T. Muttaqin Mansur [Citizen Journalis, tinggal di Malang]
Rabu, 03 Agustus 2011 00:00 WIB
Menghangatkan tubuh dengan memakai kain sarung, jaket, selimut tebal bagi yang tinggal di Aceh mungkin dianggap sudah cukup untuk masyarakat Aceh mengusir dinginnya malam, sekalipun mereka yang menetap dikawasan Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Luwes dan di Aceh Tenggara. Namun tahukah anda, dinginnya Kota Malang, Jawa Timur belum mempan bila hanya memakai pakaian saja. Masyarakat di sini sering menambanya dengan minuman STMJ sebagai “selimut” tambahan bila malam telah tiba.
STMJ merupakan singkatan dari Susu Telur Madu dan Jahe. STMJ ini sangat dikenal di Kota Malang. Sebenarnya ada juga SKDMJ atau Susu Kedelai Madu dan Jahe. Tetapi yang sangat familiar adalah STMJ. Susu STMJ dapat dijumpai dikios-kios penjualan di sepanjang jalan-jalan utama namun kebanyakan kios STMJ berada dipersimpangan jalan. Dikatakan kios karena memang tempat penjualannya hanya berukuran kira-kira 2 x 2,5 meter, seperti kios STMJ di Jalan Dinoyo pas berada di persimpangan dan dekat dengan Kampus Universitas Brawijaya yang sempat saya kunjungi terakhir pada (31/7) lalu.
Namun disarankan jangan pernah mecari minuman ini pada siang hari atau bahkan sore hari, seperti minuman bandrek di SP Surabaya atau di Darussalam di Aceh yang buka pada sore hari. STMJ baru di buka pada malam hari, biasanya pada pukul 19.00 WIB. Keunikan inilah yang kadang menyita perhatian, ada apa sebenarnya pada STMJ tersebut sehingga mesti di buka pada malam hari.
Menurut Kirno (39 tahun), pejual STMJ di Jalan Dinoyo, “STMJ ini memang khas tidak dijual pada siang hari. Karena racikannya yang memang diperuntukkan sebagai penghangat tubuh demi mengusir dinginnya malam”. Kirno yang telah menjual STMJ ini hampir 10 tahun mengaku racikannya memang berbeda. Semua bahan yang digunakan adalah asli tidak ada formalin atau fermentasi lainnya untuk perubah rasa, bau maupun warnanya.
Sebut saja bahan susu. Susu yang digunakannya ia beli dari peternak sapi perahan di Kota Batu sekitar 5 KM ke arah atas dari kiosnya. Untuk menjaga kualitas susu tersebut, ia setiap hari membelinya, tidak pernah disimpan, sehingga kesegarannya terjamin. Begitu juga dengan telur. Telur yang ia sediakan terdiri dari 3 jenis yakni telur bebek hijau, bebek biasa dan telur ayam kampung. Telur bebek hijau adalah yang paling diminati oleh pelanggannya yang kebanyakanya berusia antara 20 tahun sampai dengan 45. Hal ini disebabkan karena ada pemikiran ditingkat masyarakat bahwa telur bebek hijau punya rasa yang berbeda dan mempunyai khasiat keperkasaan. katanya.
Selain itu, ada yang unik lainnya adalah jahe. Sebelum dicampurkan kedalam gelas bersama bahan lainnya, jahe terlebih dahulu ditumbuk dalam lusung hingga halus. Para Pelanggan dapat meminta Mas Kirno memberikan jahe sesuai dengan selera, karena makin banyak jahe tentu akan makin pedas rasanya dan dijamin semakin bertambah hangat tubuh kita. Saya biasanya memesan yang sedang-sedang saja tetapi itu saja sudah cukup menghangatkan tubuh dan menjadi “selimut” penambah pengusir dinginnya malam di Kota Malang. Sebagai pelengkap, mas Kirno menambahkan sedikit madu murni sehingga melengkapi resep segelas minuman STMJ tersebut.
Ada beberapa jenis STMJ yang dijual dikiosnya dengan harga yang berfariasi. Untuk gelas kecil harganya antara 4000 s.d 5000 rupiah, gelas besar Rp. 6000. Selain itu mas Kirno juga menyediakan STMJ special. Nah untuk yang satu ini, tidak semua orang boleh meminumnya, dikarenakan khasiatnya yang luar biasa. STMJ special dengan harga rp. 15.000, biasa diminum oleh pelanggan yang sudah berkeluarga. Hal ini dapat dipahami karna bahan racikannya ditambah dari 1 telur menjadi 3 telur, kemudian di tambah pula dengan makjun, yang sering di identikkan untuk keperkasaan pria. Tetapi apakah para wanita boleh minum STMJ ini, Kirno juga mengatakan bahwa pelanggannya juga banyak dari mahasiswi yang kuliah di Kota Malang, namun mereka jarang memesan STMJ yang special.
Kirno yang dibantu 1 orang anak buah mengaku setiap malam dapat meraup keuntungan dari penjualan STMJnya antara Rp. 100.000,- dan Rp. 175.000. Alhamdulillah cukup membantu menghidupi keluarga dan mencicil biaya sewaan kios, terangnya. Ia juga menambahkan, di malam ramadhan STMJnya tetap buka, cuma waktunya berbeda dengan malam-malam biasa, malam ramadhan waktunya ia sesuaikan dengan shalat tarawih, jelas pria yang sering menentengkan tas kecil di bahunya itu.