Banda Aceh - Lomba membaca puisi akan dilangsungkan di Banda Aceh pada 2-3 Februari 2012. Acara tersebut untuk mencari tahu siapa yang terbaik membaca puisi-puisi karya penyair perempuan Aceh Zubaidah Djohar yang terkumpul dalam buku antologi “Pulang Melawan Lupa”.
Demikian kata Divisi Penerbitan Lapena D Kemalawati, Jumat (28/1). Kata dia, biasanya yang dipertarungkan dalam perlombaan membaca puisi adalah karya beberapa penyair lelaki dan perempuan. Namun kata Kemalawati, perlombaan yang khusus membaca karya satu orang baru pertama diadakan di Aceh.
“Lomba baca puisi karya penyair Zubaidah Djohar adalah kerjasama Pentasagoe Jambo Kupi Apa Kaoy dengan Lapena. Total hadiah untuk para juara adalah Rp.5,250 juta. Perlombaan kita langsungkan pada 2-3 Februari 2012 dengan biaya perndaftaran 25 ribu rupiah,” kata Divisi Penerbitan yang terbanyak menerbitkan buku di Aceh ini.
Sementara penyair Zubaidah Djohar mengatakan, dirinya menulis puisi tersebut sebagai sebuah renungan tentang kehidupan agar ia tidak mudah melupakan hal-hal yang sudah terjadi, apalagi tentang ketidakadilan di tengah masyarakat. Perenungan,kata Zubaidah.
“Puisi ini saya kumpulkan saat saya berada di Canberra, Australia. Di sela kegiatan saya mengurus bidang kemanusiaan dalam bidang domestik di negeri Kanguru itu, saya membuka file-file lama puisi yang pernah saya tulis,” kata Zubaidah Djohar yang disebut Zhu oleh para budayawan Jakarta.
Perempuan ini mengaku puisi-puisi tersebut ia tulis pada masa menjadi fasilitator perdamaian dan kemanusiaan untuk 300 kampung di Aceh semasa bekerjasama dengan Word Bank beberapa tahun lalu. Kata Zhu, saat jarang berada di Aceh, kerinduannya pada masa-masa silam membangkitkan keinginan untuk mengumpulkan semua puisi yang pernah ia tulis.
“Saya menyelesaikan buku ini di sela penelitian saya untuk program doktor bidang Peace Conflic di UM (University of Malaya -red),” kata Zhu.
Budayawan Aceh, Thayeb Loh Angen mengatakan mengumpulkan para pencinta sastra supaya mereka mempraktikkan seni panggung terbaik yang mereka miliki untuk berlomba-lomba membaca puisi satu orang adalah hal baru yang fenomenal.
“Perlombaan seperti ini adalah sebuah ide kreatif dan inovativ, menjadi bukti bahwa dunia sastra di Aceh telah bangkit menyambung sejarah Syeh Hamzah Fanshuri. Dan ini sebuah bukti bangkitnya perempuan Aceh dalam dunia sastra,” kata Thayeb Loh Angen.[rel]