THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Simpang Lima pun Menjadi Panggung Made


Simpang Lima pun Menjadi Panggung Made
M. Nizar Abdurrani | The Globe Journal
Senin, 17 Oktober 2011 00:00 WIB
Banda Aceh — Hari lumayan terik, puluhan aktivis lingkungan berbaju putih bertuliskan kampanye lingkungan memenuhi bundaran Simpang Lima Banda Aceh. Hari itu, Senin (17/10) anak-anak muda yang tergabung dalam Sahabat Walhi, Forum Orangutan Aceh (FORA), KuALA dan SILFA mengadakan aksi damai. Asyiknya lagi, aksi hari itu dimeriahkan oleh Made, penyanyi reggae lokal yang meneriakn slogan-slogan penyelamatan lingkungan. Simpang Lima praktis menjadi panggung milik Made di pagi yang hangat itu.

Made bukan orang Bali, Ia Aceh tulen, nama aslinya pun cukup religius, Ramadhan Moeslem Arrasuly. Ntah apa alasannya ia memakai nama panggung Made, yang jelas kawanan musiknya pun diberi nama Made In Made. Lagu reggae yang dinyanyikan bikin tambaha tambah semangat para demonstran muda.

Simpang Lima dipenuhi pengguna jalan, polisi lalu lintas, polisi Dalmas, awak media dan tatapan dari pengunjung kafe yang terletak di seputaran bundaran paling ngetop di Ibukota propinsi ini. Wahana Lingkungan Hidup Aceh (WALHI) menyelenggarakan aksi damai dengan tema “Pulihkan Aceh, Kembalikan Hak Rakyat Atas Lingkungan Hidup”. Tema ini bukan sembarangan saja dipilih, tema ini menunjukan betapa parah kondisi alam sehingga perlu dipulihkan.

Made benar-benar menunjukan kelasnya sebagai penyanyi reggae kawakan. Bukan hanya suaranya yang khas terdengar tetapi juga goyangan badannya sesuai dengan irama musik membuai peserta aksi ikut bergoyang. Tiga lagu dibawakannya, semua tentang lingkungan. Lagu pertama Saleum Damai (aksi Walhi Damai) jadi pembuka aksi.

Setelah orasi yang diteriakan oleh Direktur WALHI Aceh, Koordinator Jaringan KuALA dan sejumlah aktivis lainnya, Made pun kembali unjuk kebolehan dengan lagu keduanya berjudul Negeriku (Abis Batere), sebuah lagu yang menyampaikan pesan betapa letihnya masyarakat meminta keadilan hingga nyaris kehabisan energi (habis baterai).

Made bukan penyanyi karbitan yang tiba-tiba muncul berteriak-teriak peduli. Dirinya mulai tergugah memikirkan kondisi lingkungan setelah melihat betapa dahsyatnya bencana tsunami menghancurkan Aceh termasuk lingkungannya. Perawakannya cukup mendukung performanya, berbadan ramping, lincah, dengan topi  ala gangster-nya, benar-benar unik. Made sudah mengeluarkan album kompilasi “Alam dan Lingkungan” pada tahun 2010 lalu.

“Saya udah pernah tampil di Indonesia Reggae Festival, Mei 2011 lalu. Yang sponsori Walhi Aceh dan Walhi Nasional,”ujarnya ketika mengobrol usai aksi. Penampilannya cukup menguras tenaga, di bawah panas pagi yang lumayan terik, apalagi “panggungnya” pun cukup luas, meliputi bundaran Simpang Lima.

Made sangat mendukung pelestarian lingkungan. Dari Aceh ia menyampaikan pesan kepada orang-orang di dunia bahwa menjaga lingkungan sangat penting. “Lagu terakhir yang nyanyi tadi judulnya messages from Aceh People to World, isinya pesan dari orang Aceh agar masyarakat dunia peduli lingkungan,”sambungnya.

Seandainya saja aksi ini dilakukan di sore hari, tentunya dapat berjalan lebih lama. Tampaknya semua menikmati. Setidaknya tidak ada polisi yang memunculkan wajah garang sebagaimana lazimnya menjaga aksi. Apalagi belakangan aksi unjuk rasa di Banda Aceh berjalan keras.

Bundaran Simpang Lima hari itu menjadi panggung milik Made. Ia bergerak dengan lincah kesana-kemari, memegang gitar, menggapai langit dan menyapa para pelintas.    







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close