
Banda Aceh - Aksi perambahan hutan terus terjadi di Aceh meski berbagai upaya telah dilakukan. Berdasarkan catatan Yayasan Leuser Internaional (YLI) melalui Proyek Hutan dan Lingkungan Aceh (Aceh Forest and Environment Project/AFEP), sepanjang 2006-2010 hutan seluas 45.373 hektar, terutama di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), telah digunduli pembalak liar.
Ecosystem Manager and Action Project Leader AFEP, GV Reddy, mengungkapkan, dari pantauan yang dilakukan terdapat 5.394 kasus yang terjadi baik pembalakan liar maupun perambahan hutan. Dari kasus sebanyak itu, sekitar 17.082 ton kayu ilegal telah ditebang lewat pembalakan liar dengan jumlah kasus mencapai 3.122 kasus.
Sedangkan aksi perambahan hutan yang ditemukan ialah 2.274 kasus dengan luas hutan yang dirambah 45.373 Ha. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Jika terus dibiarkan akan membuat hutan Aceh habis dan bencana akan terus datang setiap tahun.
Berdasarkan pantauan citra satelit (foto satelit), lanjut Reddy, hampir setiap tahun luas hutan Aceh yang dirambah semakin luas di sejumlah wilayah, terutama di wilayah kawasan Barat-Selatan hingga ke Tengah-Tenggara.
"Karenanya, lewat program AFEP dan berbagai program lain yang dilakukan YLI, kami berusaha menyelamatkan hutan Aceh dari kepunahan," ujar Reddy kepada wartawan di Banda Aceh, Senin (12/7).
Upaya yang dilakukan itu, menurutnya, dengan melakukan reboisasi. Dari 3.000 hektar yang ditargetkan, telah terealisasi seluas 1.057 hektar. Tahun ini akan dilakukan lagi reboisasi hutan seluas 700 hektar.
Selain itu, YLI terus melakukan berbagai upaya, seperti memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat sekitar hutan akan pentingnya masa depan hutan itu bagi keselamatan hidup masyarakat di masa mendatang.
Reddy yang didampingi Direktur Program YLI, Prof Yuswar Yunus, dan Wakil Ketua Pengurus YLI Debra Yatim, mengatakan, guna memperkenalkan pentingnya hutan Leuser bagi masa depan Aceh dan dunia, YLI menerbitkanan buku ajar Leuser tingkat SMP yang menjadi muatan lokal.
Buku ini disiapkan secara eksklusif oleh tim ahli dengan masukan dari guru lokal sekitar KEL. YLI telah menerbitkan buku ajar Leuser dari tingkat SD, SMP dan SMA sejak 2001. Program ini untuk mendukung pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah sekitar KEL.
Pada 2009, YLI menyosialisasikan penggunaan buku ini dan melibatkan 32 guru mewakili kabupaten yang masuk dalam KEL seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Kota Subulussalam, Aceh Barat Daya, dan Nagan Raya.
"Mereka diharapkan menjadi fasilitator di kabupaten masing-masing untuk melatih 500 guru lainnya mengenai pentingnya pelestarian lingkungan," ujar Yuswar.(MNA-ANALISA)