
Bau sampah masih tercium dari lorong-lorong pasar Peunayong, Kota Banda Aceh, bercampur dengan amisnya limbah ikan, di tengah semerbak aroma kebanggaan Adipura.
Penghargaan yang diberikan bagi kota yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan itu diraih Kota Banda Aceh untuk kedua kalinya.
Ibukota Provinsi Aceh itu berhasil mempertahankan Adipura setelah sebelumnya pada 2009 meraih penghargaan serupa dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Keberhasilan mempertahankan Adipura menjadi kebanggaan bagi 230 ribu warga kota Banda Aceh, namun sayangnya hal itu belum dibarengi kesadaran warganya untuk menjaga lingkungan dan kebersihan.
Jika diamati lebih seksama, sampah-sampah masih ditemui di sudut-sudut kota. Bahkan masih ada warga masyarakat terutama pengguna jalan yang membuang sampah sembarangan dari kendaraan mereka.
Wali Kota Mawardy Nurdin mengakui bahwa masih ada warga yang belum sadar menjaga lingkungan. Mereka membuang sampah sembarangan.
"Warga belum 100 persen ikut menjaga lingkungan dengan baik. Dengan momen perolehan Adipura saya mengajak seluruh masyarakat untuk lebih aktif menjaga lingkungan," kata Wali Kota.
Masyarakat dinilai belum aktif sepenuhnya menjaga kebersihan karena masih ada yang menjadikan saluran air sebagai tong sampah sehingga menyebabkan luapan terutama saat musim hujan.
Tidak jarang, kata Mawardy, masih ditemukan gelas-gelas plastik yang menyumbat saluran air di beberapa tempat sehingga saat musim hujan lokasi tersebut tergenang.
Kesadaran menjaga kebersihan juga rendah, terutama pada fasilitas publik seperti pasar dan warung, meskipun pemerintah sudah menyediakan tong sampah di tempat mereka.
Tingkat kecanduan rokok yang tinggi pada masyarakat Aceh juga tidak dibarengi dengan kesadaran yang bersangkutan untuk membuang puntung rokok pada tempatnya.
Tidak sulit menemukan puntung rokok bertebaran di jalan dan di tempat-tempat umum lainnya. Kadangkala dijumpai pengendara mobil yang membuang puntung rokok di jalanan.
Hal ini menyebabkan tenaga kebersihan harus bekerja lebih keras dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga malam hari agar "wajah" Kota Banda Aceh tetap terlihat "cantik" dan bersih.
Disadari bahwa menciptakan Kota Banda Aceh yang bersih menjadi tugas semua pihak. "Adipura berhasil kita pertahankan berkat dukungan dan kerja keras semua pihak. Alhamdulillah, hari ini kita berhasil mempertahankan untuk kedua kalinya," kata Mawardy.
Menurut dia, Adipura bukan hanya hasil kerja keras Dinas Kebersihan, tapi juga semua masyarakat Kota Banda Aceh, karena tanpa dukungan warga tidak akan mungkin terwujud kota yang bersih.
Harapkan kesejahteraan
Terkait Piala Adipura ini, sesosok wajah berjilbab jingga terlihat berseri saat namanya dipanggil menerima penghargaan yang diserahkan Walikota Banda Aceh pada acara penyambutan Adipura di Taman Sari.
Azizah dan M Jamil merupakan dua petugas kebersihan yang beruntung bisa langsung mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dari orang nomor satu di Kota Banda Aceh itu.
Sertifikat itu sebagai bentuk penghargaan karena ikut menciptakan Banda Aceh yang bersih sehingga berhasil mempertahankan Adipura.
Ia mengaku senang kerja kerasnya selama ini ikut menyumbangkan keberhasilan mempertahankan Adipura untuk kedua kalinya.
"Saya senang dan bangga Banda Aceh kembali meraih Adipura, sedikitnya juga berkat kerja keras kami, para tenaga kebersihan," kata Azizah.
Meski hanya dibayar Rp 55 ribu/hari dan diakuinya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Azizah yang menjadi orangtua tunggal bagi tiga anaknya tetap bersyukur dan mengaku akan terus bekerja keras menjalankan tugas membersihkan taman kota.
Wanita berusia 35 tahun itu mulai menjalankan aktivitasnya sejak pukul 08.00-12.00 WIB dan kembali bekerja pada 14.00-17.30 WIB bahkan kadang hingga pukul 23.00 WIB.
Selama delapan tahun bergabung dengan "pasukan jingga" di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), baru dua tahun terakhir upah mereka naik menjadi Rp55.000 per hari. Sebelumnya hanya dibayar Rp 25 ribu/hari.
Azizah mengaku belum tahu apakah pemerintah juga akan meningkatkan upah tenaga kebersihan karena keberhasilan mempertahankan Adipura itu.
Rekan sekerjanya, M Daud (43) lebih terbuka menyampaikan uneg-unegnya. Ia mengharapkan pemerintah memperhatikan kesejahteraan mereka dengan menaikkan upah.
"Kami harapkan upah ditambah. Dengan upah Rp55 ribu per hari rasanya tidak cukup lagi terutama yang sudah berkeluarga, apalagi sekarang harga kebutuhan naik," kata Daud.
Ayah empat anak itu mengaku sudah bekerja sebagai tenaga kebersihan selama lima tahun dan terpaksa mengumpulkan barang bekas untuk memenuhi menambah penghasilan.
"Dengan upah saja tidak cukup untuk kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan ke empat anak saya," katanya seraya mengaku perasaannya biasa saja ketika tahu Banda Aceh kembali mendapat Adipura.
Walikota Banda Aceh mengaku, Pemko sangat memperhatikan kesejahteraan "pahlawan kebersihan" dengan membayar upah sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP).
"Mereka kita bayar sesuai UMP dan juga mendapat dana kesejahteraan lainnya seperti uang meugang (hari pemotongan hewan sebelum hari besar umat Islam)," kata Mawardy.
Tidak salah memang jika dikatakan mereka "pahlawan kebersihan" karena sampah akan menumpuk jika tidak diangkut dan bunga-bunga di taman kota tidak terawat jika mereka tidak menjalankan tugasnya meski harus menahan panas dan berjibaku dengan bau dari aneka ragam sampah.
Penghargaan Adipura merupakan salah satu kebanggaan mereka. Namun, di balik kebanggaan itu tersimpan harapan agar kehidupan mereka lebih baik.
Kebanggaan meraih Adipura tidak akan bermakna jika kenyataannya sampah masih juga berserakan di tengah kota dan menebarkan aroma tidak sedap bagi hidung dan mata yang melihatnya. (MNA-DESI/ant)