THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Pembangunan Best Western Hotel Dikhawatirkan Rusak Landmark Banda Aceh


Pembangunan Best Western Hotel Dikhawatirkan Rusak Landmark Banda Aceh
Alfan Raykhan Pane | The Globe Journal
Rabu, 28 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Polemik pro-kontra perihal rencana pembangunan hotel dan mall berlantai 12, Best Western Hotel dan Mall ditanggapi oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Yudi Kurnia. Ia mengatakan secara prinsip pimpinan dewan sudah menyetujui dan merekomendasikan rencana pembangunan Best Western Hotel dan Mall yang direncanakan dibangun di bekas Geunta Plaza atau tepatnya sekitar 200 meter sebelah tenggara Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

“ Iya, kami para pimpinan sudah menyetujui dan merekomendasikan pembangunan hotel dan mall tersebut, dikarenakan pembangunan itu sangat positif untuk mendukung konsep Banda Aceh sebagai bandar wisata Islami,”ujarnya Kamis, beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, saat ini banyak wisatawan dalam negeri yang berkunjung ke Banda Aceh ingin bisa menunaikan sholat tahajud di Mesjid Raya Baiturrahman, namun tidak ada hotel yang representatif disekitar areal mesjid. “ Banda Aceh butuh hotel yang representative dikawasan dekat Mesjid Raya,” jelasnya.

Pemerintah Kota Banda Aceh sudah menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk pembangunan Best Western Hotel dan Mall, yang memiliki semboyan 'Low rates, great value at 4000 Best Western Hotels worldwide' dengan nilai investasi Rp.200 Miliar. Namun belum diketahui kapan bangunan itu akan segera berdiri. Beberapa kalangan tampaknya sudah menunjukkan penolakan terhadap pembangunan hotel itu. 

Menurut Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin di Banda Aceh, akhir pekan lalu, hotel itu nantinya 12 lantai dengan tinggi 45 meter, merupakan bangunan hotel yang termegah di ibukota Provinsi Aceh. Keberadaannya diharapkan walikota dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan menggerakkan sektor-sektor lainnya.

Sebenarnya, menurut Mawardy Nurdin, IMB untuk hotel dan mall itu sudah lama diberikan, hanya saja terbentur dengan peristiwa tsunami. Dia juga tidak khawatir bangunan hotel dan mall itu nanti akan merusak landmark Kutaradja ini yakni Mesjid Raya, termasuk dampak lingkungannya, sebab Amdal untuk bangunan itu sudah melalui analisis dan sudah terbit.

Sementara itu, Safuan Yusuf, Representatif PT Intiland sebagai developer Best Western Hotel dan Mall menjelaskan proses pengurusan Amdal sudah lebih dari 10 bulan dari yang seharusnya hanya tiga bulan. "Namun kami taat pada aturan dengan mendahulukan dokumen Amdal," ungkapnya.

Dijelaskannya, pihaknya optimis bahwa pembangunan ini tidak akan mengganggu landmark Masjid Raya Baiturahman, dan bahkan justru mall dan hotel ini akan memperkuat dan memperindah posisi masjid kebanggaan rakyat Aceh sebagai sentrum kota.

Menurutnya, dalam pandangan pimpinan dewan, keberadaan hotel dan mall tersebut tidak melanggar aturan tentang tata ruang ataupun peraturan lainnya, dan selain itu juga pembangunannya akan berdampak terhadap gerak laju ekonomi di kota ini. "Kehadiran hotel dan mall tersebut kita harapkan akan semakin memacu roda pertumbuhan ekonomi di Banda Aceh terutama dalam sektor industri jasa,” tukasnya.

Pembangunan hotel dan mall yang menelan investasi 200 milyar tersebut direncanakan dibangun setinggi 42 meter dengan 12 lantai. Pihak pengembang menjanjikan bahwa konsep hotel tersebut adalah hotel Islami dan nantinya akan dibangun jembatan penghubung dari Mall ke Masjid Raya Baiturahhaman Banda Aceh.






    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close