SerambiHukumBupati Aceh Tengah : Perempuan Dapat Mencegah Pelanggaran Adat
Bupati Aceh Tengah : Perempuan Dapat Mencegah Pelanggaran Adat
Selasa, 06 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Bupati Aceh Tengah Nasaruddin menilai banyaknya pelanggaran adat telah menjadi salah satu sumber kerusakan dalam masyarakat.
Karenanya, keberadan kaum perempuan dalam rumah tangga dapat mencegah dan meminimalisir terjadinya pelanggaran adat melalui pemberian pemahaman bagi keluarga dan lingkungannya, katanya di Takengon, Selasa.
Hal itu disampaikan di sela-sela pelatihan memperkuat dan meningkatkan kapasitas tokoh-tokoh adat perempuan dalam melaksanakan peradilan adat yang adil dan bertanggungjawab.
Menurut Nasaruddin, dalam adat "Gayo" sebelum terjadinya pelanggaran terhadap hukum adat terlebih dahulu ada "lampu kuning" atau rambu-rambu agar masyarakat tidak terjerumus sampai melanggar adat yang berlaku di sebuah desa.
"Lampu kuning itu diberi istilah 'sumang' yang mengatur tata tertib ketika berbicara, misalnya ketika berbicara dengan orang tua. Kemudian ada pula sumang perjalanan, penglihatan serta duduk," katanya menjelaskan.
Adanya "sumang-sumang" tersebut sebenarnya sejak dahulu telah menjadi rambu-rambu yang sangat baik untuk memagari atau menahan terjadinya pelanggaran adat di "Tanah Gayo" khususnya Aceh Tengah, ujar bupati.
Akan tetapi, Nasaruddin mengakui gencarnya pengaruh luar sebagai dampak dari transformasi informasi melalui media massa, maka relatif keberadaan "sumang" tersebut mulai terkikis.
Oleh karena itu, bupati mengharapkan melalui kegiatan, seperti pelatihan, seminar, dan sosialisasi penguatan adat tersebut akan dapat membawa dan membakitkan kembali nilai-nilai budaya yang tercermin dalam adat masyarakat, khususnya di "Tanah Gayo".
Sementara itu, Ketua Majelis Adat Aceh Badruzzaman Ismail mengatakan pentingnya menguatkan kembali keberadaan adat dalam masyarakat sebagai upaya untuk mencegah berbagai dampak negatif pengaruh globalisasi.
Dipihak lain, ia menyatakan bahwa negara maju dapat berkembang dengan baik karena mereka konsisten dengan budaya mereka miliki, dan adat yang melekat pada diri warganya mengilhami setiap pembangunan dan kemajuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Sejarah panjang Indonesia, katanya juga diilhami oleh semangat dari keberagaman adat yang dipadukan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun dalam tataran implementasi semboyan itu belum sepenuhnya berjalan optimal.[003]