
Banda Aceh - Sebanyak 300-an peserta terdiri para dokter spesialis dan perawat dari seluruh Indonesia dan luar negeri, akan menghadiri konferensi nasional dan pertemuan ilmiah dua tahunan II kesehatan jiwa Islam Indonesia, pada 29-31 Juli 2010 di Banda Aceh.
Tiga peserta dari Malaysia sudah memastikan kehadirannya termasuk seorang pembicara pada simposium ilmiah, yaitu Prof DR dr H Mohamed Hatta Shaharom, dari University College of Medical Science, Malaysia serta dr Andrew Mohanraaj Psi dar Filipina.
Rencananya, konferensi nasional tersebut akan dibuka oleh Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) drg Naydial Roesdal, Kamis (29/7) malam di sebuah hotel berbintang di Banda Aceh. Acara juga akan dihadiri Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar.
Ketua pelaksana dr Syahrial SpKj, mengatakan, pertemuan ini akan membahas masalah seputar kesehatan jiwa. Kegiatan ini juga akan merangkum perkembangan kesehatan jiwa di seluruh Indonesia.
Menurut dia, ditunjuknya Provinsi Aceh sebagai penyelenggara konferensi tersebut tidak terlepas dari program bebas pasung yang dicanangkan Pemerintah Aceh pada tahun ini. Ia menilai konferensi ini dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh dalam menangani pasien, karena banyak hal yang akan dibicarakan dalam konferensi, khususnya penanganan kesehatan kejiwaan Islami.
Menghilangkan Stigma
"Dengan konferensi ini diharapkan akan mampu menghilangkan stigma bahwa rumah sakit jiwa bukan hanya melayani mereka yang kurang waras, tetapi seluruh masyarakat yang merasa mentalnya terganggu," ujar Syahrial.
Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama antara Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh dan Forum Studi dan Komunikasi Kesehatan Jiwa Islam Indonesia (FSK-KJII) Wilayah Aceh. "Semua komponen dilibatkan, baik kalangan medis, ulama dan elemen sipil lainnya, sehingga memiliki pemahaman sama dalam memberikan pelayanan bagi pasien menderita kejiwaan dengan pendekatan spiritual," jelasnya.
Direktur RSJ Provinsi Aceh, Drs H Saifuddin Abdurrahman SMPH, M.Kes menyatakan, konferensi ini diharapkan memberikan masukan yang berarti bagi seluruh para petugas medis di RSJ. Pendekatan nilai spiritual dalam penanganan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, sangat dibutuhkan selain penanganan medis yang dilakukan selama ini.
"Kita harapkan acara ini memberikan kontribusi yang baik sebagai upaya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pasien yang mengalami kejiwaaan dengan terus melakukan pendekatan spiritualitas," ujarnya.
Apalagi, berdasarkan data yang ada sebanyak 15,81 persen dari total 4,6 juta penduduk di Provinsi Aceh dilaporkan mengalami gangguan jiwa baik kategori berat maupun ringan atau yang dikenal dengan penderita schizofrenia.
Berdasarkan survei yang dilakukan, untuk penderita gangguan jiwa berat di Aceh sebesar 1,8 persen atau hampir 100 ribu penduduk dan berada di urutan nomor dua nasional setelah DKI Jakarta. Sedangkan penderita gangguan jiwa ringan mencapai 14,01 persen, keempat tertinggi setelah Jawa Barat, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. (MNA-ANALISA)