
Bireuen - Empat dari enam atlit tinju Bireuen yang mengikuti kejuaraan piala bupati Langkat Medan Sumatera Utara yang berakhir Jumat (29/4) malam berhasil meraih satu perak tiga perunggu. Sementara Edi Wibawa, petinju Bireuen yang turun dikelas 54 Kg dinobatkan sebagai petinju favorit.
Sementara tiga petinju Bireuen lainnya yang berhasil meraih medali perunggu yakni, Faisal kelas 51 Kg, Wahyudi kelas 57 Kg serta Fakrurazi kelas 60 Kg senior.
Kejuaraan tinju yang diikuti 150 petinju se-Sumatera yang berlangsung di GOR Langkat itu ditutup bupati Langkat, Ngogesa Sitepu pada malam final Jumat (29/4) malam berlangsung meriah dan disesaki penonton.
Hal itu dikatakan Jhoniful Bahri pelatih tinju Bireuen setibanya dari Langkat Sabtu (1/5) Disebutkannya, malam final, tuan rumah Langkat A berhasil memboyong juara umum, dan Riau sebagai tim tinju terbaik, untuk petinju terbaik, Anto Hutajulu dari langkat A, Petinju harapan jatuh kepada Bambang Murdiono dari Asahan Medan, sedangkan Edi Wibawa, petinju Bireuen dinobatkan sebagai petinju Favorit.
"Pertandingan final, Edi Wibawa dari Bireuen yang turun dikelas 54 Kg harus mengakui keunggulan, Anton Hutajulu, petinju tuan rumah yang mendapat dukungan dari penonton setempat,"katanya.
Meskipun demikian, lanjutnya lagi, penampilan petinju asuhannya sempat membuat petinju tuan rumah itu kalang kabut setelah beberapakali mendapat pukulan telak Edi Wibawa hingga menyudut ditali ring.
Dalam laga itu,terang Jhoniful Bahri, petinju tuan rumah, Anton Hutajulu berhasil merebut emas, dan Edi Wibawa hanya menggondol medali perak, tapi karena Edi Wibawa bermain dengan semangat tinggi dan bertinju dengan baik dan disukai penonton terutama bupati setempat, maka Edi Wibawa dinobatkan sebagai petinju Fovorit,
Pelatih tinju Bireuen, kepada wartawan Sabtu (1/5) mengakui, usaha yang dilakukan atlit tinju Kota Juang luar biasa demi mengharumkan Kabupaten Bireuen, meskipun pemerintah dan KONI setempat mengabaikan bantuan dana saat keberangkatan.
“Keberhasilan yang diraih oleh atlit tinju Bireuen tidak hanya di Langkat, tapi hampir seluruh kejuaraan yang diikuti di sejumlah Provinsi di Indonesia selalu membawa pulang medali. Namun keberangkatan ke Langkat, kami terpaksa menggadaikan sepeda motor karena tidak satu rupiah-pun dibantu oleh pemerintah dan KONI Bireuen, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dan itulah Bireuen yang sebenarnya”, pungkasnya dengan nada kesal. (MNA)