Jakarta — Rangkaian penembakan beruntun yang terjadi di Aceh kini diyakini bukanlah kriminal biasa. Aksi itu ditengarai dilakukan oleh Tim Operasi Khusus yang ingin memperkeruh perdamaian Aceh melalui momentum Pemilukada, dimana suhu politik kian memanas.
Hal itu disampaikan oleh Peneliti Senior Imparsial Otto Syamsudin Ishak di Kantor Imparsial, Jum’at (6/1). Masih jelas Otto, kekerasan di Bumi Serambi Mekkah itu merupakan operasi khusus untuk membuat ekskalasi atau perdamaian di masyarakat Aceh rusak.
Pola yang digunakan, kata Otto, kini berubah. Tercatat pada 2011 hingga 2012 sebanyak 17 kali kekerasan dengan korban meninggal 15 dan luka 17 orang. Polanya, yang melakukan kekerasan adalah orang tak dikenal. Karenanya, penembakan yang terjadi di Aceh tidak bisa dianggap sebagai kriminal murni yang didasari oleh kesenjangan sosial atau motif ekonomi belaka.
Di lain tempat, Anggota Komisi III DPR RI Martin Hutabarat, meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bertindak cepat mengatasi aksi penembak liar yang dilakukan orang tidak dikenal di Aceh.
"Kalau polisi menilai perlu bantuan dari TNI agar memintanya. Ini untuk kepentingan keamanan rakyat Aceh maupun keamanan di Indonesia," kata Martin Hutabarat di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. []
(Yul-Media indonesia)