TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Feature » Backpacker Jakarta Nekad Bersepeda ke Aceh

Backpacker Jakarta Nekad Bersepeda ke Aceh
Sabtu, 26 Juni 2010

Jakarta - Meskipun pegal masih terasa setelah seharian menggenjot sepeda, Devin Oktavianus masih bisa bercanda di sela berbagi cerita. Lajang berusia 35 tahun dan mulai menekuni kegiatan bersepeda sejak 1992 ini adalah salah seorang dari kalangan komunitas yang ikut serta dalam Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta yang diselenggarakan Harian Kompas.

Malam saat beristirahat usai perjalanan etape kedua dari Kota Malang, di antara para peserta yang sedang duduk santai, mengemuka kisah menarik Devin yang baru saja bersepeda dari Jakarta ke Aceh seorang diri.

Awalnya dia sempat ragu bersepeda ke Aceh. Informasi beragam yang diperoleh menyebutkan bermacam risiko yang bakal mengancam keselamatan diri. Tapi karena motivasinya sangat tinggi dan ketetapan hati memang telah bulat, maka niat itu tetap dilakukan.

"Banyak informasi kalau jalur lintas barat Sumatera sangat rawan kejahatan dan medannya sangat berat, semakin banyak informasi yang saya dapat, semakin banyak juga hal yang menakutkan akan dijumpai selama perjalanan, tapi waktu itu saya tetap memilih berangkat," ujarnya.

Berangkat dari rumah di Bintaro, Jakarta Selatan, dengan modal ala backpacker diapun menggenjot sepeda gunung membawa pakaian dan alat memasak yang diikat di rak belakang sepeda gunung miliknya.

Baru saja memasuki daerah Lampung Barat, dia sudah harus berhadapan dengan medan tanjakan. Awalnya dia mengira medannya lebih landai dan datar berada tidak jauh dari pantai, tapi ternyata sangat berat dan membuat mentalnya sempat lemah.

"Saat itu ketika perjalanan di daerah Lampung saya memilih mengemas peralatan masak dan sejumlah pakaian untuk dipaketkan ke rumah melalui Kantor Pos. Biar beban jadi lebih ringan, lagi pula saya lihat di perjalanan banyak warung-warung makan," ungkapnya.

Ujian berikutnya kembali dia hadapi dan bahkan lebih berat. Kakinya terpeleset ketika berjuang bersama sepedanya menembus lumpur karena tanah longsor. Kakinya cedera dan harus dibawa ke dokter.

"Saat diperiksa dan diobati, dokter bilang syaraf ototnya cedera dan mengalami pembengkakan dan diminta istirahat selama tiga bulan. Nah, saat itulah saya sempat putus asa, tapi setelah dua hari beristirahat saya nekat melanjutkan perjalanan," terangnya.

Hadapi perampok

Kakinya terus menggenjot pedal menyusuri jalur lintas barat Sumatera. Untuk menekan biaya perjalanan seirit mungkin, ketika malam dia memilih menginap di warung-warung makan yang dijumpai di jalanan. Warung memang biasa disinggahi para sopir truk untuk beristirahat. Tidak sekadar makan dan minum, sejumlah warung biasa menawarkan jasa menginap.

Bagi kalangan backpacker, menginap seadanya adalah hal biasa. Dari penginapan kelas super murah hingga tidur di jalan pun dilakukan karena mereka biasanya membawa matras atau kantong tidur.

Suatu malam dia terpaksa menginap di gubuk kecil milik buruh kelapa sawit. Ketika itu dia sedang perjalanan melintasi jalan di tengah hamparan kebun kelapa sawit di perbatasan Bengkulu dan Sumatera Barat. Enam orang mengepungnya, dua sepeda motor dan satu mobil di belakang. Mereka terus menggiring perjalanan tanpa bicara.

"Saya hanya berpikir harus melawan jika mereka merampok, tidak ada tindakan lain di tempat sunyi seperti itu, laripun pasti celaka, saya lihat mereka terus menggiring ke tempat lebih sunyi," ujarnya.

Dia terus jalan memutar pedal sepeda dan melihat ada bekas ban mobil di depan arah menikung. Sekelebat menengok terlihat ada buruh tengah memuat kelapa sawit dan diapun minta bantuan.

"Ketika melihat ada orang lain, saya berteriak rampok, para buruh angkut langsung membawa pemukul dan enam orang tadi langsung kabur," kata Devin.

Titik nol

Peristiwa demi peristiwa dia alami termasuk uang dan peralatan pribadinya pernah dicuri orang saat menginap di rumah warga. Tapi akhirnya dia tetap bisa menuntaskan perjalanan dengan selamat sampai ke Banda Aceh. Kemudian lanjut ke Sabang karena merasa belum lengkap jika tidak menggapai titik nol kilometer nusantara.

Selama perjalanan dia menghabiskan waktu 38 hari termasuk sembilan hari beristirahat dengan jarak tempuh sejauh 3.050 kilometer. Untuk masalah teknis sepeda dia mengalami dua kali ban bocor, sembilan kali jeruji putus dan enam kali putus rantai.

Pengalaman lain tak kalah seru yaitu ketika dia gowes mendaki ke Mahameru, puncak Gunung Semeru di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Dia berhasil menggotong sepeda hingga ke puncak gunung. Menurutnya, saat itu dia diklaim petugas taman nasional sebagai orang ketiga yang mencapai puncak membawa sepeda.

Layaknya seorang pendaki gunung, dia tetap membawa peralatan hidup di alam bebas. Kantong tidur, tenda, bahan makanan dan alat memasak, survival kit, itu semua barang bawaan yang dia sampirkan di rak belakang sepeda.

Satu hal sederhana yang dia petik dengan bersepeda ke manapun, sejauh apapun jaraknya, seberat apa pun medannya, yaitu pengalaman. "Saya ingin membagi pengalaman kepada teman-teman terutama tentang nikmatnya hidup bersepeda," katanya. (MNA-KOMPAS)



Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close