara tersebut para pakar dari luar negeri, para akademisi dan pimpinan tiga universitas ternama di Aceh (Unsyiah, IAIN, dan UNIMAL), perwakilan dari Pemda Aceh, para peneliti ARTI dan ICAIOS, serta tamu dan undangan lainnya. (MNA-REL)



Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close