TGJ
Search all of tgj.co.id :
BERANDA » Ekonomi » Ikan Depik Lut Tawar Tak Lagi Menguntungkan

Ikan Depik Lut Tawar Tak Lagi Menguntungkan
Khalisuddin | The Globe Journal | Sabtu, 07 Agustus 2010
Lut Tawar-Walau permintaan tinggi dan harga jual sangat mahal, menangkap ikan Depik (Rasbora Tawarensis) ternyata tidak memberi keuntungan lagi bagi sebagian besar nelayan di Danau Lut Tawar, demikian pernyataan Aman Nely (60), Sabtu (7/8) sore di Sakaten (pelabuhan) Kala Toweren kecamatan Lut Tawar.

Menurut Aman Nely yang berprofesi sebagai nelayan sejak tahun 1971 ini, ikan khas Lut Tawar tersebut sudah sulit didapatkan, khususnya dengan alat tangkap jaring (Gayo : Doran). "Selain harus memasang di tengah-tengah danau, juga hasil tangkapan sangat sedikit, paling banyak setengah bambu," kata Aman Nely.

Harga ikan Depik memang sangat tinggi, lanjut Aman Nely, yakni Rp. 60 ribu satu bambu. "Jika yang diperoleh hanya setengahnya maka uangnya cuma Rp. 30 ribu, tentu capek saja pasang jaring sore hari dan diambil pagi-pagi esok harinya," ujar Aman Nely.

Walau tidak lagi memburu ikan Depik, Aman Nely tetap menjadi nelayan sebagai usaha sampingan selain berkebun. Aman Nely tetap memasang jaring-jaringnya untuk menangkap ikan Kawan (Puntius Tawarensis) dan ikan Relo (Rasbora Sp.). "Lumayanlah untuk menutupi ongkos anak-anak saya yang sekolah dan kuliah pulang pergi dari Toweren ke Takengen," tukas Aman Nely.

Dijelaskan Aman Nely, harga ikan untuk ikan Kawan dibeli pedagang pengumpul darinya Rp. 25 ribu per bambu, sementara Rp. 20 ribu untuk ikan Depik Ogoh (bukan ikan Depik sesungguhnya)

Terkait langkanya ikan Depik, Aman Nely tidak memaparkan hal-hal teknis dan perubahan alam. Aman Nely lebih menyesalkan sikap takabur dari kebanyakan nelayan yang memasang jaring ikan Depik di tengah danau akan tetapi tidak mengambilnya dikesokan harinya.

"Kebanyakan kawan-kawan saya membiarkan jaringnya terpasang ditengah danau sampai berbulan-bulan sehingga ikan Depik yang terperangkap mati sia-sia tanpa dimanfaatkan oleh manusia. Perilaku tersebut adalah sikap yang takabur," sesal Aman Nely seraya mengingatkan agar ada himbauan untuk tidak usah memasang jaring Depik jika tidak diambil keesokan harinya.

Selanjutnya terkait eksistensi ikan Depik seperti yang diberitakan The Globe Journal sebelumnya, kan Depik ditemukan untuk pertama kalinya dan beri nama secara ilmiah oleh Weber dan Beaufort tahun 1916, diperoleh informasi bahwa sejak tahun 1996 ikan ini telah dimasukkan  International Union Conservation Nature (IUCN) sebagai Redlist dengan kategori vulnerable (ikan yang mudah diserang). Dan pada tahun 2003 telah di update oleh CBSG menjadi ikan Critical Endangered (terancam kritis atau punah), artinya langsung naik 2 tingkat selama 7 tahun. 


Baca Juga :





Komentar Anda
World Interest Rates
Close