
Jakarta - Deposito sudah tak seksi lagi. Bank khawatir melihat nasabah mulai melirik investasi lain yang lebih menjanjikan. Akankah era kejayaan deposito sirna. Penurunan bunga deposito menunggu waktu saja. Apalagi saat ini likuiditas di pasar sudah stabil, inflasi rendah, BI rate menurun dan environment risk (risiko lingkungan) juga menurun.
Saat ini bank-bank masih mematok bunga deposito masih cukup tinggi, tetapi sesungguhnya trennya cenderung turun dan hal itu dilakukan memang secara pelan-pelan. Perbankan tetap mengedepankan sikap kehati-hatian di tengah kondisi krisis global.
Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah baru-baru ini mengungkapkan, BI mencatat pada awal Agustus tahun ini Dana Pihak Ketiga (DPK) di industri perbankan nasional menurun Rp5,4 triliun menjadi Rp2.067,2 triliun. "Penurunan terjadi pada deposito sebesar Rp4 triliun dan tabungan masing-masing Rp2,5 triliun," ungkapnya.
Menurut data BI, hingga Mei 2010, berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga deposito terbesar disumbang kelompok bank swasta sebesar 52 basis poin (bps), khususnya untuk tenor 12 dan 24 bulan.
Sementara kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) mengalami penurunan suku bunga deposito 39 bps, bank asing 19 bps, dan campuran serta bank persero 5 bps.
Sehingga rata-rata suku bunga deposito terendah berada pada kelompok bank asing dan campuran (6,94%), diikuti kelompok bank persero (7,04%) dan bank swasta (7,48%). Adapun rata-rata suku bunga deposito seluruh tenor menurun sebesar 25 bps, lebih baik dari bulan sebelumnya yang hanya menurun sebesar 9 bps..
Suku bunga deposito memang terus mengalami tekanan menyusul pemangkasan suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Di sisi lain, pemerintah dan perusahaan-perusahaan aktif menerbitkan obligasi. Bankir pun mulai mengeluh.
Maklum, kupon (bunga) obligasi yang mereka tawarkan cukup menarik. Surat utang negara (SUN) seri FROO54, misalnya, menawarkan pendapatan 9,5% per tahun. Bunga obligasi yang diterbitkan korporasi lebih tinggi lagi, berkisar 11% hingga 14%.
Sementara perbankan hanya bisa memberikan bunga paling tinggi 6,25% akibat terkena ketentuan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Dampaknya, banyak nasabah tidak lagi memperpanjang depositonya yang jatuh tempo.
Sebenarnya, minat investor untuk menanamkan modalnya di deposito masih cukup besar. Menurut hasil surbei HSBC, investasi di deposito masih menjadi lahan favorit para nasabah premium di Indonesia dananya.
Survei dilakukan terhadap 385 responden dengan kekayaan di atas Rp500 juta di Jakarta dan Surabaya. Sebanyak 95% responden di Indonesia berinvestasi di deposito rupiah. Sisanya, memilih instrumen finansial lain, seperti obligasi dan saham.
Deposito memang masih jadi idaman karena dinilai sebagai instrumen investasi yang paling aman. Di Bank Mandiri saja dari sekitar 48.000 nasabah wealth management, lebih dari 90% masih mengandalkan investasi di deposito.(MNA-INILAH)