
Banda Aceh — Warnanya mempesona, indah dipandang dan mempunyai beragam jenis bentuk. Ia masuk dalam kelompok hewan yang bermacam-macam spesies. Beraneka ragam hayati bahari betah hinggap atau berada di sekitarnya. Itulah terumbu karang yang kerap disebut coral reef . Warnanya yang beragam membuat mata kita tak terbelalak untuk memandangnya. Keindahan dunia bawah laut seperti itu dapat ditemukan di salah satu kawasan di Aceh Besar, tepatnya di Gampong Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada.
Pagi itu sekitar pukul 09.00 WIB, Sabtu (31/7), belasan jurnalis baik dari media cetak dan eletronik, dari Aceh maupun nasional beserta beberapa aktivis lingkungan telah berkumpul di sebuah lembaga yang giat mendeklarasikan konservasi ekosistem laut. Yayasan Lamjabat (YL) nama lembaga itu, berlokasi di Ujong Pancu. Kumpulan tersebut bukanlah untuk senda gurau, tapi untuk mengamati biota laut yang masih tersisa di kawasan laut setempat.
Semua peserta diajak untuk melihat secara langsung kondisi kehidupan laut di Ujong Pancu saat ini dengan peralatan snorkel, peralatan selam berupa selang berbentuk huruf J dengan pelindung mulut di bagian ujung sebelah bawah. Alat ini berfungsi sebagai jalan masuk udara ketika bernafas dengan mulut tanpa harus mengangkat muka dari permukaan air.
Pemandangan bawah air bisa dilihat sambil berenang dengan wajah menghadap ke permukaan air dan bernafas melalui snorkel. Penyelam bisa mengambil nafas dalam-dalam sebelum menyelam ke bawah air. Penyelam scuba menggunakan snorkel untuk menghemat udara di dalam tabung sewaktu berenang di permukaan air. Sedangkan aktivitasnya disebut snorkeling atau selam permukaan atau selam dangkal (skin diving) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel. Selain itu, penyelam sering mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong pada kaki.
"Siapa yang belum mengerti cara menggunakannya?" tanya M. Arifsyah Nasution, selaku Ketua Jaringan KuALA (Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh). Arifsyah dengan berpakaian ala pecinta alam lalu meminta kepada para peserta snorkeling untuk berkumpul di tepi pantai Ujong Pancu untuk mendapat sedikit arahan mengenai cara penggunaan alat tersebut.
Dengan suara lantang seorang pria muncul layaknya sebagai komando. Ia kini menjabat sebagai Koordinator Tim Laut YL dan sering disapa dengan panggilan Mawi, bernama lengkap Darmawi Musni. "Sudah siap semuanya kan. Kita bagi dua tim supaya dapat menyesuaikan kapasitas penumpang dengan dua buah boat yang telah disediakan. Bagi yang tidak bisa berenang, supaya dapat langsung mengenakan baju pelampung," tegas Mawi kepada rombongan.
Buuutttt..but..buttt…mesin boat telah dihidupkan. Hamparan laut biru yang indah terhampar luas memancing semangat rombongan untuk segera bergegas meninggalkan bibir pantai menuju boat. Di saat boat mulai melaju, para jurnalis mulai mengabadikan keindahan alam sekitar dalam bentuk foto dengan jepretan-jepretan kamera yang membutuhkan keahlian yang matang.
Mesin boat dimatikan, pertanda observasi terumbu karang dimulai. Dengan mengenakan baju pelampung berwarna orange dan hijau cerah para peserta tampak semangat ingin menikmati keindahan biota laut. Byurrr… satu per satu peserta mulai mengamati lautan.
"Kok terumbu karangnya pada hancur semua. Ikannya sih cantik-cantik, tapi kok dikit ya. Mana terumbu karangnya jarang-jarang lagi," gerutu Sulaiman, salah seorang peserta snorkeling. Sementara seorang jurnalis lain juga merasakan hal yang sama.
"Gimana? Cantik-cantik gak ikan ama karangnya?" tanya Sulaiman pada Iqbal, peserta dari jurnalis Radio Antero untuk memastikan.
"Gak ah, kayaknya terumbu karang disini udah pada bleaching (red,- pemutihan) semua. Pantesan ikannya pun gak ada. Ya orang rumahnya udah gak ada," ketus Iqbal.
Para peserta mulai meraih boatnya masing-masing. Di situ semua peserta mulai bertanya satu sama lain. Rupanya semua peserta menyimpulkan bahwa terumbu karang di sekitar itu sudah tak indah lagi, karena banyak yang mati.
Tidak seperti yang kami bayangkan, terumbu karang yang seharusnya terlihat cantik dan menawan kini telah rusak dan mati akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab. Melihat muka kami yang murung, bapak Dr Edi Rudi selaku Pakar Biologi Kelautan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengatakan, ekosistem terumbu karang disini memang sudah mati semua karena ulah manusia.
"Bom, pukat, dan berbagai jenis teknik menangkap ikan yang dilarang tak diindahkan oleh para nelayan. Akibatnya, semua habitat laut mati dan ada yang pindah tempat. Gimana ikan-ikan mau tinggal, toh rumahnya sudah hancur," kata Edi dengan raut mukanya yang masam.
"Tapi, tak semuanya disebabkan oleh manusia. Ada juga faktor utama terjadinya bleaching, itu karena pemanasan global. Suhu permukaan laut yang seharusnya 28 sampai 29 derjat Celsius, meningkat 32 derajat. Itu terjadi pada bulan Maret sampai Juni 2010. Titik terparah terjadi di laut kita, Laut Andaman,” jelas dosen Jurusan Kelautan MIPA Unsyiah itu.
Tak puas dengan penjelasan Edi, Nur Fadhli, M.Sc, Peneliti Unsyiah menambahkan, jika suhu 32 derajat Celsius berlangsung terus-menerus selama 8 minggu, maka dipastikan terumbu karang akan mati. Masih dengan snorkel di lehernya dan alat snorkeling lainnya, Fadhli terus menjelaskan, matinya terumbu membawa dampak bagi keragaman hayati laut lainnya.
"Ya seperti turunnya produktivitas perikanan akibat berkurangnya rantai makanan biota laut. Pariwisata gak jalan. Laut tak lagi indah, dan ekosistem juga ikut terganggu," sebut Fadhli dengan pakaian yang masih basah kuyup.
Setelah 1 jam melihat-lihat terumbu karang yang mati di titik pertama kawasan Laot Ujong Pancu, lalu perjalanan dilanjutkan ke titik kedua. Tepatnya di seputaran pulau kecil daerah setempat.
"Yuk, kita turun lagi ke laut," ajak Mawi sambil merebahkan punggungnya ke laut layaknya penyelam. Di titik kedua masih terdapat karang-karang yang masih hidup dikelilingi ikan-ikan cantik di sekitarnya. Dengan nada tinggi, Mawi meminta agar tidak bermain di daerah dangkal.
"Jangan kesitu karena dangkal. Banyak karang disitu, karena dangkal bisa aja terinjak tanpa sengaja. Kita enak aja menginjak karang. Padahal karang dalam setahun cuma tumbuh 1 centimeter tinggi".
Dalam observasi itu turut hadir 2 orang turis, seorang mahasiswa dari Hongkong dan mahasiswi dari Cina. Keduanya terpukau dengan panorama laut di tempat tersebut. “It’s cool and so really good. I like it,” puji salah satu dari mereka.
Mendengar ucapan itu, wanita bule asal Inggris yang sudah 15 tahun menetap di Aceh dan peminat lingkungan, Linda North yang dipanggil mami langsung tersenyum. “This only a small piece of good place from Aceh. So we must keep this ecosystem," kata mami kepada kedua turis itu.
Tak ketinggalan, para jurnalis terus mengabadikan gambar underwater. "Ini baru bagus, maunya semua bagian laut kek gini,” kata seorang peserta.
Berenang sambil melewati arus-arus kecil, pemandu mendekati kami lagi. "Di sini yang masih hidup kalau di Ujong Pancu. Jadi mesti dijaga terus populasinya. Jangan sampai kayak Pulo Aceh yang karangnya hanya tersisa 10,7 persen menurut data tahun 2007 jika dinilai dari tutupan karang rata-rata."
Untuk luas karang di Aceh, sahut Fadhli, berdasarkan foto satelit Aceh Green ditaksir ada 35.000 hektar terumbu karang di Aceh. Terbesar di Sabang, karena kepedulian terhadap konservasi laut sudah tumbuh. Misalnya di Ano Itam dan Sumur Tiga yang dikomandoi sama Panglima Laot.
"Kalau ada yang ganggu daerah itu, bisa aja mereka angkat parang. Upaya itu tanpa uang pemerintah. Maunya pemerintah peduli sama laut. Setidaknya mau turun ke lapangan, walaupun anggaran tak ada. Sepertinya pemerintah memang tidak peduli dengan ancaman yang sedang menimpa laut," ketus Fadhli.
"Kesadaran seperti masyarakat di Sabang yang kita butuhkan sekarang. Tapi upaya lain agar kondisi laut pulih, lagi-lagi harus dengan reduksi gas. Lalu, pencanangan daerah laut yang dilindungi. Sosialisasi kepada masyarakat dan nelayan. Penelitian dan menjaga kualitas air laut," sambung Edi.
Setelah lelah mengarungi surga bawah air, rombongan kembali ke daratan untuk mengikuti workshop singkat di YL. Disitu semua data kelautan ditampilkan dalam bentuk slide. Di akhir workshop, sambil mengusap-ngusap kacamatanya, Fadhli meminta kepada semua jurnalis agar lebih bersuara dalam isu lingkungan khususnya laut. "Apabila gak, populasi karang yang makin dikit akan menyebabkan berkurangnya populasi ikan. Nelayan pun akan sulit mendapatkan ikan sehingga timbul masalah ekonomi yakni kemiskinan," tutur Fadhli sambil tersenyum tipis.