THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Sungai Kami tak Lagi Perawan


Sungai Kami tak Lagi Perawan
Muhajir Juli I The Globe Journal
Jum`at, 19 Agustus 2011 00:00 WIB
Air sungai keruk mengalir deras melintasi ceruk-ceruk karang. Dua orang anak usia kelas satu SD saling berkejar-kejaran di dalam air. Tanpa beban mereka terus berteriak kegirangan sambil memperagakan aksi super hero seperti Power Rangers, Ultra Man dan Knight Rider. anak-anak itu tidak pernah tahu, bahwa ditempat mereka sedang mandi itu, dulunya adalah daratan tempat ayah mereka waktu kecil bermain bola.

Teupin Mane 2011, banyak yang telah berubah dari gampong di kawasan Juli Bireuen yang dilintasi oleh aliran Krueng Peusangan. Sebuah jembatan rangka baja berdiri tegak diatas bentangan sungai yang mengalir kian rapuh. Karang-karang terjal dan bergelombang nampak sangar diantara air sungai yang terus mengalir tanpa henti. Tembok penyangga tiang jembatan sudah nampak sampai ke dasar. Padahal dulunya tembok kokoh itu masih tertutup air sungai.

Mahdi (28) Pemuda gampong setempat yang ikut menemani The Globe Journal, menghela nafas panjang. Sambil melempar sebuah batu kecil ke seberang sungai, dia bergumam " tempat kita berdiri ini, dulunya adalah tanah lapang. Letaknya memang seperti pulau di tengah laut. Namun sekarang seperti inilah, tinggal tumpukan karang yang maha luas. tanah sudah digerus semuanya oleh air,".

Konflik bersenjata. Rentang masa 1998 sampai 2004, itulah masa terparah rusaknya sungai yang mengalir melewati gampong Teupin Mane. Mahdi masih mampu mengingat catatan kelam itu. Tak ada yang berani melawan pengrusakan ekosistem sungai yang dilakukan secara terang-terangan. Baik itu dilakukan oleh oknum pemberontak, maupun oknum masyarakat.

aliran sungai yang melewati gampong yang pernah mendapatkan predikat tertinggal di masa Soeharto itu, dulunya merupakan sebuah kawasan sungai yang eksotis dan kaya keanekaragaman hayati.Ikan masih sangat mudah didapatkan hanya dengan memancing dan memasang "Bube". Masyarakat yang menjala ikan pun sering pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak. Demikian pula dengan udang. hanya dengan mencarinya di balik batu dan sampah organik, dalam hitungan 15 menit, sudah mampu terkumpul  satu kantong plastik hitam ukuran sekilo.

Di tengah-tengah sungai, masih membentang kokoh pulau kecil berukuran seluas lapangan bola. Di pulau itu ditumbuhi tumbuh-tumbuhan sungai seperti "jambe si hari-hari". Tak ada yang tahu dalam bahasa Indonesia pohon itu disebut apa. Yang pasti buah-buahnya berwarna putih kalau sudah mengkal seukuran kelereng. rasanya manis dan berbiji besar. Yang dimakan adalah kulitnya.

Selain itu, pulau kecil itu juga menjadi tempat anak-anak gampong Teupin Mane untuk bermain perang-perangan seperti di film Combat yang selalu di putar di TVRI. Juga menjadi tempat praktik action film laga yang dimainkan oleh Barry Prima dan Adven Bangun. bagi remaja usia SMA, di tengah pulai ada sebuah lapangan kecil yang digunakan oleh mereka sebagai tempat bermain bola kaki setelah pulang dari ladang.

Menurut kesaksian Mahdi, disepanjang pinggiran sungai ditumbuhi bambu-bambu kecil yang disebut buluh. akar-akar kayu menjuntai kedalam sungai. Selain itu, pinggiran sungai yang landai menjadi omset tersendiri bagi anak-anak remaja yang mendedikasikan diri sebagai pencuci mobil. Dari upah cuci mobil itulah, banyak diantara mereka yang berhasil menamatkan sekolah sampai bangkus SMA.

Cerita yang nyaris sama juga disampaikan oleh Rahmad (20), Jumat (19/8). Seingat pemuda yang tak berhasil menamatkan bangku SMA tersebut, saat dia kecil pemandangan sungai masih sangat indah. bahkan kalau malam hari, diatas sungai masih ada kabut. Udaranya pun dingin sekali. Namun semua berubah sejak mahasiswa berhasil menggulingkan Soeharto di Jakarta. Pergeseran besar terjadi dimana-mana. termasuk di gampong Teupin Mane yang dulunya ditempati oleh orang Jawa dan Aceh.

Tiba-tiba saja aturan gampong tidak berlaku lagi. masyarakat seolah menemukan kembali kebebasan. tak ada rasa takut, termasuk dalam hal merusak sungai dengan mengambil batu sungai secara besar-besaran. Rahmad masih ingat, saat konflik Aceh masih menjadikan GAM sebagai superior, masyarakat yang dibekengi oleh oknum-oknum pejuang, mengekploitasi batu sungai secara besar-besaran. Tidak saja secara manual, bahkan eskavator pun diturunkan ke dalam sungai untuk mengeruk batu dan kerikil. Sampai malam hari aktivitas pengerukan sungai tetap dilakukan.

"semua seolah lepas kontrol. tak ada yang berani melarang. Semua larut dalam eforia kebebasan. Hingga sungai tempat kami bermain kehilangan keindahannya. Sungai kami tak lagi perawan," Kata Rahmad mengenang masa suram itu.

Kini, semua baru terlihat. Tak ada lagi pinggiran sungai yang landai. Tak ada lagi sopir yang sudi membawa mobilnya ke sungai untuk di cuci. Sebab jalan kesana sudah hancur dan bahkan sudah tak adapat dilintasi. Tak ada lagi ikan Kerling yang dulu sangat banyak. udang-udang pun tak ada yang sudi lagi bersembunyi di bawah batu. Sedangkan pulau kecil, sudah hilang dan tinggal cerukan karang yang dilewati air sungai.

Anak-anak usia kelas satu SD itu masih terus bermain kecipak air. sesekali tendangan maut miliknya Knight Rider dipraktikkan sambil melompat dari atas batu dan menceburkan diri ke dalam sungai. Mereka tak pernah paham bila ditempat mereka bermain air sekarang, dulunya adalah sebuah pulau kecil ditengah sungai Peusangan.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close