Banda Aceh-Bustami, mahasiswa asal Aceh sudah lama tidak pulang ke tanah air. Bustami mendapatkan beasiswa tahun 2008 dari gubernur Aceh untuk kuliah ke Universtitas Al-Azhar Kairo, Mesir, sewaktu ia masih duduk pada semester IV jurusan Bahasa Arab, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Dengan bermodal menghafal Alquran juz pertama dan juz terakhir (juz amma), maka ia berkesempatan menimba ilmu di negeri para nabi dan rasul diturunkan itu. Bustami dari awal berkeinginan kuliah ke Mesir, namun sekarang impiannya terwujud, ia berpeluang kuliah di jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Selama berada di Kairo, Bustami sudah lama mengidam-idamkan makanan khas Aceh. Disana tidak ada yang menjual masakan-masakan Aceh. Kalau mereka rindu ingin mencicipi makanan khas tanah air sendiri , terpaksa mereka memasak sendiri seadanya dengan kemampuan mereka yang terbatas.
"Masakan Aceh disini sering kami masak Sambal Lado dan Ayam Rendang, sekali-kali dibikin Kari Kambing sesama mahasiswa di asrama," ungkap Bustami kepada The Globe Journal melalui jejaring sosial beberapa waktu lalu.
Meskipun sudah sering makan masakan khas Arab Saudi, Bustami juga tidak pernah melupakan "Kuah Pliek" lauk berciri khas Aceh, dimana lauk tersebut tidak ada masyarakat Aceh yang tidak mengenalnya. Banyak tamu dari luar Aceh menyukai lauk tersebut setelah mencicipinya.
Kuah Pliek terdiri Kacang Panjang, Daun Melinjo, Buah Melinjo muda, Nangka muda, Terong hijau, Kangkung, Pliek U (kelapa yang dibusukkan), dan Kalapa kukur. Kebanyakan dari bahan-bahan tersebut sulit sekali diperoleh mahasiswa Aceh di Kairo.
"Jarang kami buat kuah pliek di sini, karena bumbunya tidak cukup disini," akui mahasiswa asal Pidie Jaya tersebut.
Mahasiswa jurusan Syariah Islamiyah itu juga menambahkan bahwa, pernah sekali abang letingnya mencoba untuk membuat Kuah Pliek, tapi tidak enak rasanya karena tidak pintar mengolahnya. "Sudah dua tahun tak melihat Kuah Pliek dan Asam Keu Eung (asam pedas-red),"
Meskipun rasa kangen yang begitu dalam terhadap kampung halaman dan masakan Aceh, namun mereka tetap bersabar demi menggapai cita-citanya di negeri yang tandus itu.