

Jakarta - Pembawaan yang kalem dengan tutur kata yang sopan, menjadikan jabatan Jubir Kepresidenan bidang luar negeri terasa pantas disandang Teuku Faizasyah. Siapa sebenarnya pria yang akrab dipanggil Faiz ini?
Pekan lalu, sosok ramah itu masih memberikan press briefing di Kementerian Luar Negeri. Pria Aceh kelahiran Bandung, 23 Oktober 1964 ini memang belum resmi berkantor di Istana Negara untuk menggantikan tugas Dino Patti Djalal sebagai juru bicara RI 1.
"Belum ada Keputusan Presiden (Keppres). Saya bantuin Pak Dino, jadi jubir sementara (bidang luar negeri). Sifatnya magang sama Pak Dino," ujarnya dengan canda usai pertemuan dengan Fraksi Christlich Demokrastiche Union-Christlich Soziale Union (CDU/CSU) Parlemen Jerman dengan Presiden SBY, beberapa waktu lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah akan menjadi Staf Khusus Presiden bidang Luar Negeri menggantikan Dino Patti Djalal. Adapun Dino akan meninggalkan Indonesia menempati pos barunya sebagai Dubes RI di AS yang berkedudukan di KBRI Washington DC pada awal September 2010.
Namun, hingga kini, belum ada serah terima jabatan dari Dino ke Faiz.
Ditanya tentang tugas baru yang akan diembannya, pria yang beberapa kali terlihat dalam perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia, Kanada, Turki, dan Arab Saudi ini, menyatakan kesiapannya, "Insya Allah, apabila memang diberikan kepercayaan. Tentunya posisi ini merupakan amanah yang tidak ringan," ujarnya.
Faiz, memang memiliki banyak pengalaman di bidang diplomasi. Pendidikan sarjananya diraih dari fakultas Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung pada 1989. Karir sebagai diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) diawali sejak 1991.
Ketika itu, ia menjabat sebagai staf Sub Direktorat Amerika Utara di Direktorat Amerika, hingga 1992. Faiz kemudian memutuskan untuk memperdalam ilmunya di bidang internasional dengan mengambil gelar Master of International Studies University of Birmingham, Inggris, pada 1993.
Tahun berikutnya, ia menjabat sebagai Ketua Pelaksana Sub Divisi Pariwisata ASEAN di Biro Ekonomi ASEAN, pada 1994-1995. Kemudian dilanjutkan ke luar negeri sebagai staf ekonomi di Kedutaan Besar RI (KBRI) Washington selama tiga tahun berikutnya.
Ketika masa krismon atau tahun 1998, Faiz adalah Kepala Sub Divisi Data, Riset dan Pengembangan Ekonomi, hingga 2000. Ia kemudian memutuskan kembali memperdalam ilmunya, dengan meraih gelar Doctor of Philosophy dari University of Waikoto, Selandia Baru.
Tak lama, pria berkacamata ini didaulat menjadi Kepala Sekretariat Penasihat dan Utusan Khusus Presiden RI pada 2003-2004. Pada saat bersamaan, ia adalah Kabag Penyajian Masalah Polsoskam di Biro Administrasi Menteri hingga 2005.
Lagi-lagi Faiz mendapatkan kesempatan untuk berkarir di luar negeri. Ia ditunjuk sebagai Kepala Divisi Politik pada KBRI di Pretoria, Afrika Selatan. Per 14 April 2008, Faiz dilantik sebagai Kepala Biro Administrasi Menteri (BAM) pada 14 April. Secara fungsional, Kepala BAM mengemban tugas sebagai jubir Deplu. (MNA-INILAH)