THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Sadli Menjual Bendera Karena Cita-cita


Sadli Menjual Bendera Karena Cita-cita
Riza Fakri Ismail l The Globe Journal
Sabtu, 30 Juli 2011 00:00 WIB

Lhokseumawe — Hari itu, Sabtu (30/7), jarum jam masih menunjukkan angka 08.50 WIB, tapi panasnya sengatan matahari sudah terasa di bumi. Di simpang jam Lhokseumawe, atau tepatnya di depan sebuah gedung bank daerah, seorang lelaki tua sedang mengatur puluhan bendera yang siap dijajakan untuk para pelintas jalan di kawasan tersebut.

Setiap mendekati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, setiap tahunnya, lelaki itu menjalankan profesinya sebagai penjual bendera. Dengan telaten lelaki itu mengatur rapi bendera- bendera itu. Sebuah peci menutupi kepalanya.  

“Saya jual bendera ini karena cita-cita,” ujar D. Sadli Puteh, sang lelaki tua itu kepada penulis.  “Karena saya bangga dan menghormati Hari Kemerdekaan 17 Agustus,” katanya kembali memberi alasan. “Saya punya cita-cita ingin jual bendera ini sejak tahun 1979, tapi baru terwujud pada tahun 1981,” sebut ayah dari sepuluh putra-putri ini yang sempat merasakan zaman penjajahan Jepang ini.

Dari jualan bendera tersebut, D. Sadli Puteh bisa merogoh untung sebanyak Rp. 20.000 per hari. “Itu rata-rata per hari yang bisa saya dapat,” tandasnya. Meskipun usia nya sudah menginjak angka 73 tahun, tapi melihat semangatnya, sepertinya masih bisa dibilang kalau lelaki itu masih berusia 37 tahun. Kebalikan dari usianya.

Jual bendera, bukan satu-satunya pekerjaan yang dia tekuni. “Saya jual bendera, biasanya dari tanggal 28 Juli tiap tahunnya sampai tanggal 16 Agustus,” ujarnya. Setelah tanggal tersebut, D. Sadli Puteh kembali kepada rutinitas hariannya sebagai seorang nelayan. “Kalau di nelayan saya bisa dapat pendapatan perharinya sebanyak Rp. 50.000,” kata warga Ulee Jalan, Lhokseumawe ini.       

Karena cita-cita nya ingin mejual bendera, D. Sadli Puteh rela meninggalkan profesinya sebagai nelayan, yang untungnya sendiri lebih besar. “Kalau jual bendera ini, saya lebih kepada rasa bangganya,” ucap D. Sadli Puteh, yang juga pernah menjadi buruh bongkar muat kereta api di Lhokseumawe sekitar tahun 1959.

“Insya Allah, dengan pekerjaan sebagai nelayan saya bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anak saya. Salah satu anak saya kerja di situ,” ucapnya seraya jarinya menunjuk ke arah sebuah bank daerah yang ada di perempatan itu. 

Kalau bisa dibilang, sembari mengambil contoh lelaki tua itu. “Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang.” Apalagi seseorang menjalankan suatu akivitasnya karena sudah menjadi cita-cita atau impiannya sejak dulu. Ya seperti lelaki tua itu !     







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close