
Malam telah turun beberapa saat yang lalu tapi masih terlalu awal untuk sampai ke pertengahannya. Hiruk pikuk suara manusia bercampur dengan lagu-lagu realigi ala Ramadhan yang disetel dengan volume tinggi. Tidak sampai sejam setelah ibadah malam bulan Ramadhan usai, warung-warung kopi ternyata sudah penuh dengan para pelanggan yang menghabiskan waktu bersama teman, atau sekedar menikmati fasilitas hotspot gratis dengan seteguk kopi khas Ulee Kareeng.
Penghuni deretan bangku paling luar ternyata juga mengepulkan asap rokok. Mereka yang duduk bergerombol itu tidak menghisap rokok batangan layaknya pelanggan lain di warung kopi tersebut. Rokok mereka tidak biasa. Tidak berbungkus kotak. Tapi berbentuk tabung tinggi nan ramping yang dilengkapi dengan selang mungil tempat menghisap. Rokok mereka adalah Sisha.
Sisha, atau nama lainnya adalah
Hookah adalah salah satu bentuk rokok yang berasal dari Timur Tengah. Dalam bahasa Persia, Sisha/Hookah ini berarti gelas piala. Sisha ini
berbeda dengan rokok kebanyakan yang berisi tembakau kering, dalam bong (tabung
untuk rokok sisha) berisi tembakau cair.
Salah seorang penjual sisha yang ditemui The Globe Journal di Five Corner, Ikhsan, mengatakan bahwa sisha ini berbeda dari rokok yang dijual secara umum di pasaran. “Dia diisi dengan tembakau cair ke dalam bong. Tembakaunya lebih halus dan basah. Kalau mau coba tembakaunya ada tu di belakang, manis tembakaunya,” ujarnya, Jum’at (12/8).
Ternyata menghisap sisha juga punya
kenikmatan dan cara sendiri. Menurut Ikhsan, satu bong sisha biasanya dipesan
untuk dihisap beramai-ramai. “Ngisap sisha ya ramai-ramailah. Kalau ngisap
sendiri juga puyeng jadinya,”serunya sambil melemparkan senyum. Dia juga
menyebutkan aneka ragam rasa sisha yang bisa dipesan, sesuai dengan keinginan.
“Ada banyak rasa, ada capucino, anggur, strawberry, bubble gum, mint,”sebutnya.
Biasanya diluar bulan Ramadhan, permintaan sisha ini ramai di malam Sabtu dan malam Minggu. Sehingga dengan enam bong yang mereka sediakan, kadang kala harus membuat para penyuka sisha mengantri hingga bong sisha tersebut kosong. “Biasanya kalau pas ramai, mereka harus ngantri dulu. Tunggu orang yang sudah selesai baru kita kasih giliran. Tapi kalau Ramadhan kita belum tau lagi, soalnya malam ini baru buka selama Ramadhan,” katanya.
Malam mulai mendekati pertengahan
ketika The Globe Journal masih berbincang mengenai usaha yang ditekuni oleh
Ikhsan. Ternyata Ikhsan tidak melakoni usaha itu sendirian, dia mengajak temannya,
Ade untuk bergabung bersamanya. Satu bong sisha ini mereka beli seharga Rp
600.000,-.
Saat ini, di Five Corner sendiri ada enam bong sisha yang siap untuk
di pesan oleh para penyuka rokok ala Timur Tengah tersebut. Harganya juga tidak
menguras kantong. Untuk satu bong sisha yang dinikmati selama 30 menit
tersebut, para pelanggan hanya merogoh kocek Rp 30.000,- saja.Mau coba?
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas