SerambiFeaturePemuda Kampung Diburu Polhut, Dikepung Narkoba
Pemuda Kampung Diburu Polhut, Dikepung Narkoba
Muhajir Juli I The Globe Journal
Selasa, 01 November 2011 00:00 WIB
Jarum jam menunjukkan angka 06.30 WIB. Cuaca agak mendung. sebuah truck Colt diesel berhenti di depan sebuah warung di sebuah gampong agak pedalaman di Kecamatan Juli. Rahmat (20) bergegas mengambil tas usangnya yang diletakkan diatas meja warung kopi.ia menuju truck tadi. Terlihat dia sejenak terlibat perbincangan serius dengan sopir truck itu. Sesekali mata sang sopir melirik ke arah penulis yang sedang duduk sambil menikmati secangkir Jahe Merah panas.
Sejurus kemudian, sang sopir nampak mengumbar senyum kearah penulis. Dua menit kemudian, kami bertiga sudah berada di dalam truck tadi. Dengan tenang sang sopir menyetir mobil yang masih tergolong baru itu.
"Dari koran mana bang," tanya sang supir "The Globe Journal bang, media online," jawab penulis sambil tersenyum "Kenapa mau menulis tentang pekerjaan kami bang," tanyanya lagi "karena saya menilai pekerjaan yang anda lakukan itu sangat menarik," Jawab penulis. "Okelah bang, tapi tolong jangan tulis nama kami dengan sebutan yang benar, kemudian lokasi tempat kami bekerja juga harus abang rahasiakan, karena kami yakin apa yang kami lakukan tidak haram. Lagipula kami tidak punya pekerjaan lain," kata sang sopir mengingatkan. Setelah penulis berjanji, sang sopir nampak tersenyum.
Setengah jam kemudian, kami sampai di km 27 jalan Bireuen-Takengon. Nampak proyek pelebaran jalan negara yang dilaksanakan oleh salah seorang kontraktor terkaya di Bireuen sedang dipacu pengerjaannya. Saat kami tiba disana, jalan belum di tutup. Truck yang membawa kami bertiga meliuk-liuk diantara lumpur jalan. sang sopir nampak sibuk memainkan stiur. Dengan cekatan sang sopir berhasil menaiki tanjakan Cot panglima yang sudah kehilangan bentuk aslinya.
Setelah berhasil keluar dari jalan yang lebih mirip kubangan itu, sang sopir memacu kendaraannya dengan cepat. Dia harus sampai ke lokasi tempat mereka bekerja sebelum hujan turun. Mendung nampak masih jauh sekali bergantung di langit. Tiba di km 32, mobil berbelok ke arah kiri. memasuki areal perkebunan sawit. perkebunan tumbuhan penyedot air itu terhampar luas sekali. ban mobil yang menginjak batu-batu jalanan, membuat kami yang duduk di dalamnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, sesekali juga kedepan atau ke belakang. intinya, tak nyaman rasanya.
Rahmat menyulut sebatang rokok. Sambil menghisap batang kematian itu, dia menunjukkan kepada penulis hamparan lahan sawit milik salah seorang konglomerat di Bireuen. "lihat bang, sampai ke puncak gunung, lembah dan dataran biasa, telah dipenuhi oleh perkebunan sawit. yang saya tahu luas perkebunan sawit ini telah mencakup dua kecamatan yaitu Juli dan Peusangan Kemungkinan tiga kecamatan. Sebab Peusangan Selatan juga langsung berbatasan dengan hutan ini," Kata Rahmat sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya dengan bulatan bulat.
Mobil terus merangkak. Kami telah melewati jembatan yang membentang di atas krueng Tumbo. Konon katanya, air sungai ini sangat dingin sekali. Seperti di dalam kulkas. Letak sungai tersebut tepat sekali di tengah-tengah areal perkebunan sawit. Namun sayang, kami tidak berhenti disitu. Sebab rahmat dan sang sopir yang namanya enggan untuk dituliskan, harus berburu dengan waktu. Penulis sempat mengabadikan krueng Tumbo dengan kamera handphone. Namun sayang kualitas gambarnya jelek sekali.
Setelah sungai kami lewati, sekarang jalan mendaki harus kami naiki. Dengan hentakan trnasmisi satu, truck mengepulkan asap hitam. ban mencengkeram tanah. Dengan raungan suara yang agak garang, mobil itu mendaki jalanan yang agak basah. Tiga menit kemudian, kami berhasil mendaki jalanan yang menanjak serta sangat jelek itu. sang sopir nampak lega. Kemudian dia kembali mengebut di jalan tanah yang tidak berbatu. Sesekali ban belakang bergoyang ke kiri dan ke kanan karena jalanan agak basah.
Pukul 09.30 WIb, kami sampai di lokasi mereka bekerja. tanggal menunjukkan angka 30 Oktober 2011. Seorang lelaki paruh baya telah menunggu di pinggir jalan. Dia terlihat sedang memasang rantai pemotong mesin Shin Saw. lelaki itu tersenyum ke arah penulis. "Pekerja baru ya?," tanya lekaki itu kepada sang sopir. Si sopir hanya tersenyum. Kemudian kami memasuki areal hutan. Hutan tidak lagi lebat. pepohonan besar sudah tidak nampak lagi. Yang mendominasi hanyalah pohon-pohon yang besarnya seukuran tiang listrik. Menurut keterangan dari mereka, pepohonan besar di daerah mereka bekerja sudah habis ditebang oleh penebang liar. Mereka juga mengatakan, sebentar lagi tempat mereka bekerja akan menjadi lahan sawit milik pengusaha kaya.
"Kami menebang yang seukuran tiang listrik. Kami pilih yang lurus-lurus. nanti setelah di tebang, akan di potong menjadi bagian-bagian sepanjang 1, 25 meter," Kata sopir sambil menghidupkan mesin . Setelah mesin hidup, sopir itu mulai menebang. Sebatang di potong, sebatang pula di cincang. rahmad dan kawan satunya lagi, dengan cepat mengangkut potongan-potongan pendek itu ke dalam truck. Penulis hanya memperhatikan mereka bekerja. Sesekali penulis memotret. Sesuai dengan perjanjian, Penulis hanya memotret mereka yang sedang bekerja dari arah belakang. agar wajah mereka tidak dikenali.
Menurut Rahmat, Profesi menebang kayu-kayu kecil di hutan dan kemudian menjualnya kepada siapa saja yang membutuhkan merupakan pekerjaan hampir semua pemuda di gampongnya. Bilapun ada yang bekerja di sektor lain, tetap saja yang menjadi pilihan pekerjaan adalah banting tulang juga seperti buruh bangunan dan buruh muat pasir di sungai. Bilapun tidak mau melakukan pekerjaan seperti itu, maka pilihan lain pun tidak tersedia. Sebab sekolah dan pengetahuan mereka tidaklah tinggi.
bekerja sebagai penebang kayu bukanlah tidak mengandung resiko. Ketakutan akan ditangkap oleh Polisi maupun Polisi Hutan (Polhut) tetaplah melintas di pikiran mereka. Namun hidup harus terus berlanjut, dan bila tanpa uang di kantong, maka waktu akan berhenti berdetak untuk mereka. Menurut pengakuan sopir, Polhut dan Polisi tidak pandang bulu kalau melakukan penangkapan terhadap pemotong kayu rimba. Mereka tidak akan membedakan antara penebang kayu kecil seperti untuk kayu bakar industri bata, penebang kayu untuk gagang sapu seperti mereka serta penebang kayu untuk bahan bangunan maupun cukong yang merusak hutan dengan mengandalkan bekingan. Malahan untuk cukong lebih mudah lagi, mereka cukup membayar sekian rupiah saja, maka pekerjaan bisa diteruskan, asalkan jangan di depan polisi dan Polhut.
Saat ditanya, untuk apa mereka memotong pohon kayu ukuran sebesar tiang listrik. Sopir yang sekaligus toke bagi Rahmad itu menjawab untuk kebutuhan bahan baku gagang sapu. Mereka menjualnya kepada tengkulak yang ada di Bireuen. dengan harga per batang sapu Rp 500,00. Biasanya, dalam satu potong kayu yang mereka jual, menghasilkan sekitar 5 batang gagang sapu. Berarti 1, 25 meter itu, mereka mendapatkan Rp. 2.500,00. kalkulasi secara umum, satu truck Colt Diesel 6 roda, mereka menjualnya kepada tengkulak sekira Rp 1.000.000,00.
"Dari harga itu, kami mendapatkan upah sebesar Rp 70.000 sampai Rp 80.000 per trip. Sedangkan makan siang ditanggung sopir yang merangkap toke. Bila cuaca hujan, maka penghasilan kami akan berkurang. sebab yang di hitung bukan jumlah hari, tapi trip mobil," Kata Rahmat.
Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Rahmat dan kawan-kawan, selain aparat keamanan seperti Polisi dan Polhut, cuaca yang kurang mendukung, menjadi tantangan tersendiri. namun, Manusia yang berseragam Polisi dan Polhut tetaplah musuh utama. Sebab, bila berhadapan dengan "hamba hukum" itu, yang menentukan bebas atau ditangkap adalah dari jumlah Rupiah yang mampu diberikan. Sebab, dari pengalaman sebelumnya, banyak pekerja disektor informal yang dianggap ilegal ini yang telah menjadi korban kebuasan hukum yang tidak pandang bulu.
"Banyak yang sudah ditangkap. namun banyak pula yang dibiarkan bebas. yang tidak mampu menyogok akan ditangkap. Yang mampu akan bekerja," Sebut sopir tanpa mau merincikan siapa yang telah dibebaskan dan siapa polisi yang berkelakukan seperti itu.
Saat ditanya berapa jumlah armada yang bekerja di hutan selama ini, Rahmat mengatakan ada sekitar 11 unit truck Colt. namun yang memotong kayu untuk gagang sapu hanya mereka saja. Sedangkan yang lain bekerja untuk mengumpulkan kayu bakar.
Hal tersebut dibenarkan oleh Sopir. Dia merincikan, truck yang lain mengambil kayu apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk industri bata. Tentu harganya lebih murah, sekira Rp 750.000 sampai Rp 800.000 per truck. Sedangkan ongkos kerja per trip Rp 50-70 ribu per trip. Namun, menjual kayu bakar untuk industri bata memiliki tantangan yang lebih besar lagi, yaitu bahaya di tangkap polisi/ polhut serta tidak laku dijual
"memotong kayu bakar memiliki resiko lebih besar, selain terancam ditangkap, juga kadangkala tidak dibeli oleh pemilik usaha batu bata. Capek juga, terkadang satu trip bisa sampai empat hari baru laku,"terang Sopir yang mengaku pernah juga menjadi pemotong kayu bakar batu bata.
Saat disinggung mengapa hanya mereka yang memotong kayu untuk gagang sapu, dengan senyum yang dikulum, Rahmat mengatakan hal tersebut adalah taktik bisnis. Selain memang "lubang" yang harus dijaga, bila mengajak orang lain, berarti mereka telah menzalimi diri sendiri. Sebab toke penerima hanya satu. Walau rasa iba terkadang muncul dari lubuk hati, namun rasa untuk dapat terus bertahan, membuat mereka terpaksa sedikit menutup nurani. "Biarkan mereka bekerja sesuai dengan jalurnya, dan kami dengan lubang yang telah kami miliki. Membagikan lubang, bebarti merusak periuk sendiri," Kata Rahmat dengan menggunakan kalimat yang agak melankolis.
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Nazar (20) bukan nama sebenarnya. Menurut pemuda yang berdomisili di salah satu gampong di kemukiman Juli Selatan, para pemuda yang tidak sekolah di daerahnya menjadi serba salah. Tidak bekerja, maka tidak makan. Berarti juga keluarga akan ikut terlantar. Bekerja di hutan maka akan ditangkap. Sedangkan bila hendak bekerja disektor lain, mereka tidak punya kemampuan apa-apa.
"kami hidup di dekat hutan. kami besar juga dari hasil hutan. Orang tua kami dulunya bekerja di sektor ini. Lalu tiba-tiba kami dilarang bekerja di hutan. Yang lebih sakitnya, yang kecil di larang, pemilik modal bebas mengobrak-abrik hutan tanpa ada hukum yang mampu menghentikan mereka," Kata Nazar sambil menerawang.
Menurut lelaki yang tidak menamatkan Sekolah dasar tersebut, walaupun ada larangan untuk tidak mengeksloitasi hutan secara ilegal, namun dalam praktiknya, hutan semakin hari semakin rusak saja. Orang-orang berduit dengan leluasa bisa mengambil kayu hutan. mereka bahkan dibekengi oleh oknum Polhut dan Polisi. Yang lebih miris lagi, perkebunan sawit milik pengusaha semakin luas saja menusuk jantung hutan. Mereka dengan bebasnya menebang hutan dan menanami sawit.
"kebanyakan dari kami ibarat buya krueng taho teu dong-dong, buya tamong meuraseuki. Hutan di dekat kami dirusak oleh orang lain untuk ditanami sawit, kami di tangkap bila kedapatan memotong kayu hutan," imbuh Nazar.
Baik Rahmat maupun Nazar, mereka sama-sama mengatakan, akibat diskrimniasi dan ketidak adilan, banyak pemuda gampong di wilayah mereka yang sekarang menjadi pengangguran. Tidak sedikit yang mencoba peruntungan dengan merantau ke luar Bireuen. Ada juga yang keluar negeri seperti Malayasia. Namun dengan tanpa bekal ilmu pengetahuan yang cukup, kebanyakan dari mereka yang kembali ke kampung halaman dengan cerita duka.
Narkoba Kian Marak
Bila dulu orang menilai tinggal di kota lebih berisiko rusak daripada tinggal di desa, maka untuk konteks sekarang hal tersebut sudah berbalik 180 derajat. Sebab narkoba sudah sedemikian merasuki kehidupan pemuda-pemuda yang tinggal dipedalaman. Ganja begitu mudah didapatkan. Shabu-shabu sudah menjadi trend baru cara "bercandu" yang lebih terhormat dikalangan pemuda gampong.
Muslim (19, bukan nama sebenarnya) kepada The Globe Journal, selasa (1/11) mengatakan bahwa ganja dan shabu-sahabu sudah begitu menyatu dengan kehidupan pemuda gampong. Khusus untuk kawasan Juli Selatan, shabu-shabu, skor bola, sepeda motor bodong serta ganja, sudah menjadi trend hidup sebagian pemudanya. terhitung Gampong Teupin Mane, Beunyot, Pante baroe, Paya Cut, Krueng Simpo, dan Seuneubok Dalam, merupakan kawasan yang paling banyak beredar hal-hal tadi.
Menurutnya, "budaya" pemakaian narkoba sudah sedemikian mendarah daging, sampai-sampai sebuah pesta perkawinan, bila sang empunya rumah tidak menyediakan ganja, maka resiko untuk ditinggalkan oleh pemuda lumayan besar. Mereka tidak akan meramaimaikan hajatan itu, sebab mereka menilai, sang empunya rumah tidak ramah dan terkesan sombong.
Sehingga, sekarang ini, banyak yang membagikan ganja di acara pesta perkawinan. "Hal ini biasanya khusus kepada rumah yang mempunyai pemuda dirumahnya. Maka menjadi kewajiban bagi di pemilik rumah untuk menyediakan ganja. Kalau tidak dia akan dianggap tidak gaul dan kuno," Kata Muslim.
Muslim sendiri pernah menjadi bagian dari pemakai ganja. Namun dia belum pada tahap kecanduan. Pun demikian, dia sudah pernah ditangkap oleh oknum Polsek Juli. Dia baru bebas setelah membeyar sejumlah uang. Setelah itu, dia mengaku kapok dan tobat.
Polisi selama ini terus berupaya melakukan penangkapan terhadap para pemakai dan pengedar narkoba, namun seperti diketahui bersama, mereka tidak benar-benar memberikan hukuman kepada mereka. Hukuman akan diberikan sesuai dengan jumlah Rupiah yang di bayar.
"Mereka kerap menangkapi pemakai narkoba, namun satu dua hari kemudian kembali dibebaskan setelah pihak keluarga melakukan penebusan. Tentu Selain meminta tebusan, setiap melakukan pengakapan, mereka akan
menginterogasi sambil memukul. akhirnya daftar nama baru akan menjadi ATM mereka selanjutnya," Kata Nazar yang mengakui bahwa salah seorang keluarga dekatnya pernah ditangkap dan diperlakukan demikian.Nazar mengakui, maraknya beredarnya ganja dan kejahatan lainnya di kalangan pemuda di kemukimannya itu, diakibatkan ketiadaan aktivitasyang positif. jangankan pekerjaan yang layak, para pemuda yang tinggal dipedalaman, lapangan untuk berolah raga saja tidak tersedia bagi mereka.
"kami terpojok bang, satu sisi kami tidak punya pekerjaan. Di satu sisi lagi seolah kami diabaikan. akhirnya banyak yang frustasi dan melarikan diri ke hal-hal yang negatif," terang Nazar setengah mengeluh.
baik nazar, Muslim maupun Rahmat berharap pemerintah mau melihat kondisi mereka. Selama ini para pemuda yang tinggal disekitar hutan dan dilahirkan dari keluarga yang hidup dari hasil hutan, telah berada dipersimpangan jalan. Tak ada pekerjaan, dikepung narkoba. Akhirnya, mereka terpuruk. Pemuda kehilangan arah. ***.
Matahari sore Senin telah berada di pucuk-pucuk. Rahmat dan sopirnya tidak berhasil membawa kayu keluar hutan. Hujan deras yang turun dari langit Minggu serta disambung pagi Senin sampai siang, telah membuyarkan harapan mereka untuk mendapatkan sedikit uang. Mobil terpaksa ditinggalkan di hutan.
sambil menikmati kopi pagi Selasa di warung tempat Rahmat sering mangkal, The Globe Journal mengusuk kaki yang terasa sakit karena berjalan kaki sejauh 10 km. Rahmat hanya tertawa melihat tingkah penulis. Sebuah tawa yang mengandung makna lebih dari satu. yang pasti, pagi ini dia tidak mengantongi uang di kantong, sebab hujan telah menunda penghasilannya. Setelah puas bercakap-cakap, penulis mohon diri untuk kembali ke Bireuen. salam hangat dengan senyuman tulus dari Rahmat dan sopir turut menyertai penulis.
Jarum jam menunjukkan angka 18.00 WIB. tanggal masih saja pada 1 November 2011. Sebuah e-mail masuk. "Bang, photonya ketinggalan di HP saya. ini saya kirimkan lagi. saya sekarang di Bireuen sedang buka facebook, terimakasih telah mau meliput kehidupan kami. Wassalam,". rupanya anak gunung kenal fesbuk juga ya. Alamak.
Redaksi: Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25