TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Opini » Aceh Krisis Pemimpin dan Gamang

Aceh Krisis Pemimpin dan Gamang
Razi - razi27@rocketmail.com | Senin, 29 Juni 2009
ACEH, KRISIS PEMIMPIN dan “GAMANG”¯ kegamangan ini punya terlihat jelas oleh pemimpin2 nya di Pemerintahan;

 
Pemerintahan aceh diam disaat kondisi kegamangan perpolitikan kini menjelang pemilu, lihat saja para kanda-kanda mantan aktivis-aktivis yang kini mengapit IR-NA DIAM, tak punya ide ttg demokrasi dan hilang orientasi perjuangan (apa krn kesibukan paket2 yang dishare sebagai jatah pihak yang mengaku2 penjasa aceh (mantan pejuang senjata dan demontrans pasca referendum) sebut saja TIM penagih janji pemenagan IRNA, kini mengasistensikan diri bersama cs-nya dipemerintahan provinsi dan kab/kota).

Pemimpin2 aceh diam tak bergeming dan tak punya ide pencerahan buat rakyatnya yg pernah dikorbankan nyawa dan harta atas nama demokrasi, keadilan, refendum. Persoaalan kian menumpuk dan berlarut-larut ditambah lagi persoalan reb-rekon aceh dengan ragam masalah,

kuntoro sebagai ketua bapel dan gubernur aceh juga sebagai wakil bapel BRR selama 4 tahun berdiri. Namun, pemimpin yang dipilih denga jalur model demokrasi modern buah perdamaian, eh baru sadar ketika sebuah film yang pernah ikut dimotorinya hingga pada akhirnya ditontonya terbit sebuah tulisan \\\"THE END\\\", baru keluar teriakan Lantang,.seolah2 mengungat ke orang2 bahwa dia tidak bersalah selama pembuatan film tersebut.

karena Aceh terlena dengan uang dan kemewahan yang hanya atas nama saja. sedih....

Lain lagi ceritanya “CSO dan ROMO-nya CSO”¯ menarik diskusi ttg forum konferensi cso yang digiring ke arah kepemilikan dan klaim2 oleh lembaga2 besar yang katanya punya jaringan dan banyak lembaga bernaung dibawah mereka (lembaga jaringan) untuk membuktikan pasca BRR habis mandat, mereka akan mendapatkan induk semang dengan relasi2nya brr (berusaha menjadi gaya kontraktor untuk lembaga didaerah yang masih bergeliat).

Melihat trend ini khan ada cambur tangan-nya pengaruhnya tim komunikatornya brr (yg kebanyakan adalah relasi romo-nya petinggi cso di aceh). ini adalah skenario akhir ketika brr akan lepas landas dari Aceh. mereka sudah dapat penghargaan dari para romo-nya cso aceh.
Terlepas dari sisi negative pasti juga ada niat baik romonya cso bahwa ingin menunjukkan ada ucapan terimakasih dari Aceh kepada pihak2 yang telah membantu aceh selama ini.

jika acara konferensi tersebut banyak pihak ingin menelusuri mengenai sumber dananya dari mana itu merupakan urusan dapur masing2 lembaga (toh kita terkadang kurang peduli dgn kondisi social di aceh).biarkan kreatifitas mereka untuk berbuat sejauh masih dapat dipertanggungjawabkan.

Dan paska rekonstruksi ada semangat ingin mempersatukan persepsi dengan tujuan yang sama, walau telat sadar utk membangun kembali semangat gerakan yang sempat pudar. lantaran modal sudah mulai berkurang. namun,
setidaknya Ada wacana untuk kemandirian cso yang belum dapat dibuktikan, bagaimana ingin mandiri juga kalau asap tidak mengepull didapur. Begitulah kira2 yang harusnya menjadi konsern ksiapaun bahwa Aceh berada dalam kegamangan,..dengan situasi tahun 2009 ini (BRR habis, donor2 pergi, kondisi menjalng pemilu memanas,) dan berdekatan dgn takeoff nya brr yang sudah jauh2 hari disiapkan mendekati moment pemilu, trik lama indonesia kan.)..

namun, banyak pihak sebenarnya tidak fair, khusunya Media juga terkadang tidak dapat menangkap makna peristiwa2 yg tersirat dalam kondisi kekinian aceh..coba saja simak bahasanya jurnalis media,..

ini juga mungkin autokritik buat kwn2 jurnalis yg pro ke pemilik media (pemilik modal) juga tidak pernah ada yng melakukan kritikan atas kinerja kalangan media/jurnalis,..apakah karena media sebagai komunikator dianggap paling benar..?? ini juga perlu kajian bersama, ada juga kalangan media datang pada acara2 diskusi tertentu yang diundang tp lebih memilih diam (maaf apakah kita sudah membudaya kategori 5 D: Duduk, Dengar, Diam, Dapat, Duit) padahal cukup banyak informasi yang dpt dishare ke acara2 diskusi yg dihadirinya karena mereka juga berada dilapangan.
Jangan2 ataukah?? hanya ingin menulis berita saja maaf pengakuan beberapa teman2 di media mereka hanya dibayar per berita Rp 20-35 ribu...

Dari chek dan ricek kecil dgn bebrapa jurnalis dan diskusi2 yang sering digelar banyak kalangan media hanya jadi pendengar budiman dan menulis berita, (jeut notulen mantoeng). Nah apakah mental kejar berita ini yg lebih penting..??. yang hanya utuk peningkatan opllah untuk pemilik modal.

Namunjj, saya yakin masih banyak teman2 cso, jurnalis yg idealis.. lain lagi dunia Kampus yang tiarap total,kalau ada demo itupun untuk \\\'orderan\\\' tertentu. banyak agennya¦ semoga dapat menjadi renungan bersama, afwan jika banyak menyinggung perasaan banyak pihak¦ namun ini buat kita semua krn banyak pihak ingin mewujudkan aceh yg lebih baik.

 

wallahualam..

razi


Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close