Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Infotainment»Film Arab Diputar di Ulee Kareng


Film Arab Diputar di Ulee Kareng
Senin, 05 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh- Budaya  yang ada di Aceh ternyata banyak berbaur dengan kebudayaan Arab, dan kebudayaan tersebut menjadi lebih dominan. Hal tersebutlah yang mendasari Sekolah Menulis Dokarim (SMD) untuk menggelar Festival Film Arab (FFA) yang dimulai besok, Selasa (6/12) hingga Sabtu (10/12) di Episentrum Ulee Kareng, Banda Aceh.

Direktur SMD, Fauzan Santa pada The Globe Journal, Senin (5/12) mengatakan bahwa diadakannya FFA adalah untuk memberikan pencerahan antara sejarah kebudayaan Arab dan proses islamisasi di seluruh dunia.

 “Karena bagaimanapun kebudayaan Aceh kami melihat banyak sekali berbaur dnegan kebudayaan Arab, mungkin ada kebudayaan cina, eropa dan hindustan, tapi di sini Arab menjadi sesuatu yang sangat dominan dalam kebudayaan aceh,” tutur Fauzan.

Dia mengatakan bahwa pada tahun 2001 yang merupakan tahun terjadinya syariatisasi Aceh atau penerapan syariat islam di Aceh merupakan salah satu faktor pendorong untuk memutar film-film Arab di Aceh.

“Sehingga masyarakat penonton bisa lebih tau sesungguhnya apakah arab  itu islam, apakah selama ini yang dilakukan di aceh syariat islam atau syariat arab. Ini persoalan yang sangat problematis ketika apapun yang datang, bahkan kurma yang tumbuh di depan mesjid raya yang menjadi logo kami setiap pemutaran film dianggap sebagai syariat islam,” ujarnya. 

Fauzan menambahkan bahwa dulunya tidak ada pohon kurma di sekitar Mesjid Raya Baiturrahman namun yang ada adalah pohon geulumpang yang menjadi simbol patriotisme agama untuk melawan kolonial.

Melalui pemutaran film Arab ini, Fauzan dan kawan-kawan ingin mengatakan bahwa masyarakat harus bisa membedakan mana yang disebut dengan budaya dan mana yang merupakan nilai-nilai suatu agama, yang akan tertuang dalam forum diskusi film dan budaya yang akan diadakan pada malam pembukaan, Selasa (6/12) malam.

Dalam diskusi yang melibatkan Ekky Imanjaya, seorang kritikus film timur tengah dan dosen Binus University, dan Saifuddin Bantasyam, pengamat sosial di Aceh,  usai pemutaran film Captain Abu Raid karya  sutradara Yordania, Amir Matalqa, dapat melahirkan wacana baru bagi masyarakat Aceh bahwa situasi yang digambarkan dalam film tersebut tidak jauh berbeda dengan negara-negara turki dan eropa yang tidak terikat dengan jilbab.

“Dalam diskusi nantinya bagaimana kajian kebudayaan dari film tersebut muncul, sehingga kita tau mana yang budaya mana yang agama. Jadi itu hal yang sangat mendasar dari Festival Film Arab yang tiap tahun yang akan kami gulirkan. Dan untuk dua tahun terakhir ini kita bekerjasama dengan festival film arab di Rotherdam. Ketika menonton di Aceh, saya pikir akan muncul satu frame atau wacana dari kita bagaimana islam atau syariat islam bisa memunculkan model-model keacehan. Bagaimana kebudayaan aceh kemudian menerima respon dari Islam. Tidak melihat apapun yang terjadi di  timur tengah sebagai bagian dari konteks keagamaan tadi,” jelas Fauzan.

Bagi Fauzan, hal tersebut dianggap sebagai satu hal mendasar tentang bagaimana kita mereproduksi atau kita mencoba menggelontorkan wacana festival film arab ini. Jadi bukan sekedar memutar saja sebagai hiburan walaupun itu penting karena bioskop tidak ada di Aceh, tapi lebih dari itu kami ingin mengajak penonton kritis terhadap tontonan apapun secara umum dan film arab secara khusus., ungkapnya.

Film-film yang akan diputar dalam FFA 2011 ini antara lain The Color of Paradise (Iran), Baran (Iran), The Song of Sparrow (Iran), The Stonning of Soraya M (Iran), At Day’s End (Mesir), Captain Abu Raed (Yordania), Hassan and Marcus (Mesir), Saba Flous (Tunisia), Jasmin Bird (Syiria), Le Grand Voyage (Maroko-Prancis), dan Heart Edges (Maroko). [003]






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close