Bireuen - Perintah jaga malam boleh jadi sudah dikeluarkan jauh-jauh hari oleh pihak-pihak yang merasa dirinya pengambil keputusan. Namun persoalan patuh atau tidak, itu urusan belakangan. Inilah warni-warni jaga malam yang sempat dikumpulkan oleh The Globe Journal dibeberapa kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Iskandar (45) warga salah satu gampong di kecamatan Juli sedang membaca daftar nama warga yang bertugas melakukan pengamanan swakarsa yang ditempelkan di dinding kedai tempat dia menikmati kopi siangnya. Dia tersenyum ketika menemukan namanya tercantum sebagai petugas jaga pada Sabtu malam.
Sesaat kemudian lelaki beranak tiga ini kembali duduk. Disulutnya sebatang rokok. "Ah sial benar tinggal di Aceh. Bila ada pembesar yang berseteru dan saling serang, maka kita rakyat yang harus jaga malam," celetuk Iskandar.
Kemudian kepada The Globe journal, Minggu (5/2) Iskandar melanjutkan, model jaga malam oleh masyarakat seingatnya sudah dilaksanakan sejak daerah ini tidak aman. Dia ingat, ketika isu GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) di tahun 90-an begitu gencar, warga yang awam politik diperintahkan untuk jaga malam.
Waktu itu Iskandar masih lajang. Dia masih ingat bila sering sekali petugas ronda tak pernah lagi pulang ke rumah karena sudah "dijemput" oleh orang-orang bersenjata yang terkadang datang dengan cakap Indonesia dan terkadang pula menggunakan bahasa Aceh.
Sekarang jaga malam yang "setengah" memaksa itu terulang lagi. Di saat Aceh sudah dinyatakan aman dalam bingkai NKRI. Perintah yang ditandatangani oleh Kapolsek, camat dan Danramil disetiap kecamatan itu kembali datang. Bedanya, bila dimasa DOM langsung berisi surat perintah, sekarang sifatnya “seruan bersama” namun mau tidak mau harus tetap dilaksanakan.
"Jaga malam dulu dimasa DOM, sering petugas jaga malam tak pernah pulang lagi kerumah karena sudah dijemput oleh orang-orang bersenjata," kisah Iskandar mengenang masa lalu.
Hal yang sama juga diutarakan oleh Ishak bin Ismail. Menurut petani yang tinggal di gampong pedalaman Juli tersebut, dia yang sekarang sudah berumur 70 tahun lebih, sudah pernah merasakan pahit getirnya jaga malam.
Menurut lelaki yang hidup di 3 bendera itu, seingatnya yang namanya jaga malam di Aceh selalu diadakan bila para pembesar berseteru. Dulu jaga malam ketika DI/TII berkonfontasi dengan Soekarno, kemudian ketika GPK (GAM) berseteru dengan Soeharto, selanjutnya masa darurat militer di Aceh. Seingat lelaki yang giginya sudah ompong itu, masa DOM dan daruratlah, masa paling kelam bagi para Pam Swakararsa.
"Saya tidak begitu ingat masa DI/TII Daoed Beureueh. Yang paling saya ingat adalah masa DOM dan darurat. Walau saya sendiri tidak menjadi sasaran amuk kaum bersenjata, namun teman-teman saya ada yang dianiaya kemudian dibawa pergi. Besoknya pasti akan ada jenazah yang akan dilemparkan dipinggir jalan,"kenang Ishak
Bagi Ishak, perintah jaga malam tak ubahnya seperti pepatah Aceh "Keubeu meupok, mate cangguk saboh paya". Artinya bila ada dua kelompok besar yang berseteru, rakyat kecil dan lemah yang akan jadi korban.
Kejadian itu kembali terulang. Lewat seruan bersama Muspika, pemaksaan dengan model halus kembali diterapkan. Sehingga semua gampong mau tak mau, suka tak suka, harus mengikuti himbauan raja-raja kecil.
"Pakon han calon Guibernur nyan nyang jaga malam. Atau awak Dewan pakon han dijaga malam, keupu bak kamoe, polisi pubut jih dum..? pu pajoh gaji buta mantong...? bek nyang na carong peubangai ureueng gampong,"protes Ishak dengan bahasa Aceh yang agak keras. Gubernur sengaja diplesetkan menjadi Guibernur, artinya calon penguasa yang suka menjambak rakyat.
Saat ditanyai oleh The Globe Journal, Senin (6/2) apakah dia masih mendapatkan tugas jaga malam, Ishak menjawab tidak. Tapi putra sulungnya mendapatkan "mandat" itu. Dia merasa risau. Sebab dentuman peluru dan ledakan granat belum berhenti di Aceh. dia takut putra tercintanya akan menjadi korban. Sebab para pembunuh biadap itu tidak pernah membedakan calon korbannya. Siapapun akan di cabut nyawanya, asal maksud dan tujuan para pengkhianat itu tercapai.
"saya takut nak, walau saya tidak lagi jaga malam karena faktor usia, namun putra saya mendapatkan tugas itu. Saya takut dia akan menjadi sasaran pengkhianat yang menimba darah di tanah rencong," keluhnya.
Selain ketakutan dan ketidak senangan warga terhadap seruan jaga malam, juga banyak warga yang ikut jaga malam bila mangat pruet saja. Hal ini terlihat di beberapa gampong di Kecamatan Peusangan. Jam 00.00 WIB banyak pos jaga di daerah pedalaman yang sudah kosong.
Armia (46) salah seorang warga Peusangan yang ditemui oleh The Globe Journal Sabtu (5/2) mengatakan bila warga di gampongnya hanya melakukan jaga malam sampai pukul 00.00 WIB. Setelah jam menunjukkan angka 01 dinihari, mereka akan beranjak pulang
Alasan yang dilontarkan oleh Armia sangat sederhana. "Untuk apa jaga malam bila maling pun ikut jaga malam. Yang kami takutkan bukan pencuri lembu, sebab mereka tak pernah lagi beraksi, namun yang mengerikan pencuri nyawa," kata Armia sambil menyulut rokok kreteknya yang berlambang angka. “Kami jaga malam kalau pruet mangat mantong. Jam-jam 00.00 WIB atau pukul 01 dinihari, kami sudah pulang kerumah,” sambung Armia
Dalam surat seruan bersama Muspika Kecamatan Peusangan yang ditandatangani oleh tiga raja kecil di daerah itu yaitu Camat peusangan Anwar. BA, Danramil 06/PSG Kapten Arani dan Kapolsek Iptu Syarifuddin bertanggal 16 januari menyebutkan bahwa tujuan jaga malam adalah akibat meningkatnya angka kriminalitas di Peusangan, perlu keamanan swakarsa dengan cara pengaktifan pos kamling. Dimulai tanggal 25 Januari pukul 20.30 sampai dengan 06.00 WIB.
Terkait isi seruan itu, Armia mempertanyakan atas dasar apa Muspika mengatakan angka kriminalitas di Peusangan meningkat? "Atas dasar Pak Camat dan teman-temannya itu mengatakan angka kriminalitas meningkat? Padahal kondisi ditengah masyarakat aman-aman saja," tanya Armia.
Muhazir Birly, salah seorang aktivis pro demokrasi di Bireuen mengatakan jaga malam seharusnya dilakukan oleh aparat keamanan yang memang punya mandat untuk itu. Apalagi ini terkait dengan pemilukada. Bukannya rakyat yang dipaksa untuk melakukan aktivitas di dalam gelap itu. Sebab yang mengacau ketertiban sekarang bukanlah maling ayam atau kambing, tapi maling nyawa yang bersenjata AK-47.
Ketika rakyat yang dipaksakan untuk melakukan pengamanan terhadap dirinya sendiri, aparat keamanan dan penguasa telah melakukan pembodohan publik. Padahal, aparat negara seperti polisi dibayar untuk memberikan rasa aman. Bilapun pemaksaan ini tetap dilanjutkan, Muhazir meminta agar disetiap pos ronda ditempatkan seorang polisi atau tentara.
Alasan paling simple diberikan oleh Isnawi (35) warga Juli. Menurut pedagang minyak ini, setiap timbul konflik dinegeri ini selalu saja rakyat menjadi tumbal. Padahal rakyat tidak pernah menebar benih. Nah karena tak pernah punya andil dalam sengketa politik, maka kita tidak usah melakukan jaga malam. Mari kita tolak.
"Setiap pejabat punya hajat selalu kami rakyat yang melarat. Saya siap kalau ada yang mengajak demo agar yang harus jaga malam itu calon gubernur dan anggota DPRA," kata Isnawi sambil membetulkan letak jerigen minyaknya.