TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Opini » Mahasiswa Aceh-Mesir Terima Beasiswa Pendidikan

Mahasiswa Aceh-Mesir Terima Beasiswa Pendidikan
Zahrul Bawady M. Daud. | Senin, 29 Juni 2009
Sejumlah besar mahasiswa Aceh yang sedang mendalami ilmu di berbagai universitas di negeri seribu menara memperoleh bantuan dana pendidikan dari pemerintah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bantuan yang diserahkan kepada mahasiswa yang sedang menempuh jenjang pendikan sarjana dan pasca sarjana itu

Bantuan dana pendidikan tersebut merupakan bukti konkrit kepedulian pemerintah Aceh dalam membangun sumber daya manusia sebagai tali penyambung tercapainya syariat Islam yang kaffah di bumi Aceh.

Pembagian bantuan itu dilaksanakan langsung oleh pengurus Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Republik Mesir yang bertempat di sekretariat kekeluargaan dimana mahasiswa Aceh itu bernaung.

Panitia pembagian dana pendidikan tersebut menyebutkan bahwa khusus untuk mahasiswa Aceh yang sedang melanjutkan pendidikan di Mesir secara keseluruhan memperoleh bantuan berjumlah Rp.431.750.000 atau U$.38.013,00-. Dana tersebut kemudian dibagikan kepada 153 mahasiswa strata 1 dan 11 mahasiswa pasca sarjana. Sementara itu, menindak lanjuti peraturan yang dibuat secara internal oleh lembaga yang berdasar asas kekeluargaan ini, mahasiswa yang tidak mendapat bantuan dana pendidikan diberikan pula bungong jaroe(takaful) yang dipotong dari penerima beasiswa setelah melalui kesepakatan bersama.

Hal ini dimaksudkan agar nantinya seluruh anggota KMA yang menurut data terakhir berjumlah sekitar 350 orang dapat merasakan langsung perhatian pemerintah melalui dana pendidikan ini.

Bagi mahasiswa S 1 yang memperoleh jatah penuh mendapat bantuan senilai $ 180/L.E. 1000 setelah dipotong iuran wajib KMA. Sedangkan bagi mahasiswa yang sedang menempuh program magister atau doctoral masing-masing memperoleh bantuan $ 320/L.E. 1760.

Walaupun agak terlambat, bantuan ini disambut haru oleh sebagian mahasiswa yang sedang menikmati liburan musim dingin ini. Yusri Noval Syukri, Lc., ketua KMA menyebutkan bahwa bantuan itu sejatinya dapat diterima beberapa pekan lalu. Namun terpaksa ditunda karena rekening bendahara Kedutaan Besar Republik Indonesia yang menjadi wadah pengiriman beasiswa ini sedang mengalami alih kuasa karena terjadi pergantian bendahara di pusat perwakilan negara Indonesia tersebut.
Akhirnya baru pada tanggal 12 februari 2009 kemarin bantuan itu dapat dicairkan

Krisis ekonomi dunia pada dasarnya turut pula dirasakan Mesir. Hal ini sangat berpengaruh kepada kondisi keuangan sebagian besar mahasiswa Aceh yang sedang menuntut ilmu di bumi para nabi ini. seiiring melonjaknya harga barang di Mesir, meningkatnya nilai tukar dolar juga berpengaruh kepada pemasukan mahasiswa Mesir. Betapa tidak, mereka yang mengandalkan pengiriman uang dari Indonesia harus mengalami dua kali pertukaran mata uang. Kondisi ekonomi Indonesia yang masih melembem sangat mengkhawatirkan bagi keuangan mahasiswa Aceh di sana.

Tgk. Salman Nurdin, Lc.. Mahasiswa Al-Azhar Kairo yang sedang menempuh studi magister spesialisasi ushul fikih menyebutkan, walaupun bantuan dana dari pemerintah ini terbilang sangat minim untuk mampu menunjang kehidupan mahasiwa selama setahun, namun beliau merasa bersyukur atas perhatian pemerintah dan tidak lupa beliau berharap agar ke depan badan yang berkompeten dalam pengurusan beasiswa ini bisa mempertimbangkan untuk meningkatkan nominal dana bantuan tersebut. Hal ini menurut beliau secara langsung akan membawa pengaruh dalam proses studi mahasiswa di sana.

Kalau kita mengkalkulasikan kebutuhan dana mahasiswa di Mesir, maka uang sejumlah L.E. 1000 hanya akan bertahan selama lebih kurang tiga bulan. Belum lagi jika dihitung dengan kebutuhan kuliah di masa tahun ajaran baru. Oleh karena itu, segenap mahasiswa Aceh sangat mengharap perhatian pemerintah secara khusus dalam menangani masalah ini, apalagi merujuk UU sisdiknas, pemerintah Aceh mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari pendapatan daerah. Jika menarik kepada tahun 2008 dimana diperikirakan pemerintah Aceh menerima pendapatan paling kurang 7 triliun, maka I,4 triliun dari jumlah tersebut harus benar benar dialokasikan untuk pendidikan, termasuk memberdayakan putra daerah yang sedang menuntut ilmu di luar negeri.

Maka sungguh aneh jika ada fakta yang membuktikan bahwa anggaran dana pemerintah Aceh lebih sementara dana pendidikan yang diberikan masih sangat minim. Kenyataan ini seharusnya harus menjadi fokus pemerintah Aceh dalam membangkitkan kualitas keilmuan masyrakatnya dan sebagai salah satu usaha nyata membangkitkan penegakan syariat Islam di Aceh yang membutuhkan manusia yang mumpuni dalam hal imtak dan iptek.

Dari :
Zahrul Bawady M. Daud.
Pengurus KMA 2008-2009
Mahasiswa Al-Azhar Universiti. Jurusan Syariah Islam.
Data di atas adalah valid. Mungkin bisa ditampilkan sebagai berita. Terima kasih atas segala perhatian.


Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close